Posted by KUTAI TOPOS JURUKALANG

PROFIL KUTAI TOPOS JURUKALANG


Kutai Topos atau dalam bahasa Indonesianya di sebut Tapus merupakan salah satu desa yang terletak di hulu sungai ketahun Kabupaten Lebong Propinsi Bengkulu,desa ini cukup subur dan berudara sejuk. Sehingga dengan alam seperti itu,penduduk yang 100% suku rejang ini kebanyakan bermata pencaharian tani,ada juga yang berdagang,pegawai negeri sipil,dan lain-lain...

Posted by KUTAI TOPOS JURUKALANG

TENTANG SUKU REJANG


Suku Rejang adalah salah satu suku tertua di pulau sumatera. Suku ini menempati daerah Lebong,Rejang Lebong,Bengkulu Utara,Kepahiang dan sebagian menyebar ke wilayah Propinsi Sumatera Selatan. Suku Rejang ini merupakan suku terbesar di propinsi Bengkulu,Indonesia....

Kamis

Teks pidato pelantikan Barack Hussein Obama

Rekan-rekan sebangsa dan setanah air:

Saya berdiri di sini hari ini terenyak oleh tugas di depan kita, berterima kasih atas kepercayaan yang Anda berikan, dan teringat akan pengorbanan oleh leluhur kita. Saya berterima kasih kepada Presiden Bush atas jasanya pada bangsa kita, dan juga atas kemurahan hati dan kerjasama yang ditunjukkannya pada masa transisi ini.

Sudah 44 warga Amerika yang diambil sumpahnya sebagai presiden. Kata-kata dalam sumpah jabatan itu telah diucapkan dimasa kemakmuran dan dimasa damai. Namun, ada kalanya sumpah jabatan kepresidenan itu diambil di tengah-tengah situasi gawat dan badai yang berkecamuk.

Pada saat-saat demikian, Amerika terus melaksanakan tugasnya bukan hanya karena ketrampilan atau visi mereka yang memegang jabatan tinggi, tetapi karena kita rakyat Amerika tetap setia pada cita-cita leluhur kita dan setia pada dokumen-dokumen yang dirumuskan oleh para pendiri negara kita.

Demikianlah adanya, dan memang selalu demikianlah yang harus dilakukan oleh generasi orang Amerika yang sekarang ini.

Memang sudah dipahami bahwa kita sedang berada di tengah krisis. Bangsa kita kini sedang terlibat perang, melawan jaringan kekerasan dan kebencian yang jauh jangkauannya. Ekonomi kita sangat lemah, akibat ketamakan dan tindakan tidak bertanggung jawab oleh sebagian pihak, tetapi juga karena kegagalan kita secara kolektif untuk membuat pilihan-pilihan sulit, dan kegagalan kita mempersiapkan bangsa bagi abad baru.

Banyak rumah yang disita, lapangan kerja menurun drastis, bisnis gulung tikar. Asuransi kesehatan kita terlalu mahal, murid-murid sekolah kita banyak yang gagal, dan setiap hari terlihat bukti bahwa cara-cara kita menggunakan energi justru memperkuat musuh-musuh kita dan mengancam planet kita.

Semua itu merupakan indikator krisis, yang didasarkan pada data dan statistik. Yang kurang bisa diukur tetapi tidak kurang pentingnya adalah melemahnya keyakinan di seluruh pelosok Amerika – kekhawatiran terus-menerus bahwa kemerosotan Amerika tak terelakkan lagi, dan bahwa generasi berikutnya harus mengurangi harapannya.

Hari ini saya katakan kepada kalian bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi adalah nyata. Tantangan ini serius dan banyak. Tidak akan mudah diatasi dan tidak bisa diatasi dalam jangka pendek. Tetapi ketahuilah ini, Amerika, semua tantangan ini akan kita hadapi.

Pada hari ini, kita berkumpul karena kita lebih memilih harapan daripada ketakutan, kesatuan tujuan daripada konflik dan pertentangan.

Pada hari ini, kita berkumpul untuk menyatakan berakhirnya keluhan-keluhan kecil dan janji-janji palsu, saling-tuduh dan berbagai dogma lusuh yang sudah terlalu lama mencekik politik kita.

Negara kita masih muda, dengan meminjam kata-kata dalam Kitab Suci, saatnya sudah tiba kita menepiskan sifat ke kanak-kanakan. Saatnya sudah tiba untuk menandaskan lagi semangat kita yang tegar, memilih jalan sejarah yang lebih baik, melanjutkan pemberian berharga, gagasan mulia yang diteruskan dari generasi ke generasi: yaitu janji yang diberikan Tuhan bahwa semua kita setara, kita semua bebas, dan semua layak memperoleh kesempatan untuk mengejar kebahagiaan sepenuhnya.

Dalam menandaskan kebesaran bangsa kita, kita memahami bahwa kebesaran tak pernah diberikan begitu saja. Mencapai kebesaran harus dengan kerja-keras. Perjalanan yang kita tempuh tak pernah mengambil jalan pintas. Perjalanan kita bukan bagi mereka yang tidak-tabah, bukan bagi mereka yang suka bermalas-malas daripada bekerja, atau bagi yang hanya mengejar kekayaan dan menjadi terkenal.

Perjalanan kita adalah bagi mereka yang berani mengambil risiko, mereka yang melakukan hal-hal baru dan membuat barang-barang baru. Sebagian mereka menjadi terkenal, tetapi acap kali laki-laki dan perempuan tak dikenal dalam pekerjaan mereka, yang telah mengusung kita di atas jalan berbatu-batu menuju kemakmuran dan kebebasan.

Demi kita, mereka mengemas harta milik mereka yang tak seberapa dan menyeberangi samudera untuk mencari kehidupan baru.

Demi kita, mereka banting-tulang dengan upah minim dan menetap di Pantai Barat, menahankan pukulan cambuk dan mencangkul tanah yang keras.

Demi kita, mereka bertempur dan mati, di tempat-tempat seperti Concord dan Gettysburg, Normandy dan Khe San.

Lelaki dan perempuan ini terus menerus berjuang dan berkorban dan bekerja hingga kulit tangan mereka mengelupas, agar kita bisa mengecap kehidupan yang lebih baik. Mereka melihat Amerika lebih besar dari jumlah ambisi kita secara perorangan, lebih besar daripada perbedaan status keluarga, atau kekayaan ataupun partai atau kelompok.

Perjalanan inilah yang kita teruskan hari ini. Kita masih merupakan negara paling makmur dan paling berpengaruh di Bumi. Para pekerja kita tidak kurang produktifnya dibandingkan dengan waktu ketika krisis ini dimulai. Otak kita masih seinventif seperti pada awal krisis ini, barang dan jasa kita masih diperlukan seperti pada minggu lalu atau bulan lalu, atau tahun lalu.

Kapasitas kita tetap tak berkurang. Tetapi masa kita untuk berdiam diri, melindungi kepentingan sempit dan menunda keputusan-keputusan yang tak menyenangkan, sudah harus berlalu. Mulai hari ini, kita harus bangkit sendiri, membersihkan debu yang menempel, dan mulai lagi bekerja memperbaharui Amerika.

Karena kemana saja kita melihat, ada yang harus kita lakukan. Keadaan ekonomi mengharuskan tindakan yang berani dan segera, dan kita akan bertindak bukan hanya untuk menciptakan lapangan kerja baru, tetapi untuk meletakkan dasar bagi pertumbuhan.

Kita akan membangun jalan dan jembatan, jaringan listrik dan jaringan digital yang menyuburkan perdagangan dan mengikat kita bersama. Kita akan memulihkan sains ke tempat yang selayaknya, dan menggunakan kehebatan teknologi untuk meningkatkan mutu perawatan kesehatan dan menurunkan biayanya.

Kita akan memanfaatkan tenaga matahari, tenaga angin dan lainnya untuk menjalankan mobil-mobil dan pabrik-pabrik kita. Dan kita akan mengubah sekolah dan perguruan tinggi dan universitas untuk memenuhi tuntutan era baru. Semua ini bisa kita lakukan. Dan semua ini akan kita lakukan.

Tentu, ada orang yang meragukan skala ambisi kita – dengan mengatakan sistem ekonomi kita tidak bisa mentolerir terlalu banyak rencana besar. Daya ingat mereka tidak cukup lama. Mereka telah melupakan apa yang dilakukan negara ini, apa yang bisa dicapai oleh laki-laki dan perempuan yang hidup bebas, apabila imajinasi digabung demi tujuan bersama, dan kebutuhan digabung dengan ketabahan.

Yang tidak dipahami oleh mereka yang sinis adalah tanah tempat mereka berpijak telah bergeser, bahwa argumen basi dalam politik yang telah begitu lama menyita waktu kita – tidak lagi berlaku. Pertanyaan yang kita ajukan sekarang bukan apakah pemerintah kita terlalu besar atau terlalu kecil, tetapi apakah pemerintah kita bisa berfungsi, apakah pemerintah bisa menolong para keluarga mencari pekerjaan dengan upah yang layak, asuransi kesehatan yang terjangkau, dan pensiun yang berarti. Apabila jawabannya – ya, kita berniat untuk terus bergerak maju.

Apabila jawabannya tidak, programnya akan dihentikan. Dan mereka yang mengatur uang rakyat akan dimintai pertanggung-jawabannya – supaya mengeluarkan uang secara bijaksana, mengubah kebiasaan buruk, dan melakukan bisnis kita dengan jujur – karena hanya dengan demikian kita bisa memulihkan kepercayaan penting antara rakyat dan pemerintah.

Kita juga tidak mempertanyakan apakah kekuatan pasar bebas itu baik atau buruk. Kekuatan pasar bisa membina kekayaan dan memperluas kebebasan kita. Tetapi krisis ini telah mengingatkan kita bahwa tanpa pengawasan yang ketat, kekuatan pasar bebas itu bisa terlepas dari kontrol, dan suatu bangsa tidak bisa makmur untuk waktu lama apabila hanya mementingkan orang kaya.

Keberhasilan ekonomi kita tidak hanya tergantung pada besarnya Produk Domestik Bruto, tapi seberapa jauh meluasnya kemakmuran itu, pada kemampuan kita memberikan kesempatan kepada tiap orang yang mau bekerja, dan bukan karena belas kasihan karena itulah jalan yang paling pasti guna mencapai kemakmuran bersama.

Mengenai pertahanan kita bersama, kita menolak dan menganggap palsu pilihan antara keselamatan dan idaman atau cita-cita kita. Para Pendiri Negara ini dihadapkan pada bahaya yang tak terbayangkan, menyusun sebuah piagam untuk menjamin supremasi hukum dan hak setiap orang, sebuah piagam yang diperkuat oleh perjuangan generasi demi generasi.

Semua cita-cita ini masih menerangi dunia, dan kita tidak akan meninggalkannya demi mencapai penyelesaian yang cepat. Karena itu, bagi semua orang dan pemerintahan yang menyaksikan pelantikan hari ini, mulai dari kota-kota yang termegah sampai ke desa kecil di mana ayah saya dilahirkan, ketahuilah bahwa Amerika adalah sahabat setia negara dan sahabat setiap lelaki, setiap perempuan, dan setiap anak yang menghendaki masa depan yang damai dan bermartabat, dan bahwa kita siap untuk memimpin lagi.

Ingatlah bahwa generasi-generasi sebelumnya menundukkan fasisme dan komunisme bukan hanya dengan misil dan tank, tetapi dengan aliansi yang kokoh dan keyakinan besar. Mereka memahami bahwa kekuatan saja tidak bisa melindungi kita, dan bahwa kekuatan itu tidak memberi kita hak berbuat sekehendak hati kita.

Sebaliknya mereka tahu bahwa kekuatan kita tumbuh melalui penggunaan yang bijaksana, keamanan kita berasal dari adilnya tujuan kita, kekuatan contoh yang kita berikan, dan kerendahan hati serta kesanggupan menahan diri.

Kita adalah penjaga warisan ini. Dibimbing oleh prinsip-prinsip ini, sekali lagi kita bisa menghadapi ancaman-ancaman baru itu yang menuntut upaya lebih besar, bahkan kerja-sama dan pemahaman lebih besar antar-negara. Kita akan mulai secara bertanggung jawab meninggalkan Irak kepada bangsa Irak, dan menempa perdamaian di Afghanistan.

Bersama teman-teman lama dan bekas saingan kita, Amerika akan bekerja tanpa lelah untuk mengurangi ancaman nuklir, dan mengurangi bahaya pemanasan bumi. Kita tidak akan minta maaf atas cara kehidupan Amerika, tidak akan goyah dalam mempertahankannya, dan bagi mereka yang hendak mendorong tujuan mereka dengan terror dan membantai orang-orang tak bersalah, kami katakan kepada mereka, semangat kita lebih kuat dan tidak terpatahkan, kalian tidak akan unggul dari kami, dan kalian akan kami kalahkan.

Kami sadar bahwa warisan bangsa yang beraneka warna adalah suatu kekuatan, dan bukannya sebuah kelemahan. Bangsa kita terdiri dari orang Kristen dan Islam, Yahudi dan Hindu, dan bahkan orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan. Kita telah dibentuk oleh campuran berbagai bahasa dan kebudayaan, yang berasal dari segala pelosok dunia.

Dan karena kita telah merasakan pahitnya perang saudara dan segregasi rasial, dan keluar dari masa kegelapan menjadi sebuah bangsa yang lebih kuat dan lebih bersatu, kita yakin bahwa pada suatu hari nanti semua rasa kebencian akan hilang, bahwa semua garis-garis pembatas antar suku bangsa akan luluh, dan bahwa dunia ini akan menjadi semakin kecil.

Kerendahan hati kita akan tampak dengan sendirinya, dan Amerika harus memainkan perannya dalam menyongsong era perdamaian yang baru.

Bagi dunia Muslim, kami akan mencari cara baru ke depan berdasarkan pada kepentingan bersama dan saling menghormati. Bagi para pemimpin dunia yang berusaha menanam bibit konflik, atau menyalahkan dunia Barat atas kesulitan-kesulitan yang dialami masyarakatnya, ketahuilah bahwa rakyat Anda akan menilai Anda pada apa yang Anda bangun, bukan pada apa yang Anda musnahkan.

Bagi mereka yang hendak menggenggam kekuasaan melalui korupsi dan kekejian dan membungkam orang yang tidak setuju pada kebijakan mereka, yakinlah bahwa kalian berada pada sisi yang keliru, tapi kami akan mengulurkan tangan jika kalian tidak lagi mengepalkan tinju.

Bagi rakyat negara-negara miskin, kami berjanji akan bekerja bersama kalian untuk membuat ladang kalian subur dan membuat air bersih mengalir, untuk memberi makan tubuh yang kelaparan, dan memenuhi kebutuhan mental.

Dan kepada negara-negara seperti negara kita yang relatif menikmati kemakmuran, kita tidak bisa lagi bersikap tidak peduli pada kesengsaraan di luar perbatasan kita, dan kita tidak bisa menghabiskan sumber-sumber dunia tanpa mempedulikan dampaknya. Karena dunia sudah berubah dan kita harus berubah dengannya.

Sambil kita mempertimbangkan jalan yang terbentang di depan kita, kita mengingat dengan rasa terima kasih orang-orang Amerika yang gagah berani, yang pada saat ini, berpatroli di gurun dan gunung yang sangat jauh. Ada sesuatu yang hendak mereka katakan pada kita hari ini, seperti yang dibisikkan sepanjang masa oleh para pahlawan kita yang kini dimakamkan di Arlington.

Kita menghormati mereka bukan hanya karena mereka menjaga kebebasan kita tetapi karena mereka menunjukkan arti pengorbanan, kesediaan untuk mencari arti yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Dan pada saat ini, saat yang akan tercatat dalam sejarah generasi – semangat inilah yang harus ada pada kita semua.

Sebanyak apapun yang bisa dan harus dilakukan pemerintah, pada akhirnya kepercayaan dan tekad rakyat Amerika-lah yang diandalkan negara ini. Misalnya kebaikan hati untuk menampung orang yang kena musibah walaupun tidak kita kenal, atau pekerja yang tanpa pamrih rela mengurangi jam kerja mereka daripada melihat seorang teman di-PHK, yang membuat kita keluar dari kegelapan.

Adalah keberanian para pemadam kebakaran untuk menerobos masuk ke rumah yang penuh asap, dan juga kesediaan orang tua untuk membesarkan anak, yang kelak akan menentukan nasib kita.

Tantangan kita mungkin baru. Alat-alat yang kita gunakan untuk mengatasinya mungkin baru. Tetapi pada nilai-nilai itulah keberhasilan kita bergantung – yaitu kerja keras dan kejujuran, ketabahan dan berlaku secara adil, toleransi dan rasa ingin tahu, kesetiaan dan patriotisme – semua itu sudah lama ada. Semua itu memang benar.

Semua itu telah menjadi kekuatan kemajuan sepanjang sejarah. Jadi yang dituntut sekarang adalah kembalinya kepada nilai-nilai ini. Apa yang diperlukan dari kita sekarang ini adalah era pertanggungjawaban yang baru – suatu pengakuan, dari tiap orang Amerika, bahwa kita mempunyai kewajiban bagi diri kita sendiri, bagi negara kita dan bagi dunia, kewajiban yang kita lakukan dengan senang hati, bukan dengan bersungut-sungut, karena kita tahu tidak ada yang lebih memuaskan bagi jiwa kita, yang merupakan definisi karakter kita, daripada memberikan segalanya untuk menyelesaikan tugas yang sulit.

Inilah pengorbanan dan janji kewarganegaraan.

Inilah yang menjadi sumber keyakinan kita – pengetahuan bahwa Tuhan meminta kita untuk memperbaiki keadaan yang tidak pasti.

Inilah arti kebebasan dan kepercayaan kita- mengapa laki-laki dan perempuan dan anak-anak dari tiap ras dan tiap keyakinan bisa ikut dalam perayaan di lapangan yang indah ini, dan mengapa seorang lelaki yang ayahnya lebih 60 tahun lalu mungkin tidak dilayani di restoran, sekarang bisa berdiri di depan anda untuk diambil sumpahnya sebagai presiden.

Jadi marilah kita hari ini mengenang siapa kita dan sejauh mana jalan yang kita tempuh. Pada tahun kelahiran Amerika, pada bulan yang terdingin, sekelompok patriot berkumpul di depan api unggun yang mulai padam di bantaran sungai yang beku.

Ibukota telah ditinggalkan, musuh terus maju, salju tampak berlumuran darah. Pada saat itu, ketika nasib revolusi kita sangat diragukan, bapak bangsa kita memerintahkan supaya kalimat berikut dibacakan kepada semua rakyat Amerika:

“Beritahukanlah pada dunia masa depan, bahwa di tengah musim dingin, saat apapun tiada kecuali harapan dan kebajikan – bahwa kota dan negara, waspada akan bahaya bersama, akhirnya bersatu untuk menghadapinya.”

Amerika; Dalam menghadapi musuh bersama, dalam masa sulit kita ini, mari kita ingat kata-kata emas itu. Dengan harapan dan kebajikan, mari kita hadapi bersama sekali lagi sungai beku ini, dan bertahan dari badai apapun yang akan tiba.

Biarkan cucu-cucu kita berkata bahwa kita telah diuji dan kita menolak untuk mengakhiri perjalanan ini, bahwa kita tidak mundur dan mata kita terpaku ke ufuk fajar dan dengan berkat Tuhan, kita meneruskan anugerah kebebasan dan mengantarkannya dengan selamat bagi generasi masa depan. http://apakabardunia.com/
READ MORE - Teks pidato pelantikan Barack Hussein Obama

Sabtu

Sejarah Propinsi Bengkulu

Wilayah yang kini disebut Provinsi Bengkulu pada awalnya adalah wilayah dari beberapa kerajaan kecil. Beberapa kerajaan yang pernah berdiri diwilayah ini antara lain Kerajaan Sungai Serut, Kerajaan Selebar, Kerajaan Pat Petulai, Kerajaan Balai Buntar, Kerajaan Sungai Lemau, Kerajaan Sekiris, Kerajaan Gedung Agung dan Kerajaan Marau Riang yang pada hakekatnya merupakan negara-negara suku.

Tahun 1685-1824 wilayah Bengkulu termasuk dalam salah satu wilayah yang berada dalam pendudukan penjajah Inggris. Pada tahun 1685 Ralp Ord dan William Cowley memimpin ekspedisi untuk membuka kembali perusahaan pembelian lada dari Banten, yang dialihkan ke Bengkulu. Traktat itu mengizinkan Inggris untuk mendirikan benteng dan berbagai gedung. Benteng York didirikan tahun 1685 di sekitar muara Sungan Serut.

Pada tahun 1713 didirikan lagi sebuah benteng yang lebih besar, tebal, dan kuat yang selanjutnya dinamai Fort Malborough. Pembangunan Benteng ini rampung pada tahun 1719. Benteng Malborough tersebut dilengkapi dengan 71 buah meriam, untuk membuatnya benar-benar menjadi sebuah benteng yang kuat sebagai basis pertahanan. Tetapi sepanjang penjajahan, rakyat Bengkulu senantiasa mengadakan perlawanan.

Pada masa penjajahan Belanda (1824-1942) dilaksanakan cultur stelsel tanaman kopi, kerja rodi, pungutan pajak, eksploitasi tambang emas di rejang lebong, dan diadakan perbedaan klas antara pribumi, eropa dan cina. Bengkulu juga pernah dijadikan pemerintah Penjajahan Belanda sebagai tempat pengasinga Ir. Soekarno pada masa perang perjuangan merebut kemerdekaan.

Setelah proklamasi kemerdekaan 1945 seluruh wilayah kerajaan yang ada di daerah ini diubah statusnya menjadi Karesidenan dalam lingkup administratif Provinsi Sumatera Selatan, sebelum akhirnya berubah dijadikan provinsi sendiri pada tanggal 18 November 1968. Propinsi / Daerah Tingkat I Bengkulu menjadi propinsi ke-26 dari 27 Provinsi se-Indonesia saat itu.

Di Provinsi Bengkulu terdapat banyak objek wisata alam seperti Pantai Panjang, Taman Nasional Kerinci Sebelat, Hutan Lindung Liku-Sembilan yang merupakan habitat Bunga ’RafflesiaArnoldi’, Gunung Berapi ’Bukit Kaba’, Kawasan Perkebunan Teh ’Kabawetan’, Kawasan Air Terjun Sembilan Tingkat, Kawasan Carag Alam ’Danau Dendam Tak Sudah sebagai habitat plasma nuftah ’Anggrek Vanda’ dan sebagainya.

Provinsi Bengkulu juga memiliki berbagai aset wisata sejarah seperti Situs Fort York, situs Fort Malborough, Rumah kediaman Gebernur Raffles, Kawasan Kampung Cina, rumah kediaman Bung Karno pada saat pengasingan yang saat ini telah mengalami pengembangan menjadi Kawasan Persada Bung Karno, Monumen Thomas Parr, Tugu Hamilton, Komplek Makam Inggris, Situs makam pejuang Sentot Alibasyah, Situs Mesjid Jamik dan sebagainya.

Pembentukan Pemerintahan Provinsi Bengkulu ***)

Keresidenan Bengkulu pada awalnya adalah salah satu keresidenan di bawah Provinsi Sumatera Selatan. Keresidengan Bengkulu adalah keresidenan kedua setelah Keresidenan Lampung yang memisahkan diri dari Provinsi Smatera Selatan. Sebagai keresidenan, wilayah ini menjadi wilyah administrasi dalam sistem dekonsentrasi dari Pemerintah Pusat melalui Provinsi Sumatera Selatan. Setelah menjadi Provinsi wilayah ini menjadi daerah otonom yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

Perjuangan untuk menjadikan Keresidenan Bengkulu menjadi Provinsi Bengkulu pada awalnya merupakan sebuah gerakan moral yang melibatkan partai-partai dan organisasi-organisasi, para tokoh dan pimpinan daerah di Bengkulu dan di Jakarta, Residen dan para Bupati dan Walikota serta para pejabat dari instansi militer (Kodim) pada masa itu.

Gerakan ini dimulai pada tahun 1962 yang dipimpin oleh Panitia Persiapan Daerah tingkat I Bengkulu yang mengirimkan tidak kurang dari sepuluh kali delegasi ke Pemerintah Pusat dan DPR. Di Jakarta dibentuk Panitia Pembentukan Provinsi Bengkulu. Keikutsertaan para tokoh-tokoh nasional asal Bengkulu di Jakarta seperti Prof. Dr. Mr. Hazairin (Pejabat Tinggi Departemen Kehakiman dan Pakar Hukum Adat Terkemuka , Ibu Fatmawati Soekarno, Wahab Affan, H. Hasanudin, Letkol Alamsyah Hasan, SH, Hanan Gilik SH, Ir. Safuan Gatam dan lain-lain menambah besar arti perjuangan ini.

Perjuangan ini disambut baik di tingkat Provinsi Sumatera Selatan maupun di Tingkat Pemerintahan Pusat. Dari pihak legislatif (DPRD GR) Provinsi Sumatera Selatan menyatakan persetujuan dengan Surat Keputusan Nomor : 20 DPRD GR/1965 tanggal 27 November 1965 junto Surat Keputusan Nomor : 12 DPRD GR – SS/1967 tanggal 8 Mei 1967.

Dari pihak eksekutif, semua pejabat pimpinan Provinsi Sumatera Selatan telah melayani tuntutan Bengkulu untuk menjadi sebuah Provinsi dengan segala kebijaksanaan, mulai dari Gubernur H. A. Bastari sewaktu berkunjung ke Bengkulu Gubernur Tahun 1962, Gubernur H. A. Y. Bustomi tahun 1965 – 1966 yang memberikan surat pernyataan persetujuan sebagai pengantar untuk delegasi menghadap ke Departemen Dalam Negeri, Pjs. Gubernur M. Ali Amin, SH tahun 1966 – 1967 yang memberikan bantuan dalam rangka persiapan pembentukan Provinsi Bengkulu, dan Gubernur H. Ansawi Mangkualam tahun 1968 yang melakukan penyerahan pemerintahan formil dan materil atas Provinsi Bengkulu. Dari Pemerintah Pusat telah mengirimkan ’Team Fact Finding’ dan Komisi B DPR GR pada Bulan Mei 1967.

Demikianlah,setelah perjuangan lebih dari enam tahun, tuntutan pembentukan Provinsi Bengkulu berhasil terwujud dengan dikeluarkannya : Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967 tentang Pembentukan Provinsi Bengkulu pada tanggal 12 September 1967 yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1968 pada tanggal 5 Juli 1968 tentang Berlakunya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967 dan Pelaksanaan Pemerintahan di Provinsi Bengkulu. Peresmian Provinsi Bengkulu dilakukan oleh Direktur Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah, Mayor Jenderal Sunandar Priyosudarmo pada tanggal 18 November 1968.

Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor : 43/M tanggal 4 November 1968 maka diangkatlah M. Ali amin, SH sebagai penguasa yang melaksanakan Pemerintahan Provinsi Bengkulu dengan gelar Pejabat Gubernur. Dengan demikian M. Ali amin, SH merupakan Pejabat Gubernur pertama di Provinsi Bengkulu. Setelah itu secara berturut-turut Provinsi Bengkulu yang berjulukan ’Bumi Raflesia’ ini dipimpin oleh Gubernur : Khalik, Drs. Suprapto, Drs. Razie Yahya, Drs. Adjis Ahmad, Hasan Zen, SH, Seman Wijoyo, dan Agusrin M. Najamudin, ST. Gubernur Agusrin M. Najamudin, ST bahkan pernah menyandang predikat Gubernur termuda se-Indonesia setelah beliau dengan semangat ’perubahan’-nya telah didaulat mengemban amanat untuk menjadi Gubernur Provinsi Bengkulu pada usia 36 Tahun.

***)Disarikan dan disesuaikan, dari buku : Kesan-kesan dalam kehidupan dan Dalam Berkarya; dari : H. M. Ali Amin, SH – Pengalaman Seorang Pegawai Tiga Zaman.
http://bengkuluprov.go.id
READ MORE - Sejarah Propinsi Bengkulu

Selasa

Revolusi dan Utang Ongkos Taksi

Warna-warni bunganya revolusi. Aneka kisah kembangnya sejarah. Tak terkecuali sebait kisah, yang terjalin antara Bung Karno dan seorang sopir taksi bernama Arif.

Masa-masa tahun 1930-an, Bung Karno sangat intens berkomunikasi dengan tokoh pergerakan Betawi, M. Husni Thamrin yang tinggal di Gang Kenari, Kramat, Jakarta Pusat. Setiap minggu, Bung Karno pasti ke Jakarta, menemui Husni Thamrin. Kedatangan Bung Karno selalu menggunakan jasa kereta api, turun di stasiun Gambir.

Setelah keluar peron, Bung Karno akan menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari-cari Arif, sopir taksi langganannya. Arif sendiri tahu. Tak jarang ia justru jalan mengendap-endap, melingkar, menjauhi pandangan Bung Karno, tetapi arahnya mendekat dari belakang. Ketika sudah dekat, barulah ia tepuk pundak Bung Karno dan menyapa, “”Ngelamun Bung!”

Bung Karno pasti berjingkat kaget dan tertawa lebar, “Oh… kau Rif. Saya cari kamu sedari tadi,” tutur Bung Karno, yang digambarkan Arif sebagai pemuda jangkung berparas tampan, selalu mengenakan peci.

“Mau kemana Bung?” tanya Arif, sebuah pertanyaan basi, dilanjut pertanyaan susulan yang lebih basi lagi, “Ke Gang Kenari?”

“Iya dong, mau ke mana lagi…,” ujar Bung Karno seraya berjalan menuju taksi Arif di pelataran parkir.

Setelah duduk, Bung Karno berkata, “Eh… Rif, tetapi kali ini uang saya pas-pasan, bagaimana yaaa…?”

“Soal uang pas-pasan tidak perlu dipikir Bung,” kata Arif. Dalam hati Arif sangat bangga kepada pemuda yang dikenalnya sebagai tokoh pergerakan. Arif sangat senang mendengar cerita-cerita pergerakan, cita-cita kebangsaan, dan obrolan-obrolan ringan dari Bung Karno, setiap berada di dalam kabin taksinya.

Malah tak jarang, Arif yang ketika itu berusia 20-tahun merasa rendah diri, mengingat orang-orang seperti Bung Karno, Hunsi Thamrin sibuk membela kaumnya dari penjajahan Belanda, dia enak-enak mencari rezeki. Karena itu, ia merasa sudah menjadi bagian dari revolusi, meski sekadar mengantar Bung Karno ke Gang Kenari, balik ke Gambir, dengan tak jarang rela tidak dibayar, karena si Bung sedang tipis dompetnya.

Bagi Arif, apa yang dilakukan, sungguh tak berarti dibanding sepak terjang orang-orang seperti Bung Karno, yang tidak pernah berpikir untuk dirinya, bahkan rela berhadapan dengan Belanda, rela pula dipenjara bertahun-tahun. Kisah-kisah Bung Karno tentang marhaenisme, kapitalisme, dan kekejaman kolonialisme, benar-benar telah merasuk dalam peredaran darah merah Arif, si sopir taksi.

Kalimat Bung Karno yang melekat antara lain, “Arif, kita harus sadar bahwa kita ini bukan bangsa tempe, tetapi masih cucu elang rajawali. Coba saja siapa yang tidak kenal tokoh Gajah Mada yang dapat menyatukan Majapahit. Bukankah pada waktu itu negara Majapahit berpengaruh sampai luar negeri? Nah, di sinilah Arif, kita harus sadar sesadar-sadarnya, dan ketahuilah tidak seorangpun dapat mengubah nasib bangsanya kalau bangsa itu sendiri tidak mau berusaha, tidak mau bangkit, mengubahnya sendiri.”

Bagaimana dengan utang-utang Bung Karno kepada Arif? “Ah, Bung Karno itu sangat baik. Kalau dia ada uang, langsung dibayar semua”

Kisah berlanjut hingga ke suatu hari, Arif mengantar Bung Karno ke Gang Kenari. Sebelum turun, Bung Karno berpesan supaya besok pagi dijemput di Gang Kenari, menuju Gambir, selanjutnya kembali ke Bandung. “Besok jemputlah di tempat ini. Jangan lupa Rif, besok pun masih ngutang lagi yaa” kata Bung Karno sambil menepuk pundak Arif.

Arif menyahut, “Bung, jangan berkata begitu terus, bikin malu saya saja… sampai besok pagi bung!”

Keesokan harinya, tanggal 1 Agustus 1933, Arif meninggalkan rumah, mengarahkan taksinya ke Gang Kenari, hendak menjemput Bung Karno. Betapa terkejut Arif, sesampai di Gang Kenari didapat berita bahwa tadi malam Belanda menangkap Bung Karno. Arif menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi kemudi sambil bergumam, “Nasib pejuang. Kemarin masih bercanda sama saya, hari ini sudah meringkuk di penjara.”

Kisah selanjutnya tentang Bung Karno didapat Arif dari para pejuang yang lain, serta dari suratkabar. Arif tetap mengikuti berita tentang pembuangan Bung Karno ke Ende, disusul pembuangan ke Bengkulu, hingga akhirnya Jepang masuk Indonesia tahun 1942. Arif tak pernah lagi berjumpa dengan Bung Karno.

Tiba-tiba pada era pendudukan Jepang, ia kedatangan tamu orang yang sangat dikenalnya… “Arif… apa kabarnya,” sapa tamu itu ramah. Tamu yang dimaksud, tak lain dan tak bukan adalah tokoh pergerakan yang kesohor: Bung Karno. Ia datang bertamu malam-malam ke rumah dengan dua tujuan. Pertama, melunasi semua utang ongkos taksi terdahulu. Kedua, menawarinya pekerjaan menjadi sopir pribadi Bung Karno.

Kisah selanjutnya, Arif selalu bersama Bung Karno. Ia merasa terhormat, Bung Karno tidak melupakan jasa kecil orang kecil seperti Arif, sopir taksi bagi jalannya revolusi. Tercatat, Arif mengabdi sebagai pengemudi pribadi Bung Karno hingga tahun 1960. Saat Bung Karno bertanya, apa keinginan Arif setelah berhenti bekerja? Spontan Arif menyatakan keinginannya pergi ke tanah suci.

Bung Karno pun mengabulkan Arif pergi haji. (roso daras)
READ MORE - Revolusi dan Utang Ongkos Taksi

Sabtu

Pidato Presiden Sukarno Di Medan

Pidato Presiden Sukarno:
Amanat pada rapat raksasa di Medan pada hari Kamis, 26 April 1962

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

MERDEKA!
Saya memang -- Insya Allah Subhanahu Wata'ala -- hendak mengucapkan pidato yang penting. Apa sebab saya katakan penting? Oleh karena apa yang saya ucapkan didalam waktu-waktu yang lampau, dan yang apa Insya Allah saya ucapkan sekarang ini adalah sebenarnya suara rakyat, suara rakyat dari Sabang sampai Merauke, suara Rakyat Indonesia yang berjumlah 96 juta orang. Saya tidak berbicara nonsens, saya berbicara atas nama rakyat Indonesia, saya berbicara sebagai penyambung-lidah Rakyat Indonesia. Tidaklah benar demikian, Saudara,saudara?

Apakah sebab jikalau saya berpidato, Rakyat berbondong- bondong sama datang? Lihat, pegawai-pegawai negeri hadir, Angkatan Bersenjata - baik Darat maupun Udara maupun Laut maupun Polisi - hadir, mahasiswa dan mahasiswi hadir sukarelawan hadir, kaum buruh hadir, kaum tani hadir, pendek-kata seluruh Rakyat dari pelbagai golongan dan pangkat hadir. Apa sebab demikian? Oleh karena sebenarnya yang hendak saya katakan atau yang telah saya katakan ialah suara mereka sendiri. Saya ulangi, saya tidak berbicara nonsens. Saya bicara, menggambarkan isi hati Rakyat Indonesia. Saya adalah - demikian saya katakan berulang-ulang -- penyambung lidah daripada Rakyat Indonesia, bukan-kataku berulang-ulang pula -- saya ini bangga bahwa saya ini disebutkan: Paduka Yang Mulia, atau Presiden, atau Panglima Tertinggi, atau Mandataris M.P.R.S. atau Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat, atau Panglima Besar Komando Tertinggi Urusan Ekonomi seluruh Indonesia, tidak. Saya berulang-ulang berkata, bahwa saya merasa berbahagia dan mengucap syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata'ala, bahwa saya adalah penyambung- lidah daripada Rakyat Indonesia.

Apa yang telah saya katakan dan apa yang akan saya katakan, adalah kehendakmu sendiri, adalah suaramu sendiri, adalah denyut hatimu sendiri. Ingatkah, hai Saudara-saudara sekalian, bahwa tatkala saya mengucapkan Trikomando Rakyat pada tanggal 19 Desember tahun yang lalu, saya berkata bahwa Trikomando Rakyat itu sebenarnya adalah Komando Rakyat kepada Rakyat sendiri, Komando yang diucapkan oleh Rakyat kepada dirinya sendiri.

Trikomando yang berarti bahwa kita harus membebaskan Irian Barat dengan selekas mungkin, supaya Irian Barat dalam tahun ini juga, masuk kedalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia.

Trikomando Rakyat saya ucapkan di Yogyakarta, apa sebab saya ucapkan di Yogyakarta? Oleh karena Yogyakarta adalah termashur sebagai Kota Revolusi, Oleh karena Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948 diserbu oleh Belanda. Nah, tanggal 19 Desember pula saya ucapkan Trikomando Rakyat itu di Yogyakarta.

Apa sebab pidato penting sekarang ini saya ucapkan di Medan? Dan tidak di Jakarta? Oleh karena saya tahu, bahwa semangat Rakyat Medan termashur selalu berkobar-kobar menyala-nyala, semangat Jakartapun adalah semangat yang menyala-nyala, semangat Proklamasi. Di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945 diucapkan Proklamasi Republik Indonesia yang melahirkan Republik Indonesia.

Tetapi, Saudara-saudara, sebenarnya bukan hanya Jakarta saja adalah kota semangat, bukan hanya Yogyakarta saja adalah kota semangat, bukan hanya Medan saja kota semangat, tetapi seluruh Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke adalah gudang semangat yang menentang imperialisme itu. Jikalau umpamanya bukan seluruh Rakyat Indonesia semangatnya berkobar-kobar, menyala-nyala, apakah kita bisa mencapai kemerdekaan? Jikalau umpamanya 96 juta Rakyat kita ini tidak berkobar-kobar, menyala-nyala semangatnya, masakah kita bisa mempertahankan kemerdekaan kita, mempertahankan kemerdekaan kita walaupun kita digempur oleh musuh berulang- ulang kali, digempur oleh musuh pada tanggal 21 Juli 1947, digempur oleh musuh pada tanggal 19 Desember 1948, digempur oleh Westerling, digempur oleh APRA, digempur oleh gerombolan-gerombolan.

Kita tetap berdiri oleh karena semangat seluruh Rakyat adalah semangat perjuangan, semangat patriot, semangat yang telah berisikan sumpah: Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!

Saudara-saudara, Pak Subandrio tadi berkata, bahwa kita didalam Revolusi yang simultan, dan bahwa Revolusi itulah yang sekarang dirongrong oleh pihak lawan. Dijelaskan oleh Pak Subandrio,bahwa segala bagian-bagian daripada Revolusi itu adalah sekadar bagian saja daripada Revolusi besar yang dijalankan oleh seluruh Rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Dan bukan saja Revolusi satu macam, kataku berulang-ulang pula, tetapi Revolusi simultan, Revolusi sekaligus bermacam-macam, Revolusi Sosial, Revolusi Ekonomi, Revolusi Nasional, Revolusi Politik, Revolusi Kebudayaan, bahkan saya tempo hari berkata, Revolusi membentuk manusia Indonesia baru.

Revolusi simultan, demikian diterangkan oleh Pak Bandrio, yang sekarang sedang dirongrong oleh musuh. Ini yang diikhtiarkan oleh musuh supaya gugur, jelas dikatakan oleh Pak Bandrio.

Apa sebab Belanda mempertahankan kolonialisme di Irian Barat? Padahal-kata Pak Bandrio-kepentingan-kepentingan Belanda disitu hanya kecil sekali. Ekonomis mereka sudah hampir bangkrut, militerpun sebenarnya tidak ada arti, pendek kata Belanda tidak mempunyai kepentingan besar di Irian Barat.

Tetapi, Saudara-saudara, bukan saja Belanda, tetapi seluruh dunia Imperialis menghendaki agar supaya Revolusi Indonesia ini gugur sama sekali. Tak dapat, kata mahasiswa dan mahasiswi.

Memang demikian, memang mereka tidak-akan dapat menggugurkan Revolusi Indonesia, memang mereka tidak dapat menghalang-halangi bahwa Revolusi Indonesia ini akan mencapai tujuannya.

Tempo hari pernah saya katakan, siapa yang bisa menahan bulan dan bintang, matahari beredar, dialah yang akan bisa menahan Revolusi Indonesia ini.

Dimana ada satu kekuatan duniawi dapat menahan jalannya bintang, bulan dan matahari? Tidak ada, Saudara-saudara.

Revolusi Indonesia adalah revolusi sejarah, adalah revolusi yang dilahirkan oleh sejarah dan oleh karena itu tak boleh tidak mesti berhasil, bahkan Revolusi Indonesia ini adalah sebagian saja daripada revolusi besar yang sekarang ini berjalan diseluruh dunia. Revolusi besar yang sebagai telah saya katakan berulang- ulang didalam berbagai pidato, meliputi tiga-perempat daripada seluruh ummat manusia, satu revolusi yang universil, satu revolusi yang menghendaki agar supaya ummat manusia ini hidup didalam kebebasan, satu revolusi yang menghendaki agar supaya ummat manusia ini hidup dalam kebahagiaan, satu revolusi yang menghendaki agar supaya ummat manusia ini hidup dalam kebahagiaan, satu revolusi yang menghendaki agar supaya tiada satu tempatpun didunia ini berjalan hukum "exploitation de I'homme par I'homme" kataku, penindasan oleh manusia terhadap manusia. Seluruh ummat manusia yang progresif, Saudara-saudara, menghendaki dan sedang menjalankan revolusi yang demikian itu. Bukan saja Rakyat Indonesia, tidak, Rakyat- rakyat daripada Duta-duta Besar yang hadir disini, semuanya, Saudara-saudara, didalam batinnya atau didalam perbuatannya, sedang menjalankan revolusi yang demikian itu.

Maka oleh karena itu saya berkata, bahwa Revolusi Indonesia adalah sekadar satu bagian saja daripada revolusi mahabesar yang sedang dijalankan oleh tiga-perempat ummat manusia yang sekarang berjumlah hampir tiga ribu juta manusia, tiga perempat daripada itu, dus kira-kira 2500 juta manusia sedang didalam revolusi sama-sama dengan kita.

Maka oleh karena itu pula saya berkata, jangan kecil hati, Saudara-saudara sekalian, jangan kecil hati hai seluruh Rakyat Indonesia, kita tidak berjalan sendiri, kita tidak berdiri sendiri, kita adalah berjalan bersama-sama, serempak dengan 2500 juta ummat manusia. Dan - sebagai tadi telah saya katakan - hanya orang yang bisa menahan beredarnya bulan dan bintang dan matahari, karena itupun saya atas nama seluruh Rakyat Indonesia dengan tegas mengatakan, Insya Allah Subhanahu Wata' ala, Irian Barat pasti akan masuk didalam wilayah kekuasaan Republik dalam tahun ini juga.

Malahan, Saudara-saudara, ucapan ini telah menjadi sumpah daripada Rakyat Indonesia, bukan sekadar baru keyakinan bahwa Irian Barat dalam tahun ini juga akan masuk kedalam wilayah kekuasaan kita,tidak! Bukan hanya keyakinan, tetapi sudah menjadi sumpah yang mesra. Semua Rakyat Indonesia sudah bersumpah demikian, Alhamdulillah, aku bersumpah demikian, engkau bersumpah demikian, engkau bersumpah demikian, engkau, hai para wanita bersumpah demikian, engkau, hai prajurit bersumpah demikian, engkau, hai perwira bersumpah demikian, engkau, hai pedagang yang duduk disitu, bersumpah demikian, engkau, hai sukarelawan bersumpah demikian, engkau, mahasiswa bersumpah demikian, engkau, mahasiswi bersumpah demikian, kita semuanya telah bersumpah demikian. Bersumpah, bahwa Irian Barat dalam tahun ini juga masuk didalam wilayah kekuasaan kita.

Maka dalam menjalankan sumpah ini, Saudara-saudara, Insya Allah Subhanahu Wata'ala, dalam menjalankan sumpah ini, kita melalui segala jalan, sudah pernah saya terangkan mengenai Trikora, Trikomando Rakyat, yang berisikan: Pertama, bahwa saya telah memerintahkan kepada seluruh Angkatan Perang Republik Indonesia untuk bersiap-siap setiap saat kalau saya beri komando membebaskan Irian Barat, mereka menjalankan pembebasan Irian Barat itu. Tetapi juga didalam Trikora saya katakan, gagalkan berdirinya "Negara Papua" di Irian Barat. Pancangkan Bendara Sang Merah Putih di Irian Barat. Siap-siagalah menerima mobilisasi umum yang akan meliputi seluruh Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Pokok daripada Trikora ini, sebagai tadi saya katakan, ialah Irian Barat harus bebas, Irian Barat harus dimerdekakan, Irian Barat harus dilepaskan daripada cengkeraman imperialisme, Irian Barat harus menjadi satu bagian faktuil, bagian yang nyata, daripada kekuasaan Republik Indonesia. Dan ini kita jalankan, Saudara-saudara, dengan segala jalan, sebab didalam Trikorapun tidak dikatakan bahwa kita menjalankan Trikora itu dengan hanya satu macam jalan saja, tidak.

Segala jalan harus kita jalankan, demikian sudah saya terangkan berulang-ulang. Ya, jalan diplomasi, tetapi juga, sebagai dikatakan Pak Bandrio tadi, kalau pihak Belanda menghendaki agar supaya Irian Barat dipertahankan oleh mereka dengan kekerasan senjata, kitapun tidak akan segan menggempur mereka dengan kekuatan senjata.

Malahan, Saudara-saudara, saya berulang-ulang berkata, bahwa Trikora harus dijalankan terus, malahan saya tegaskan, Trikora harus dipergiat. Saya katakan ini pada pidato Nuzulul- Qur'an yang lalu, saya katakan pada pidato Idul Fitri yang lalu. Trikora terus dijalankan, Saudara-saudara.

Kita dalam menjalankan diplomasi itu tadi tidak harus berhenti menjalankan Trikora, agar supaya benar-benar Insya Allah Subhanahu Wata'ala, Irian Barat masuk didalam wilayah kekuasaan Republik sebelum tanggal 31 Desember tahun ini. Segala jalan kita jalani, dan saya kemukakan disini dengan tegas, yang sudah saya katakan pula berulang-ulang, saya, Rakyat Indonesia, pemerintah Republik Indonesia, lebih senang bisa memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik dengan jalan damai. Itu adalah satu hal yang masuk akal sama sekali. Masakan kita lebih senang bertempur jikalau bisa memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik tanpa pertumpahan darah, jikalau kita bisa memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik dengan cara baik- baik, dengan cara damai, dengan cara perundingan. Ini saya ucapkan sekali lagi sekarang ini, 26 April 1962, dikota Medan. Saya ucapkan sekali lagi bahwa kita lebih senang mendapat Irian Barat didalam wilayah kekuasaan Republik dengan jalan damai, tidak dengan jalan perang, tidak dengan jalan pertempuran, tidak dengan kekerasan senjata.

Ya, saya minta dicatat oleh semua Duta-duta Besar yang hadir disini. Saya minta dicatat, bahwa kita bangsa Indonesia, Sukarno Presiden Republik Indonesia, Mandataris M.P.R.S., Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat, mengutamakan jalan damai daripada jalan kekuasaan senjata. Saya minta dicatat, dan minta diteruskan kepada pemerintah- pemerintah mereka yang diwakili oleh mereka disini ini, supaya dimengerti benar-benar, that we are peaceful people, artinya, bahwa kita ini Rakyat yang damai, that we are peace loving people, bahwa kita ini adalah Rakyat yang cinta damai.

Tetapi juga berulang-ulang saya katakan, kita cinta kepada perdamaian, tetapi lebih cinta lagi kepada kemerdekaan. Inipun minta dicatat, Saudara-saudara. Kita lebih cinta kepada kemerdekaan. Maka oleh karena itu, Saudara-saudara, untuk membebaskan Irian Barat, kalau bisa dengan jalan damai, kataku berulang-ulang, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Tuhan Maha Besar. Memberikan kembali Irian Barat kepada Republik Indonesia dengan jalan damai, dengan jalan baik-baik dari pihak Belanda, dengan jalan kesadaran pihak Belanda, bahwa mereka toh tidak bisa meneruskan mereka punya perjuangan mempertahankan Irian Barat dengan kekuatan senjata, pendeknya dengan jalan tanpa pertumpahan darah, jikalau Irian Barat masuk kembali didalam wilayah kekuasaan Republik dengan cara yang demikian itu, kataku berulang-ulang. Syukur Alhamdulillah, Allahu Akbar, kataku. Aku berterima kasih atas nama seluruh Rakyat Indonesia. Tetapi, kataku tadi pula, dan tadi pun sudah dikatakan oleh Pak Subandrio, jikalau Belanda ngengkel, jikalau Belanda bersitegang urat leher, jikalau Belanda tetap berkepala batu, jikalau Belanda tidak mau menyerahkan Irian Barat kepada kita kembali dengan cara yang baik-baik, apa boleh buat, saya ulangi lagi buat kesekian kalinya, apa boleh buat, maka kita akan bebaskan Irian Barat dengan kekuatan senjata.

Nah itulah, engkau hai sukarelawan berdiri disitu, engkau daripada Angkatan Perang berdiri disini, engkau daripada kepolisian Negara berdiri disini, engkau daripada semua perwira- perwira berdiri disini, semuanya sudah seia sekata, yah, kalau Belanda tidak mau menyerahkan kembali Irian Barat dengan cara baik-baik, kita, kita, kita, ya daripada sukarelawan, ya daripada polisi, ya daripada prajurit-prajurit, ya, daripada perwira-perwira, kita sekalian siap-sedia untuk membebaskan Irian Barat dengan pertempuran yang sehebat-hebatnya. Dan inipun, inipun harus dimengerti tegas-tegas oleh semua pemerintah didunia ini. Inilah tekad Rakyat Indonesia, bukan sekadar tekad Sukarno, ya Sukarno Panglima Tertinggi daripada Angkatan Perang, ya, Sukarno Pemimpin Besar Revolusi, Ya, Sukarno Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat. Tetapi ini, politik yang demikian ini, tekad yang demikian ini, bukan sekadar tekad dan pimpinan Sukano, tidak. Sebagai tadi saya katakan, tidakkah segenap Rakyat menghendaki demikian?

Saudara-saudara sekalian, saya ulangi mengutamakan jalan damai, manakala jalan damai itu masih ada, minta dicatat, selama jalan damai itu masih ada, kita akan sudi memasuki jalan damai itu. Inipun harus ditegaskan kepada pemerintah-pemerintah asing. Manakala jalan jalan damai itu masih ada, manakala masih ada lobang kecil, ya lobang kecil, engkau memasukinya secara damai dan mencapai pembebasan Irian Barat, lobang kecil itu akan kita masuki. Ya, Saudara-saudara, tempohari sudah saya terangkan, bahwa usul Tuan Bunker pada prinsipnya kita terima, artinya bahwa kita mau merundingkan pembebasan Irian Barat itu dengan pihak Belanda atas dasar prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh Tuan Bunker itu, pada dasarnya, pada prinsipnya.

Itu jelas saya katakan di Palembang, jelas saya katakan di Jambi tempo hari pula, pada dasarnya, pada prinsipnya, malah di Palembang saya gambarkan sebagai memberi saputangan. Kalau misalnya saya Belanda, umpama, saputangan ini adalah Irian Barat, ini saputangan dipegang oleh saya sebagai Belanda, saputangan ini sebenarnya milik daripada Panglima Lubis, itu Republik Indonesia Saya tidak keberatan jikalau Belanda, karena malu, memberikan saputangan ini kepada Panglima Lubis, yaitu saya umpamanya malu memberikan saputangan ini kepada Panglima Lubis, meminjam tangannya Gubenur Raja Junjungan. Tulung kasihkan saputangan ini kepada Panglima Lubis, untuk Belanda minta tangan orang lain untuk memberikan Irian Barat, saputangan ini kepada Republik Indonesia.

Saya tidak berkeberatan hal yang demikian itu, tidak ada keberatan, malah kami berkata, kami dapat menerima pada prinsipnya usul Bunker. Oleh karena itu maka kami berkata, bahwa kami tidak berkeberatan pada prinsipnya menerima usul Bunker. Sebab prinsipnya usul Bunker adalah demikian: Mengembalikan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan kita via tangan orang lain, yaitu tangannya PBB.OK, all right. Kita mau dengan jalan yang demikian, prinsip yang demikian itu kita mau, tetapi lha ini: kita tidak mau penyerahan Irian Barat kepada kita itu diulur-ulur sampai 2 tahun.

Kita telah tegas berkata, bahkan telah bersumpah kepada diri sendiri, memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik dalam tahun enam puluh dua ini. Ya, Saudara-saudara, kita telah menyatakan, setuju menerima dalam prinsip usul Bun- ker. Tunggu punya tunggu, tunggu punya tunggu, Belanda tidak muncul-muncul dengan pernyataan mau menerima usul Bunker ini.

Sampai pada saat sekarang ini sebenarnya, Saudara- saudara, tidak ada dari pihak Belanda satu pernyataan mau menerima usul Bunker atau menerima dalam prinsip usul Bunker. Kok kita ini disuruh tunggu, tunggu, tunggu, tunggu......... tunggu............... tapi saya lihat, waah......... berbahaya ini........ Kita disuruh tunggu........ tunggu......... tunggu dalam pada itu Belanda kirim bala bantuan marinir-marinir ke Irian Barat. Kirim serdadu-serdadu ke Irian Barat, kirim marinir-marinir yaitu KKO- KKO mereka ke Irian Barat. Kirim kapal-kapal perusak ke Irian Barat. Kirim kapal-kapal selam ke Irian Barat. Bahkan telah mengatakan dengan jelas, akan mengirim kapal Karel Doorman ke Irian Barat. Dikatakan dengan tegas dan jelas, Karel Doorman sekarang ini sedang diperbaiki di Den Helder, akan diperlengkapi dengan kapal-kapal penempur Jet yang hebat- hebat, kemudian akan dikirim ke Irian Barat.

Saya bertanya kepadamu: He, Saudara-saudara sekalian, apakah ini tidak suatu keadaan yang berbahaya bagi kita? Apakah ini tidak berarti bahwa sebenarnya pihak Belanda bersedia-sedia untuk mengadakan perang dengan Republik Indonesia?

Yah, memang demikian. Dan kita disuruh menunggu- nunggu, kita disuruh menunggu-nunggu, kita disuruh menunggu-nunggu.

Kita telah berkata, bahwa kita mau masuk kedalam perundingan atas dasar prinsip Bunker. Tetapi pihak Belanda sampai sekarang belum ada pemyataan yang demikian itu, sebaliknya mengirimkan bala bantuan ke Irian Barat.

Nah, maka dalam keadaan yang demikian itu, saya ulangi, dalam keadaan yang demikian itu, sekali lagi saya katakan, dalam keadaan yang demikian itu -artinya Belanda mengirimkan bala bantuan, Belanda mengirimkan segala alat-alat peperangan ke Irian Barat, Belanda bahkan akan mengirim Karel Doorman ke Irian Barat- dalam keadaan yang demikian itu kita tidak mau berunding dengan pihak Belanda.

Dan inilah ucapan saya yang penting, yang Saudara tunggu-tunggu. Saya disini dengan resmi mengatakan, Saudara- saudara, dalam keadaan yang demikian itu -Belanda mengirim bala bantuan terus menerus ke Irian Barat, bahkan Belanda akan mengirim Karel Doorman ke Irian Barat- dalam keadaan yang demikian itu kita tidak mau mengadakan perundingan dengan pihak Belanda. Pergiatlah terus Trikora sehebat-hebatnya!!!

Dan lain perkara, jikalau Belanda tidak mengirim bala bantuan ke Irian Barat, -itu supaya dicatat pula oleh Duta-duta besar disini,- kalau pihak Belanda tidak mengirimkan bala bantuan ke Irian Barat, kita dari pihak Indonesia tetap pada pendirian kita semula, yaitu mau berunding dengan pihak Belanda untuk memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik.

Jadi sebenarnya, Saudara-saudara, pintu perundingan kita tidak tutup sama sekali. Tidak, we are not closing the door, we are keeping the door still open. Jelas ini bahasa Inggris, juga dulu di Jakarta saya berkata, dear is geen woord Frans bij, artinya tidak ada perkataan Prancis didalamnya. Yes, there is no French in it, only English. I do not know good English or not good English, it is English. I say, we are still keeping the door open for negotiation.

Tapi ini, pada tingkatan yang pertama atas prinsip usul Bunker atas cara menyerahkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik, itupun telah berulang-ulang saya katakan bahwa kita mau berunding, tapi perundingan atas dasar-dasar itu. Pendek, kita mau berunding secara formil dengan pihak Belanda, tetapi kita tidak mau merundingkan lain-lain hal kecuali cara menyerahkan kekuasaan Irian Barat kepada Republik Indonesia. Itu tetap kita pegang teguh. Kita pegang teguh pernyataan yang telah kita ucapkan beberapa bulan yang lalu, bahwa kita hanya mau berunding dengan pihak Belanda, berunding formil dengan pihak Belanda atas dasar penyerahan kekuasaan Irian Barat kepada Republik Indonesia.

Tetap itu kita pegang teguh, tetapi mengenai usul-usul Bunker, Saudara-saudara, yang pada prinsipnya telah kita terima, saya sekarang dalam pidato yang penting ini berkata, bahwa kita masih mau mengadakan perundingan preleminary, perundingan pendahuluan, sekali lagi perundingan pendahuluan atas prinsip usul-usul Bunker itu, asal Belanda mau menerima prinsip usul- usul Bunker. Kalau Belanda tidak mau mengatakan, bahwa dia adalah dalam prinsipnya menerima usul-usul Bunker, kitapun tidak bisa berunding dengan pihak Belanda itu.

Pantaskah kita berunding untuk membicarakan segala tetek- bengek, yang tidak ter zake doende, membicarakan tetek-bengek, yang tidak menyangkut penyerahan kekuasaan di Irian Barat kepada Republik Indonesia? Tidak, kita tidak mau!

Tetapi kita tegaskan, sekali lagi saya tegaskan selama pihak Belanda masih demikian, artinya mengirimkan bala bantuan ke Irian Barat, bahkan mengirimkan Karel Doorman ke Irian Barat, sekarang juga saya katakan bahwa kita tidak mau berunding dengan pihak Belanda. Tidak mau berunding meskipun perundingan informil, Saudara-saudara.

Tetapi kita masih tetap mau berunding oleh karena kita adalah satu bangsa yang cinta kepada perdamaian, tetapi lebih cinta kepada kemerdekaan.

Ini artinya apa Saudara-saudara? Artinya ialah, hai, Rakyat Indonesia, sekarang ini benar-benar kita memasuki satu fase yang menentukan dalam perjuangan kita memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik. Aku pemimpin besarmu, aku kepada Negaramu, aku Panglima Tertinggimu, aku Panglima Besarmu Pembebasan Irian Barat, aku tidak bisa mengetahui apakah Belanda mau menyetop bala bantuannya ke Irian Barat, apakah Belanda mau menyerahkan Irian Barat kepada kita? Apakah Belanda mau menerima prinsip usul-usul Bunker, apakah Belanda mau mengadakan perundingan dengan kita sebagai jaminan atas penyerahan kekuasaan di Irian Barat kepada kita? Saya tidak tahu hal ini, Saudara-saudara. Tetapi saya katakan kepada Rakyat Indonesia justru oleh karena itu- marilah kita sekarang ini menggigitkan kita punya gigi sekeras-kerasnya. Kata orang Belanda: "Onze tanden op elkaar klemmen". Gigitkan kita punya gigi sekeras-kerasnya. Artinya ayo berjalan terus, berjalan terus menjalankan Trikora, berjalan terus membebaskan Irian Barat sebelum matahari terbit pada tanggal 1 Januari 1963.

Memang Saudara-saudara, revolusi kita kini sebagai tadi dikatakan oleh Pak Subandrio, sedang memuncak, yah sekarang kita menanti tingkat puncaknya dari revolusi Indonesia itu, Revolusi Indonesia bagian politik untuk memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik kembali. Sekarang kita memasuki masa yang demikian itu. Maka sebagai suatu bangsa yang revolusioner, Saudara-saudara, sebagai tadi saya katakan, yah, sejak daripada saat sekarang ini, kita sebenarnya tidak boleh mengharap banyak, mengharap sangat. Pengharapan- pengharapan yang mungkin membawa kita menjadi satu bangsa yang mau -kata orang Belanda-: zelgenoergzaam. Bangsa yang hanya ......... yaaah........ nanti toh beres........ nanti toh Irian Barat akan masuk kedalam wilayah kekuasaan Republik, bukan satu bangsa yang yakin dan tegas mengetahui, bahwa masuknya Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik hanyalah mungkin dengan perjoangan yang maha hebat, satu perjoangan yang total, satu perjoangan yang dijalankan oleh Rakyat dari Sabang sampai ke Merauke disegala bidang.

Mari sejak sekarang ini, Saudara-saudara, kita singsingkan lengan baju lebih dari yang sudah-sudah. Mari sejak dari sekarang ini, kita anggap bahwa Republik Indonesia ini sudah benar-benar masuk dalam fase perjoangan yang memuncak. Bahwa kita sekarang ini benar-benar dalam melaksanakan sumpah kita, memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik, dalam tahun ini juga. Tetapi Saudara- saudara, dalam hal demikian itu hanyalah kita bisa jaya jikalau, -- sebagai tadi saya katakan, kita bersatu padu dalam segala lapangan, baik Angkatan Perang maupun angkatan bersenjata seluruhnya, maupun kaum buruh, kaum tani, maupun siapa saja, seluruh rakyat Indonesia, yang sembilan puluh enam juta ini, laksana tergembleng menjadi satu jiwa, satu tenaga, satu jiwa yang tidak mundur meskipun ada halangan yang bagaimanapun juga.

Saudara-saudara, saya kira cukup jelas saya punya pidato yang demikian itu dan saya minta agar supaya pidato saya ini disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia dengan surat-kabar, dengan radio dengan mulut dan dengan apapun, yaitu amanat saya kepada rakyat Indonesia, bahwa kita sekarang ini benar- benar memasuki fase perjoangan yang sehebat-hebatnya.

Dalam pada itu, Saudara-saudara, saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi, sebagai Kepala Negara, Sebagai Panglima Besar Pembebasan Irian Barat, yah, saya masih menunggu, -- artinya menunggu itu -- yah, mengharap Saudara-saudara, agar supaya Belanda, pihak Belanda lekas sadar, mau menyerahkan Irian Barat kepada kita dengan jalan yang sebaik-baiknya.

Sekian, Saudara-saudara, amanat saya, karena saya nanti jam sebelas harus meletakkan batu pertama dari pada Manipol-House, gedung Manipol, maka terpaksa saya sudahi pidato saya ini.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Merdeka.
READ MORE - Pidato Presiden Sukarno Di Medan

Jumat

Jurukalang dalam Serpihan Catatan


Suku Rejang adalah salah satu suku tertua di pulau Sumatra selain suku Bangsa Melayu, argumen ini dikuatkan bahwa Suku Rejang ini telah memiliki tulisan dan bahasa sendiri, ada perdebatan-perdebatan panjang mengenai asal-usul Suku Rejang, ada yang menyakini bahwa suku ini bersasal dari Sumatera Bagian Utara, ada juga sebagai yang menyakini bahwa Rejang berasal dari Majapahit bahkan sebagai masyarakat meyakini bahwa sebagian besar berasal dari jazirah Arab. Mengenai asal usul Rejang sangat sedikit sekali literatur maupun hasil penelitian yang lebih lengkap tentang asal usul bangsa Rejang, namun dalam menyusun sejarah Adat Jurukalang yang merupakan kesatuan masyarakat komunal, AMARTA mencoba menyusun serpihan-serpihan cerita turun temurun yang kemudian mencoba untuk mengelaborasi dengan beberapa tulisan tentang Rejang.

Jurukalang dalam bahasa lokal disebut dengan Jekalang yang pada awalnya hanya terdiri dari 2 kutai atau dusun, dalam sejarah secara turun temurun kutai tersebut adalah Kutai Topos dan Kutai Teluk Diyen, kutai-kutai ini dikenal sejak zamannya pemerintahan Marga Jurukalang di bawah pimpinan Bikau Bembo, namun sebelum zaman Bikau Bembo yang memerintah Marga Jekalang ini diwilayah ini terdapat beberapa Kutai dibawah pimpinan Ajai Siang antara lain Kutai Pukua, Kutai Mawua, Kutai Menai, Kutai Sebayem dan Kutai Titik.

Jurukalang adalah salah satu Petulai dalam sejarah suku bangsa Rejang, selain sejarah turun temurun beberapa tulisan tentang rejang ini adalah tulisan John Marsden (Residen Inggris di Lais, tahun 1775-1779), dalam laporannya dia meceritakan tentang adanya empat petulai Rejang yaitu Joorcalang (Jurukalang), Beremanni (Bermani), Selopo (Selupu) dan Toobye (Tubai).[1]

Catatn-catatan lain tentang Kedudukan Jurukalang sebagai komunitas adat asli Rejang, dalam laporannya mengenai ‘adat-federatie in de Residentie’s Bengkoelen en Palembang Dr. JW. Van Royen menyebutkan bahwa kesatuan Rejang yang paling murni dimana marga-marga dapat dikatakan didiami hanya ole orang-orang di satu bang, harus diakui Rejang Lebong.[2]

Selain serpihan catatan, sejarah Jurukalang kebanyakan disampikan secara turun temurun, hampir tidak ada catatan yang ditulis oleh masyarakat lokal tentang Jurukalang, dari wawancara yang dilakukan kebanyakan menceritakan bahwa di Jurukalang sebelum ditempati oleh masyarakat yang mereka sebut ‘masyarakat beradat’ kebanyakan mereka mulai menceritakan sistem lokal yang diyakini, bahwa sebelum kejadian asal warga komunitas tersebut diwilayah ini terdapat beberapa manusia ‘dewa’ dan dalam bahasa lokal di sebut diwo-diwo yang berada di Istana Ninik Mekedum Rajo Diwo masing-masing mereka adalah Raden Serdang Lai, Raden Serdang Titik, Cito Layang, Puteri Emban Bulan, Puteri Serasa Dewa, Puteri Gading Cempaka dan Puteri Serindang Panan.[3]

Ada kepercayaan yang berkembang di masyarakat, Perkembangan dari zamannya dewa-dewi ini kemudian banyak di ceritakan bahwa terdapat Manusia Setengah Dewa bagi masyarakat lokal Jurukalang di sebut dengan Diwo Tu’un Semidang, mereka yang lahir Tu’un Semidang umumnya tidak diketahui dari mana asal usul, di Jurukalang di yakini sebagai Diwo Tu’un Semidang adalah Anok Mecer, Bujang Tungea, Anok Dalam, Lemang Batu, Batu Idak Cene, Bujang Remalun, Semalim Angin atau Seliman Putih dan Burung Binang.[4]

Dari perkembangan Diwo Tu’un Semidang tidak diketahui secara pasti namun dari cerita-cerita rakyat (folklore) yang masih sangat dipercayai oleh warga komunitas Jurukalang bahwa pasca setelah Diwo Tu’un Semidang hidup masyarakat nomanden selama 5 tahap[5].

Ada beberapa bagian cerita pada tahap atau generasi ini dimana hidup masyarakat komunal dengan sistem ’meduro kelam’[6], yang dibagi menurut perkembangan generasi, generasi pertama biasa disebut dengan Jang Bikoa (Rejang Berekor) dari beberapa cerita yang coba disimpulkan oleh Team AMARTA Rejang Bikoa bukalah Rejang yang sedang mengalami evolusi biologis seperti teori Darwin bahwa manusia berasal dari kera atau perubahan atas proses jangka waktu tertentu yang berarti perubahan sifat-sifat yang diwariskan dalam suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi Zaman Rejang Bikoa adalah penjelasan dari kondisi Evolusi Peradaban dan budaya masyarakat di masa tertentu, evolusi peradaban yang dimaksud adalah proses peralihan pengenalan sistem adat dari Meduro Kelam menjadi manusia yang mulai mengenal kearifan-kearifan tertentu dalam mengatur proses persingungan antar meraka, dengan alam maupun dengan kepercayaan tertentu, sedangkan penyebutan budaya masyarakat adalah kebiasaan sebuah komunitas tertentu dalam menyelesaikan sebuah perkara yang tak pernah berujung.

Zaman Segeak yang merupakan perkembangan dan penyebutan zaman Bikoa, dalam istilah lokal zaman ini hanya untuk menyebutkan pola-pola hidup mereka yang nomaden dan food gatering, kecenderungan masyarakat Rejang yang hidup di zaman ini adalah bermata pencaharian berburu dan mengumpulkan makanan, hidup berpindah-pindah, tinggal di gua-gua, dalam sejarah Rejang menurut Bapak Kadirman SH[7] ada kecenderungan yang besar masyarakat ini hidup dibawah permukaan tanah dia menyebutkan bahwa Gua Kazam yang terletak di Lebong Atas merupakan tempat hunian orang Rejang Zaman ini dan banyak ditemui peralatan-peralatan masyarakat di wilayah ini, alat-alat yang digunakan terbuat dari batu kali yang masih kasar, tulang-tulang dan tanduk rusa, dari cici-ciri yang ada kemungkinan zaman Segeak ini adalah zaman batu tua (Palaeolithikum) dan Zaman batu tengah (Mesolithikum). Belum ada sistem budidaya kebutuhan makanan sehingga semuanya diambil dari alam, atas kondisi ini kemudian banyak menyebutkan bahwa masyarakat yang hidup pada zaman pola food gatering ini memakan semua yang di anggap bukan makanan yang secara medis mengangu fisik mereka.

Perkembangan dari Zaman Segeak ini, masyarakat komunal mulai meninggalkan tradisi-tradisi Zaman Segeak, hidup relatif menetap dan mulai melakukan budidaya-budidaya pertanian sehingga zaman ini disebut dengan Rejang Saweak, saweak dalam bahasa Rejang adalah sawah (suatu tempat untuk bercocok tanam jenis padi). Mereka umumnya menetap disepanjang hulu sungai yang banyak terdapat di wilayah Jurukalang seperti Sungai Ketahun, Sungai Buah, Sungai Baloi, dari beberapa bukti yang ditingalkan pola pertanian mereka umumnya dengan membuat kolam-kolam besar di tengah-tengah hutan, mereka tidak tinggal di dalam gua, seperti masyarakat primitif lainnya karena diwilayah ini hampir tidak ditemukan gua-gua yang menunjukan sebagai tempat tinggal, umumnya mereka membuat pondok yang dikenal sebagai serudung untuk tempat tinggal.[8]

Perkembangan yang penting adalah Zaman Ajai, Ajai itu sendiri berasal dari kata majai yang berarti pimpinan suatu kumpulan komunitas tertentu, dalam sejarah Rejang terdapat 4 Ajai yang memerintah di wilayah Kutai Belek Tebo (wilayah Lebong Sekarang). Dari beberapa catatan WL De Sturler, pada zaman Ajai ini Lebong masih bernama Renah Sekalawi atau Pinang Belapis, sekumpulan manusia pada zaman ini sudah hidup secara menetap merupakan satuan masyarakat komunal, belum ada kepemilikan pribadi pada zaman ini, semua yang ada merupakan hak bersama, pentinnya kepemimpinan Ajai ini sangat dihormati oleh masyarakat komunal namun Ajai dianggap sebagai anggota biasa dari masyarakat hanya saja diberi tugas dalam memimpin.[9]

Yang paling diketahui oleh masyarakat Jurukalang adalah Ajai Siang, namun ada kepercayaan bahwa bukan hanya Ajai Siang ini saja yang memimpin komunal yang dimaksud tetapi masih ada Ajai-Ajai lain yang hilang dari sejarah masyarakat Jurukalang. Namun yang terpenting ketika Ajai Siang ini memimpin di wilayah Rejang di datangi 4 orang bikau yang kemudian dipercayai memperbaharui peradaban di wilayah Rejang tentunya termasuk wilayah Jurukalang, terjadi perdebatan panjang tentang asal usul para bikau ini, sebagian menyakini bikau berasal dari majapahit dan sebagian besar meyakini berasal dari jazirah arab, dan sebagian ada yang meyakini dari China.

Argumen menyebutkan bahwa Rejang secara umum berasal dari china dibuktikan dengan fakta sejarah yang menunjukkan bahwa bangsa China telah datang ke wilayah ini sejak tahun 225-216 SM atau 147–138 tahun saka, mereka umumnya berasal dari negeri Hyunan (China daratan), dengan bahasa Mon. Bahasa inilah yang menyebar keberbagai negeri di Thailand, Birma, Kamboya dan sebagian Korea, dan pertama kali mendirikan negeri bernama Lu-Shiangshe yang berarti sungai kejayaan atau sungai yang memberi kehidupan/harapan atau sungai emas, yang penduduknya disebut dengan sebutan Rha-hyang atau Ra-Hyang atau Re-Hyang atau Re-jang, sebuah tempat yang terletak di pesisir barat Pulau Sumatera, pembuktian ini kemudian diperkuat Suatu hal yang menarik adalah ditemukannya mata uang China (Numismatic) yang bertuliskan Chien Ma berangka tahun 421 Masehi di Bengkulu Utara (Pulau Enggano). Mata uang yang Sama juga ditemukan di Criviyaya atau Criwiyaya (Baca: Palembang) dan di Tarumanagara (Baca: Jakarta). Dari kata CHIEN MA inilah muncul kata Cha-Chien (Caci=uang dalam bahasa Rejang).[10]

Sementara dari sejarah yang coba disusun oleh penulis yang disadur dari cerita secara turun temurun bahwa komunitas Jurukalang khususnya Bikau Bembo dan keturunanya berasal dari Jasirah Arab, salah satu bukti yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik di Jurukalang adalah Pedang yang bertulisan arab, pedang ini dipercayai milik dan peningalan oleh Bikau Bembo yang di pelihara oleh keluarga ahli waris yang tinggal di Desa Talang Baru. Dari sejarah yang didapati dari ninik mamak bahwa Bikau Bembo berasal dari Istambul dan merupakan anak dari Zulkarnaene, apakah ada hubungan dengan Alexander Agung (Alexander the Great) yang merupakan anak kepada Maharaja Philip II dari Macedonia yang ibunya berasal dari surga yang boleh jadi adalah Puteri Olympias dari Epirus, akan sangat dini jika disebut ada hubungan dengan Alexander the Great dan Puteri Olympias dari Epirus, biasanya sejarah yang diturunkan secara turun temurun dalam prosesnya ada bagian yang tidak boleh di publish tanpa alasan yang jelas dan ada transfer pengetahuan yang tidak sempurna maupun dipengaruhi oleh pola pikir dan pengaruh eksternal bagi orang yang menerima cerita tersebut.

Dalam cerita yang percayai di Jurukalang Bukau Bembo yang menikah dengan salah satu Puteri Ajai Siang yang bergelar Ajai Bijar Sakti yang bernama Dayang Regiak, dari perkawinan ini melahirkan 7 orang putra yang semuanya lahir di Jurukalang masing-masing putra tersebut adalah;

1. Rio Menaen
2. Rio Taen
3. Rio Tebuen
4. Rio Apai
5. Rio Mangok
6. Rio Penitis
7. Tuan Diwo Rio Setangai Panjang

Yang terakhir dipercayai sebagai jelmaan dari kedua orang tuanya, dalam proses kelahiranya diceritakan bahwa kedua orang tuanya berkeinginan untuk mencukupi anaknya menjadi 7 orang sehingga kedua orang tuanya (Bikau Bembo dan Dayang Regiak) melakukan pertapaan dan meminta kekuatan para dewa, pada hari ke 7 ritual tersebut Bikau Bembo dan isterinya Dayang Regiak hilang, Raib dalam bahasa lokal tempat Raib/hilangnya Bikau Bembo ini saat dikenal dengan Keramat Topos, namun tiba-tiba di lokasi ritual tersebut ada seorang bayi yang kuku tangannya panjang sampai ke siku sehingga di sebut Rio Satangai Panjang.

Ke tujuh anak Bikau Bembo ini kemudian menyebar di wilayah Rejang yang sekarang, Rio Menaen membentuk Kutai di Teluk Diyen, Rio Taen berkedudukan di Kutai Donok (Kota Donok sekarang), Rio Tebuen kemudian membentuk di Komunitas Jurukalang di Lubuk Puding di perbatasan Bengkulu dengan Sumatera Selatan, Rio Apai di Talang Useu Lais kemudian disebut Rejang Pesisir begitu juga dengan Rion Mangok membentuk komunitas Jurukalang di Gading Pagar Jati, sedangkan Rio Penitis membentuk Komunitas Jurukalang di Musi, hanya Rio Setangai Panjang yang berkedudukan dan meneruskan kepemimpinan di Tapus Jurukalang.

Sampai saat ini dokumentasi yang masih di ingat oleh tua-tua di Jurukalang, dari generasi Bikau memimpin kelembagaan Petulai Jurukalang sampai dibubarkannya marga akibat kebijakan sentralis negara melalui UU No 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, Petulai Jurukalang dipimpin 19 Generasi Kepala Persekutuan, ke 17 orang yang dimaksud adalah;[11]

1. Bikau Bembo

2. Rio Taen

3. Tuan Diwo Rio Setangai Panjang

4. Rio Tado

5. Depati Singo

6. Depati Sugon

7. Depati Kulon

8. Sipan

9. Rajo Sediwo

10. Djike

11. Salam

12. Terusan

13. Ratu Salam

14. Sijar

15. Ali Asar

16. Ali Kera

17. Abdul Muin

18. Gulam Ahmad

19. Sabirin Wahid

Rio Setangai Panjang hanya mempunyai 6 orang putra putra yang ke semuanya berkedudukan di Tapus sebagai pusat kedudukan Marga Jurukalang, masing-masing putra putri tersebut adalah Mangkau Bumai, Temengung, Dayang Regini, Dayang Reginang, Malim Rajo dan Pedito Rajo. Kebiasaan di Jurukalang yang meneruskan kepemimpinan Marga adalah Putra tertua dari generasi sebelumnya dan kemudian diberi gelar Depati atau Pesirah, ketika pemerintahan Belanda baru kemudian ada proses demokratisasi dalam pemilihan kepemimpinan.

[1] W. Marsden, The History of Sumatera, London MDCCLXXXIII, hal 178

[2] Dr. JW. Van Royen, adat-federatie in de Residentie’s Bengkoelen en Palembang Bab de Redjang. Hal 18

[3] Cerita ini kebanyakan di ceritakan di Desa Tapus oleh Bapak Salim Senawar

[4] Diwo Tu’un Semidang atau tun semidang adalah penyebutan dalam bahasa rejang Jurukalang dimana ada kesulitan untuk menyebukan asal-usul seseorang secara pasti

[5] Tidak ada penjelasan lebih rinci mengenai 5 tahap ini, namun gambaran yang coba ditangkap oleh penulis adalah 5 generasi/keturunan satu klan, jika di asumsi 1 tahap/generasi adalah 100 tahun maka lamanya generasi ini adalah 500 tahun

[6] Meduro Kelam, adalah istilah lokal untuk menyebutkan Priode tanpa peradaban atau sering di sinonim dengan Jahilliah.

[7] Kadirman SH adalah ketua Badan Musyawarah Adat Kabupaten Rejang Lebong dan penyusun buku Rejang Ireak Cao

[8] Ada banyak pendapat mereka juga tinggal di dataran-dataran landai di sepanjang Danau Tes dan berpendapat sebagain besar masyarakat primitif Rejang hidup dan menetap di dalam gua-gua di wilayah Lebong yang sekarang seperti di Gua Kasam di Lebong Atas, dan sepertinya masyarakat komunanal yang berada di Jurukalang sampai saat tidak ada bukti-bukti yang menunjukan gua-gua di Jurukalang yang digunakan sebagai tempat tingal atau menetap. Serudung adalah sejenis pondok sederhana sampai saat ini masih banyak ditemui di wilayah Jurukalang biasanya ketidak akan membuka lahan perkebunan masyarakat membuat bangun ini.

[9] W.L. de Sturler, Proeve eener bechrijving van het gebied van Palembang. Groningen 1843 hal 6

[10] Hakim Benardie Sabri, www.metrobengkulu.com

[11] Nama-Nama ini diambil dari dokumentasi catatan Wak Usman Desa Talang Baru

sumber : http://wintopos.wordpress.com
READ MORE - Jurukalang dalam Serpihan Catatan

Selasa

Menapak Jejak Sejarah Suku Rejang


Perjalan untuk mendokumentasikan huruf-hurus kuno rejang (huruf ka ga nga) sebenarnya sudah lama saya lakukan yaitu pada bulan Januari-Febuari 2008. Bersama dengan teman-teman Gekko Studio kami berangkat ke Bengkulu. Dengan menggunakan mobil hiline long sasis yang kami beli di Bali pada bulan desember tahun lalu kami berangkat menuju Bengkulu, Tepatnya Bengkulu Utara kampung halamanku. Kami sengaja membeli mobil sendiri biar puas untuk muter-muter Bengkulu dan kedepannya jikalau ada perjalanan yang areanya masih sekitar jawa dan sumatera kami bisa menggunakan kendaraan sendiri biar lebih hemat. Hemat, belajar dari pengalaman disaat kita membuat sebuah film dokumenter tentang impact perkebunan sawit terhadap anak suku dalam di Jambi. Kami harus merental mobil hiline ini dengan harga 400 ribu perhari. Lumayankan kalo kita sewa selama 10 hari lebih plus BBM-nya.

Di Bengkulu selain membuat film dokumenter tentang keterancaman gajah sumatera yang ada di Bengkulu kami juga menyempatkan diri untuk berangkat ke Kabupaten Lebong dan Curup untuk survey mengenai keberadaan tulisan rejang (huruf ka ga nga) dan sejarahnya. Perjalanan ini juga merupakan perjalanan ritualku karena akan menelusuri sejarah persebarang suku rejang yaitu suku saya sendiri. Selama ini saya yang terlahirkan dari keturuanan asli rejang saya tidak pernah tahu sejarah persebarannya. Norak ngga ya :)

Tulisan ini adalah saya kembangkan dari hasil wawancara dengan Pak Salim, salah satu tokoh adat yang ada di Desa Topos, Kabupaten Lebong. Salah satu kampung tertua yang ada di Lebong yang terletak di hulu sungai ketahun. Karena saya terlebih dahulu harus mencatat hasil-hasil wawancaranya disela-sela rutinitas yang ada dan sekaligus mencoba untuk mentransletnya (berhubung wawancaranya menggunakan bahasa rejang), jadi yah beginilah jadi lama saya menulisnya ke blog ini. Hasil-hasil wawancara ini saya coba rangkai dan kembangkan agar enak dibaca. Mohon maaf jikalau nanti bahasanya masih ada yang kaku dan lompat-lompat serta ada beberapa bahasa yang tidak mampu saya terjemahkan.


Sejarah Rejang

Asal mula masyarakat rejang yang ada di Bengkulu menurut cerita nenek mamak atau orang-orang tua (Pak Salim dan Masyarakat Topos) adalah pertamanya ditemukan di Desa Siang, muara sungai ketahun. Pada masa itu pemimpin masyarakat rejang adalah Haji Siang. Dimana sebelum Haji Siang, lima tahap diatas Haji Siang orang rejang sudah ada. Pada masa haji ini ada emapat orang haji yaitu Haji Siang, Haji Bintang, haji Begalan Mato dan Haji Malang. Karena mereka berempat tidak bisa memimpin dalam satu daerah, akhirnya mereka membagi wilayah kepemimpinan. Haji Siang tinggal di Kerajaan Anak Mecer, Kepala Sungai Ketahun, Serdang Kuning. Haji Bintang ada di Banggo Permani, manai menurut istilah rejangnya yang sekarang terletak di Kecamatan Danau Tes. Haji Begalan Mato tinggal di Rendah Seklawi atau Seklawi Tanah Rendah. Kerajaan Haji Malang bertempat tinggal diatas tebing, sekarang namanya sudah menjadi Kecamatan Taba' Atas.

Dalam keempat kepemimpinan ini mereka ada sebuah falsafah hidup yang diterapkan yang itu pegong pakeui, adat cao beak nioa pinang yang berartikan adat yang berpusat ibarat beneu. Bertuntun ibarat jalai (jala ikan), menyebar ibarat jala, tuntunannya satu. Jika sudah berkembang biak asalnya rejang tetap satu. Kenapa ibarat beneu? beneu ini satu pohon, tapi didahan daunnya kait-mengait walaupun ada yang menyebar atau menjalar jauh. Walaupun pergi ketempat yang jauh tapi tahu akan jalinan/hubungan kekeluargaannya. Bisa kembali lagi darimana asal mereka berada.

Pegong pakeui juga mengajarkan bahwa kita sebagai manusia mempunyai hak yang sama. Jika kita sama-sama memiliki, maka kita membaginya sama rata. Jika kita menakar (membagi), misalnya membagi beras, kita menakarnya sama rata atau sama banyaknya. Jika kita melakukan timbangan, beratnya harus sama berat. Itulah pegong pakeui orang rejang. Amen bagiea' samo kedaou, ameun betimbang samo beneug, amen betakea samo rato. Artinya jika membagi sama banyak, jika menimbang sama berat, jika menakar sama rata). Itulah cara adat rejang.

Dengan persebaran dan berkembang biaknya dari empat kerjaan ini mereka mencari tempat-tempat di kepala air (hulu sungai) untuk dijadikan tempat tinggal. Seperti yang ada sekarang ini yaitu Rejang Aweus, Rejang Lubuk Kumbung yang ada didaerah Muaro Upit, Rejang Lembak (Lembok Likitieun, Lembok Pasinan) dan termasuk juga Rejang Kepala Curup. Dasar persebaran ini adalah dari Rio (belum jelas Rio ini siapa dan keturunan darimana). Dipercaya Rio berasal dari Desa Topos yang pecahan kebawahnya adalah Tuanku Rio Setagai Panjang. Rio Setagai Panjang ini memiliki tujuh orang bersaudara dan berpencar untuk mencari tempat tinggal. Diantara dari tujuh Rio tersebut dan persebarannya di Bengkulu adalah sebagai berikut:
1. Rio Tebuen ada di Desa Lubuk Puding, Pasema Air Keruh
2. Rio Penitis ada di Curup. daerah Selumpu Sape
3. Rio Mango' keturunannya sekarang mulai dari Pagar Jati sampai ke hulu nya yaitu Desa Gading, Padang Benar dan Taba Padang
4. Rio Mapai sekarang keturuanannya ada di Kecamatan Lais, itulah asal orang rejang yang terletak di bagian utara

Suku Rejang memiliki lima marga, yaitu Jekalang, Manai, Suku Delapan, Suku Sembilan dan Selumpu. Lima marga inilah sekarang yang ada di tanah rejang yang ada di Bengkulu. Jika ada yang pindah ketempat lain mereka akan tetap berdasarkan lima marga tersebut. Walaupun mungkin banyak orang-orang rejang yang ada di Bengkulu sudah tidak tahu lagi mereka masuk kedalam marga apa. Dikatakan oleh orang tua dahulu pecua' bia piting kundei tanea' ubeuat, pecua bia' piting kundei tanea' guao', istilah rejangnya mbon stokot, 'mbar-mbar ujung aseup, royot kundeui ujung stilai. Artinya masih ada asal usul yang menyangkut tanah lebong, walau dia berpencar kemanapun. Dari kepercayaan yang ada, mereka percaya asal mula rejang itu satu. Tidak ada bibitnya (asal usulnya) dari orang lain. Semuanya berasal dari Ruang Lebong atau Daerah Lebong yaitu dari Ruang Sembilan Sematang. Walaupun sekarang orang rejang atau suku-suku rejang sudah menyebar dipelosok nusantara ini ataupun diluar negeri sekalipun.



Cara Adat Rejang yang sudah menghilang

Seperti halnya dengan suku-suku lain yang ada di nusantara ini, suku rejang juga memiliki adat dan budaya dalam melakukan beberapa kegiatan ataupun upacara adat. Salah satunya adalah cara untuk menikahkan anak dan adat untuk membayar nazar jikalau kita ingin membayar nazar atau hutang. Cara yang dilakukan adalah memakai sesajen untuk berkomunikasi dengan pada arwah-arwah atau penghulu-penghulu kita yang sudah pergi. Kita memberi tahu jika kita ingin membayar nazar aatu ingin mengadakan pernikahan anak kita. Sesajen ini biasanya dengan menyertakan ayam yang dalam bahasa rejangnya disebut mono' biing.

Pada zaman dahulu, sebelum memakai benih untuk menanam harus mengundang benih terlebih dahulu, yang disebut bekejai binia'. Benih ini ditaroh didalam tadeu (sejenis keranjang yang terbuat dari rotan atau bambu). Ngekejai (belum jelas apa/siapa ngekejai) memanggil malaikat jibril, israfil, mikail dan juga para dewa. Jika jumlah benih yang ada didalem tadeu semakin banyak jumlahnya berarti ada harapan hasil panen akan banyak dan ada rezeki nantinya. Namun jika benihnya tidak bertambah banyak jumlahnya mungkin pertanda hasil ladang kita tidak akan maksimal hasilnya. Jika ingin memotong bambu itu bagi orang rejang ada pantangannya, begitu juga jika ingin membuka hutan. Jika kita ingin membuka hutan kita harus menabeues, menyatakan maksud kita kepada yang menjaganya. tanea' talai istilahnya, tukang ngembalo tanea' dunionyo (penjaga tanah di dunia ini). Tuhan tidak hanya menurunkan sesuatu ke bumi ini tanpa ada yang menjaganya. Jika kita ingin membuka lahan disuatu area tersebut kita tancapkan sebuah pancang. Jika diarea yang kita beri tanda tidak menyahut atau ada pertanda yaitu misalnya berupa binatang mati atau berupa darah, berarti kita harus membatalkan niat kita untuk membuka lahan disana dan pertanda bukan rezeki kita disana, melainkan tanda bala' yang memanggil kita.

Dalam menanam padi, jika terdapat hama dalam tanaman tersebut seperti hama pianggang, senangeuw, luyo atau luyang dalam bahasa rejannya, mereka membasmi dengan memakai daun sirih dengan cara menyemburkan air daun sirih tersebut sewaktu sore hari menjelang maqrib. Dalam tiga kali semburan dalam waktu senja hama itu bisa pergi. Dengan kekuasaan Tuhan mahkluk ini bisa pergi. Pada zaman itu tidak mengenal pestisida ataupun racun. Karena mereka percaya, jika niat kita jelek untuk membasmi mahkluk Tuhan, maka timbal baliknya adalah bencana. "Sebab niat kita mau membasmi mahkluk Tuhan, sedangkan cara adat itu di jampi, nidau kalo dalam bahasa rejang, disusur darimana asalnya, baliklah ke tempat asalnya" terang pak salim kepadaku karena sekarang sudah banyak yang menggunakan racun pestisida dalam membasmi hama.

Jika orang rejang ingin membuat rumah untuk tempat tinggal, terlebih dahulu mereka memilih jenis kayunya. Misalnya kayu meranti, kayu semalo, kayu medang. Cara untuk mengambil kayu tersebut pun ada aturan adatnya, yaitu jika tumbangnya mengarah ke kepala air atau mengarah mata air, atau menusuk ke leko' itu tidak boleh diambil. Itu tandanya celaka dalam arti kita sebagai orang rejang. Rumah yang sudah kita bangun dan setelah kita huni kita akan jatuh sakit ataupun meninggal dunia. Meninggal dalam artian bukan karena rumah tersebut, tapi karena celaka atau musibah, banyak masalah yang datang. Kemungkinan hidup kita akan susah setelah itu karena kayu yadi membawa bencana. Bagusnya dalam membangun rumah adalah jika kayu yang kita ambil tumbangnya mengarah ke desa atau kampung. "Inilah 100% sebagai tanda-tanda yang bagus untuk kita membangun rumah" ungkap pak salim.

Sebelum adanya masa orde baru atau Rezim Suharto, ditanah rejang masih dikenal dengan sistem kepemimpinan yang dipimpin oleh Kepalo Banggo (Kepala Marga) atau raja bagi masyarakat rejang. Kepala Marga memegang dua pernanan, yaitu menjalankan roda pemerintahan dan juga menjalankan sistem-sistem adat yang ada karena dialah raja dari adat. Antara tahun 1977-1978 kepala marga ditanah rejang dihapus dan digantikan dengan sistem pemerintahan yang ada yaitu camat, kepala desa dan turunannya. Kepala marga diganti dengan Camat. Setelah sistem kepala marga diganti, masyarakat adat seperti ayam kehilangan induknya. Banyak cara-cara adat yang sudah tidak diterapkan lagi dan budaya-budaya serta kearifan lokal perlahan memudar. Orang-orang pemerintahan tidak paham dan mengerti akan cara-cara adat. Dan disebutkan bahwa inilah awal dari kehancuran budaya dan adat istiadat rejang yang ada sekarang ini.

Hilangnya adat istiadat, hilangnya budaya asli rejang juga memudarkan sebuah ajaran rejang mengenai pegong pakeui. Saat ini berbagi sudah tidak mau lagi sama banyak, menimbang tidak mau sama berat, menakar sudah tidak mau lagi sama rata. Siapa yang berkuasa dan gagah itulah yang memegang kekuasaan. Manusia dalam berprilaku sudah tidak terkontrol lagi yang akhirnya mendatangkan bencana bagi manusia itu sendiri.

"Itulah penyebab yang mendatangkan banjir, karena manusia membabi buta dalam membuka hutan. Tidak mengikuti aturan lagi, tebing dibuat lahan, nah itulah barangkali hutannya bakal rusak. Kalau zaman saya hingga bapak saya keatas, zaman nenek saya tidak pernah rusak. Dijamin tidak ada yang rusak hutannya" tegas pak salim yang membuat saya kagum akan semua penjelasan beliau.

sumber :http://berangberang.blogdrive.com
READ MORE - Menapak Jejak Sejarah Suku Rejang

Sabtu

Dobrak Birokrasi


Sumber : Sekilas Isi buku Dr. Dino Patti Djalal. Yang Berjudul KITA HARUS BISA Memimpin Ala SBY

"Penyakit bangsa kita yang paling parah adalah mentalitas kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah." - Presiden SBY

Dari sekian banyak anekdot mengenai birokrasi, satu yang paling membuat geram Presiden SBY adalah kasus kompor gas Electrolux—apa yang kemudian sering saya sebut sebagai 'sindrom Electrolux.'

Suatu hari di tahun 2005, saya tidak ingat tanggalnya, Presiden SBY menerima Dr. Kuntoro Mangkusubroto di kediaman beliau di Cikeas. Kuntoro, seorang ahli manajemen yang terkenal serba bisa dan berintegritas tinggi, dipanggil SBY dalam kapasitas sebagai Ketua BRR untuk memberikan paparan mengenai perkembangan rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh.

Diskusi berjalan lancar, sampai suatu ketika Presiden SBY menanyakan mengenai nasib pengungsi. Presiden menaruh perhatian khusus pada pengungsi karena beliau pernah melihat sendiri kondisi hidup mereka di tenda-tenda darurat. Ada sekitar 500.000 pengungsi Aceh yang hidup dalam kondisi memilukan: satu tenda bisa 5 keluarga, banyak yang tidur di atas tikar yang dibentang di tanah, sama sekali tidak ada keleluasaan pribadi, kalau satu sakit seluruh penghuni tenda bisa sakit dan tidak ada jaminan masa depan. Setelah ribuan jenazah tsunami terkubur, nasib pengungsi menjadi masalah paling utama, yakni bagaimana membangun rumah baru bagi mereka dan bagaimana memberi mereka makan, air bersih, sanitasi, pengobatan, termasuk sekolah bagi anak-anak mereka.

Kuntoro menjawab bahwa pembangunan rumah terus dipacu, namun ia mengeluh mengenai masalah 'Electrolux.'

SBY: "Masalah apa?"

Kuntoro: "Ada donor yang ingin membantu korban tsunami dengan menyumbang kompor gas Electrolux. Jumlahnya seribu lebih. Kalau dihitung 1 kompor gas bisa dipakai untuk puluhan keluarga, ini bisa membantu puluhan ribu orang, sebagian besar dari seluruh pengungsi."

SBY: "Bagus dong. Gratis?"

Kuntoro: "Gratis, Bapak Presiden. Ini hibah karena mereka kasihan dengan korban dan ingin membantu."

SBY: "Masalahnya?"

Kuntoro: "Masalahnya kompor itu sudah 9 bulan mandeg di Tanjung Priok."

SBY (dengan suara meninggi): "Kenapa?"

Kuntoro: "Iya, birokrasi Pak. Barang-barang itu akhirnya ditahan di pelabuhan, sampai sekarang, sementara petugas imigrasi dan bea cukai lempar-lemparan, sehingga akhirnya semua orang jadi kebingungan, termasuk Departemen Sosial. Sudah 9 bulan bantuan itu mandeg."

Saya tidak pernah melihat SBY segeram itu. Segera Presiden meminta disambungkan ajudan dengan beberapa Menteri, yang dihadiahi dampratan keras.

SBY: "Bagaimana ini terjadi? 9 bulan! Apa saudara tahu ini? Ini kan situasi luar biasa. Rakyat kita sedang menderita, hidup tidak jelas di tenda-tenda, kok petugas kita bersikap 'business as usual.' Seribu lebih kompor gas ditahan dan tidak ada yang mencoba memperlancar. Saya tidak bisa terima birokrasi yang tidak bisa membaca situasi darurat, yang tidak peka pada penderitaan rakyat. Segera tangani dan perbaiki! Lapor ke saya kalau sudah terlaksana."

Tidak lama kemudian Presiden mendapat laporan bahwa barang-barang kompor tersebut sudah tiba di tempat tujuan di kamp pengungsi.

Saya adalah seorang birokrat, tapi saya adalah orang pertama yang mengakui bahwa masalah utama dalam melakukan perubahan adalah birokrasi.

Hal ini sebenarnya berlaku di mana-mana, baik di negara maju maupun negara berkembang. Akan selalu ada kesenjangan antara pemimpin politik yang baru terpilih dengan mesin birokrasi yang dipimpinnya. Di Amerika Serikat, begitu Presiden baru masuk Gedung Putih, sekitar 50.000 jabatan Federal di berbagai Departemen akan diganti oleh pejabat non-karir (political appointees) dari penguasa yang baru dan proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, sehingga menimbulkan kemacetan dalam proses pembuatan keputusan. Di Korea Selatan, Presiden baru tidak perlu melakukan perombakan besar-besaran karena birokrasinya sudah profesional dan siap pakai dan sudah terbiasa dengan pergantian Pemerintah. Di Indonesia, birokrasi bisa menjadi masalah karena berbagai hal:
kecenderungan untuk memelihara masalah, ketimbang menyelesaikannya;
lebatnya kepentingan pribadi dalam sistem birokrasi, yang praktis memenjarakan masalah dari solusi;
kecenderungan birokrat untuk cari selamat (safety player) sehingga mereka cenderung lari, menguburkan kepala atau mengacuhkan masalah;
lemahnya inovasi. Banyak birokrat yang tenggelam dalam rutinitas yang menjemukan, yang menjadikan birokrat seperti robot;
lemahnya sistem rekruitmen dan promosi. Karena faktor gaji, pencari kerja baru lebih terdorong masuk swasta. Sementara itu, tidak jarang birokrat idealis dan unggul yang terlantar karena sistem promosi tidak terlalu dikaitkan dengan prestasi;
masih maraknya tipe aparat yang ingin dilayani ketimbang melayani masyarakat, sehingga dalam setiap situasi ia selalu memperhitungkan: "saya dapat apa?"


SBY sangat memahami bahwa perubahan besar tidak mungkin bergulir tanpa dukungan birokrasi. Dari awal, saya melihat bahwa tantangan utama SBY adalah bagaimana visi, misi, target dan program Presiden dapat segera diinternalisasikan, diolah dan dijalankan oleh birokrasi di berbagai sektor dan berbagai tingkat.

SBY pernah mengatakan dalam diskusi dengan staf khusus: "Tantangan kita adalah mata rantai keputusan di zaman sekarang tidak sama dengan mata rantai di beberapa puluh tahun lalu. Di masa Pak Harto dulu, suatu keputusan yang diambil di puncak akan dengan mudah dieksekusi dan menjalar turun sampai ke tingkat paling bawah di desa-desa. Sistemnya sangat tersentralisasi dan kekuasaan Presiden begitu besar, sementara DPR belum sekuat sekarang. Sekarang realitasnya sudah berubah. Gubernur, Bupati dan Walikota punya mandat politik sendiri. DPR, DPD dan DPRD sangat aktif. Banyak keputusan yang harus diperjuangkan agar dapat bersama-sama dilaksanakan secara horizontal maupun vertikal, dari atas sampai bawah. Ini memerlukan seni tersendiri." Dan ini adalah seni yang harus dipelajari dan dikuasai oleh semua Presiden Indonesia semenjak sekarang.

Untuk diketahui, birokrasi tidak otomatis akan memahami misi Presiden terpilih: pertama, karena birokrasi berada di luar proses pemilu dan kedua, pasti akan ada program Presiden yang bertabrakan dengan kepentingan dalam tubuh birokrasi itu sendiri.

Dan SBY benar: dalam kenyataannya, saya sudah berkali-kali melihat keputusan dari tingkat tertinggi dicoba dijegal pada tingkat eselon 1 atau eselon 2 ke bawah, terutama sekali apabila menyangkut sektor-sektor yang 'basah'. Sahabat saya, Adam Schwarz, penulis buku klasik 'Indonesia: A Nation in Waiting,' menamakannya sindrom 'pasif agresif,' dimana birokrasi menjadi sangat kreatif, sangat agresif dan sangat ngoyo untuk menjaga status quo dan mencegah perubahan yang mengancam kepentingannya.

SBY tahu sekali bahwa birokrasi tidak akan mengubah dirinya sendiri kecuali mulai diubah oleh pimpinan politik. Di sini, faktor kepemimpinan menjadi penting. Kepemimpinan Presiden ditunjukkan dengan menentukan arah dan strategi, merumuskan program, menetapkan target, memelihara kekompakkan Kabinet, menjaga standar integritas dan memacu kinerja. Namun semua ini hanya akan berhasil apabila Menteri juga menunjukkan kepemimpinannya. Menteri harus juga bisa membawa angin segar perubahan dalam departemennya, melakukan dobrakan dan menjaga momentum itu. Yang paling parah adalah apabila seorang Menteri, karena kurang pengalaman berorganisasi atau karena lemah kepemimpinannya, tersedot dalam politik kepentingan internal departemen dan menjadi bagian dari masalah. Menteri harus selalu menjadi agen dari Presiden dan menggunakan mandat dari Presiden sebagai senjata untuk membenahi kepentingan-kepentingan pribadi di departemen.

Dalam tubuh pemerintah, ada ratusan Dirjen dan SBY tidak bisa, serta tidak perlu, memilih semuanya. Namun, menurut Sri Mulyani, ada proses pemilihan dua Dirjen yang mendapat perhatian sangat khusus dari Presiden: Dirjen Pajak dan Dirjen Bea dan Cukai. Kedua Direktorat Jenderal ini memang sangat strategis, karena langsung bersentuhan dengan kesejahteraan masyarakat, berkaitan dengan daya saing dan sangat besar sumbangannya bagi anggaran pembangunan negara. Semua orang tahu bahwa kedua sektor inilah yang benar-benar paling perlu diperbaiki, apalagi karena sudah lama dililit kepentingan-kepentingan pribadi yang begitu besar dan kalau dua sektor ini beres dapat dijadikan acuan bagi sektor-sektor yang lain. Sri Mulyani menyatakan pada saya: "Presiden SBY mau orang yang terbaik, paling bersih dan kompeten untuk dua jabatan ini. Begitu besar perhatian SBY sampai beliau ikut terjun dalam proses pemilihan mereka. SBY dengan teliti dan hati-hati menyaring para calon dan bahkan beliau sendiri yang melakukan penilaian akhir terhadap mereka."

Akhirnya, setelah proses seleksi yang sangat ketat, terpilihlah Darmin Nasution sebagai Dirjen Pajak dan Anwar Supriadi sebagai Dirjen Bea dan Cukai. Dan pilihan ini tidak meleset: mereka melakukan pembenahan serius dan akibatnya, penerimaan pajak non-migas tahun 2007 sekitar Rp 400 triliun, hampir dua kali lipat dari tahun 2004; penerimaan negara dari bea dan cukai Rp 44,7 triliun, sekitar Rp 15 triliun lebih besar dari tahun 2004.

SBY selalu menekankan perubahan tidak akan tercapai apabila pejabat bertindak 'business as usual.' Di sini, satu mentalitas yang paling dibenci SBY adalah pola pikir 'kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah,' yang sebenarnya merupakan fenomena peninggalan KKN masa lampau dimana seorang pejabat hanya akan bergerak dan mempercepat tugas pelayanan masyarakat kalau dirinya mendapat keuntungan pribadi.

Satu hari, SBY membaca laporan Bank Dunia dan International Finance Corporation (IFC) berjudul 'Doing Business 2005,' dimana disebutkan untuk memulai usaha di Indonesia dibutuhkan waktu 151 hari dan Indonesia ditempatkan dalam ranking 115 dari 155 negara yang disurvei.

Presiden kemudian memanggil Kepala BKPM Muhammad Luthfi. "Bagaimana ini?" SBY bertanya.

Luthfi: "Sistem birokrasi kita memang berbelit-belit, Pak. Orang mau tanam modal, mau buka usaha, harus melalui banyak meja, berbagai jendela, macam-macam formulir. Pokoknya, prosedur yang berbelit-belit."

SBY: "Ini tidak bisa. Kok orang mau baik-baik tanam modal

Di kita susah sekali? Benahi segera. Di akhir masa jabatan saya, saya mau turun jauh menjadi 30 hari. Bisa?"

Luthfi terdiam sejenak, mungkin menghitung-hitung di kepalanya dan kemudian menyatakan: "Siap, saya akan usahakan, Pak."

Di awal tahun 2007, Luthfi kembali melapor ke Presiden, kali ini membawa kabar baik. Waktu untuk memulai usaha sudah turun cepat dari 155 hari menjadi 97 hari, sementara izin konstruksi dipangkas dari 49 hari menjadi 21 hari.

Pada waktu itu, Bank Dunia dan IFC mengeluarkan laporan baru yang menyatakan Indonesia sebagai reformer tercepat ke dua di Asia setelah Cina: "Indonesia has implemented a number of significant reforms-second only to China—in 2007." IFC Country Manager for Indonesia Adam Sack menambahkan: "Indonesia is being recognized as one of the fastest reformers in emerging markets along with China, Egypt, India, Turkey and Vietnam." Namun ia mengingatkan: "However, the problem is many competitor countries are making progress as well, which raises the bar for everyone."

Apa yang disampaikan Muhammad Luthfi memang mencerminkan momentum pendobrakan birokrasi secara nasional yang semakin hari semakin kuat. Di Polri, rakyat kini bisa mengurus SIM dengan cepat, tertib dan tanpa pungli.

Di Dephan, sejak 2005, terjadi efisiensi dan rasionalisasi anggaran secara drastis karena pembelian senjata—seperti dengan Perancis untuk misi UNI FIL di Libanon—kini dilakukan secara Government to Government tanpa melalui perantara, atau langsung dengan produsen senjata, tanpa melalui agen.

Di bidang pertanahan, sebagian besar pelayanan pertanahan sudah on-line, sehingga BPN yang tadinya hanya bisa mengurus 970.000 bidang tanah per tahun, kini bisa melayani 3,2 juta bidang tanah. Di Departemen Keuangan, penyelesaian NPWP susut dari dari 3 hari jadi 1 hari kerja.

Di Special Economic Zone di Batam-Bintan-Karimun, sekarang sudah ada pelayanan satu pintu untuk pendaftaran dan perizinan investor.

Di Kepabeanan, proses di jalur merah turun dari 48 jam jadi 12 jam dan di jalur hijau juga jatuh dari 4 jam ke 30 menit. Permohonan penerbitan SP2D (Surat Perintah Pembayaran dari Departemen atau Pemda) juga dipercepat dari 1 hari menjadi 1 jam.

Dalam suatu kunjungan ke KBRI Kuala Lumpur di awal tahun 2007, Presiden SBY pernah mengeluh karena proses pengurusan dokumentasi TKI sangat tidak efisien dan meminta segera diperbaiki. Ketika kembali mengunjungi KBRI 9 bulan kemudian, DCM Tatang Razak sudah bisa melaporkan bahwa waktu pengurusan dokumentasi TKI sudah bisa dikurangi dari 41 hari menjadi 1 jam!

Dan perubahan birokrasi ini tidak hanya datang dari atas, namun juga dari berbagai penjuru. Dewasa ini, banyak pemimpin-pemimpin daerah yang kreatif. Mereka ada yang berasal dari da-lam birokrasi dan ada pula yang datang dari luar pemerintah dan membawa ide-ide baru yang segar. Gubernur Fadel Muhammad, misalnya, dapat melipatgandakan gaji Pemerintah Daerah Gorontalo tanpa sepeserpun menaikkan APBD.

Atas petunjuk Presiden, pada tahun 2007, saya mengorganisir forum 'Innovative Leaders' di Hotel Borobudur dan menampilkan tokoh-tokoh daerah yang inovatif dan cemerlang. Dalam sesi itu, hadirin terpukau oleh pemimpin daerah yang tidak konvensional dan berani melakukan gebrakan-gebrakan.

Gubernur Gamawan Fauzi berbicara bagaimana ia membuat Pakta Integritas untuk pemerintahan bersih di Sumatera Barat, yang sayangnya belum disambut gayung oleh DPRD Sumbar.

Gubernur Barnabas Suebu menjelaskan bagaimana ia mengubah pola pembangunan dari top-down menjadi bottom-up, dimana setiap desa di Papua diberi dana sekian ratus juta yang harus diolah sendiri secara akuntabel.

Bupati I Gede Winasa menguraikan bagaimana ia dapat memberi pendidikan gratis, bahkan sampai tingkat Universitas dan juga kesehatan gratis bagi sel uruh warga Kabupaten Jembrana.

Dan Bupati Untung Wiyono memaparkan mengenai birokrasi one-stop service yang super cepat—dokumentasi kependudukan, pendaftaran usaha dan investasi—yang membuat Sragen salah satu kabupaten yang paling efisien di I ndonesia.

Di akhir sesi ini, ekonom senior Dr. Arifin Panigoro menghampiri saya dan menyatakan bahwa setelah melihat pemimpin-pemimpin seperti ini, ia menaruh harapan besar pada masa depan Indonesia.

Lee Kwan Yew pernah menyatakan bahwa salah satu resep kesuksesan Singapura adalah karena dari 4 juta penduduknya, hanya ada sekitar 2.000 orang di puncak yang mempunyai 'proven track records—not just ability, but in character, determination, commitment' dan dapat memimpin dan memajukan Singapura.

Bangsa Indonesia, dengan 220 juta penduduk, seharusnya dapat mempunyai jajaran pemimpin yang jauh lebih besar. Banyak orang yang mengharapkan demokrasi menghasilkan kesejahteraan yang lebih baik, namun demokrasi juga harus bisa menghasilkan pemimpin yang lebih baik.

Apabila Generasi 1945 membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan, Generasi 1966 dari belenggu komunisme dan Generasi 1998 dari belenggu otoriter, generasi Indonesia abad ke-21 harus bisa melepaskan Indonesia dari segala belenggu yang selama ini mengkungkung energi produktif dan kreatif bangsa kita.

SBY telah menyatakan bahwa beliau ingin melihat Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2030. SBY juga melihat bahwa masa depan kita akan terjamin apabila ekonomi kita mampu mengandalkan dan memadukan sumber alam (resources economy) dan ilmu pengetahuan (knowledge economy).

Saya sungguh percaya bahwa kunci dari pekerjaan besar ini tidak hanya terletak pada kepemimpinan Presiden SBY, namun juga pada kemampuan bangsa kita untuk menumbuhkan barisan pemimpinpemimpin baru yang cemerlang di berbagai lembaga, di berbagai sektor, di berbagai daerah, dan di berbagai usia. Lebih dari lima kali SBY menyatakan dengan penuh keyakinan: "Indonesia memerlukan critical mass, yang harus menjadi pelopor, pendobrak dan penggerak utama untuk menjadi bangsa yang maju. Saya berharap 10–15 tahun ke depan, critical mass ini dapat diwujudkan."

SBY telah menebarkan virus ini sejak tahun 2004. Mudah-mudahan virus kepemimpinan ini bisa menjadi pandemik yang menyelamatkan bangsa Indonesia.
READ MORE - Dobrak Birokrasi

Rabu

10 Tahun Terakhir yang Membanggakan Indonesia













Dalam 10 tahun terakhir (1998-2008), pembangunan di Indonesia mengalami kemajuan signifikan. Pertumbuhan ekonomi, misalnya, pada tahun 1998 minus 13.1 persen. Pada SBY tampil sebagai Presiden, tahun 2004, pertumbuhan ekonomi naik pesat menjadi 5.1 persen. Dan tahun 2008 diproyeksikan sebesar 6,4 persen. Cadangan devisa yang semula 33.8 miliar dolar AS, pada tahun 2008 naik menjadi 69.1 persen.

Tingkat kemiskinan juga terus berkurang. Pada tahun 1998, angka kemiskinan mencapai 24.2 persen. Pada masa awal Presiden SBY, tingkat kemiskinan ini turun menjadi 16.7 persen. Dan pada 2008 tinggal 15.4 persen dari total penduduk Indonesia.

Utang kepada Dana Moneter Internasional (IMF) dipangkas habis pada masa pemerintahan SBY. Tengok saja, pada tahun 1998, utang Indonesia kepada IMF sebesar 9.1 miliar dolar AS. Pada tahun 2006, dua tahun setelah memimpin Indonesia, Presiden SBY berhasil melunasi seluruh utang kita sebesar 7.8 miliar dolar AS.

Selengkapnya, lihat data-data laju pembangunan Indonesia 10 tahun terakhir berikut. Data-data ini berasal dari BPS.

sumber : situs Presiden RI
READ MORE - 10 Tahun Terakhir yang Membanggakan Indonesia

Selasa

Putri Serindang Bulan

Cerita Rakyat dari Tanah Rejang

Putri Yang Malang

Tersebutlah dalam kisah, pada zaman dahulu sebelum ada nama Muara Ketahun, ada nama Sungai Serut. Setelah ditinggali oleh Putri Serindang Bulan, selama setahun, maka dinamailah wilayah itu Muara Setahun (sekarang Ketahun).
Konon pada zaman dahulu ada seorang putri raja yang cantik jelita bernama Putri Serindang Bulan. Oleh karena kecantikannya yang tiada taranya, maka banyak orang yang jatuh hati kepadanya. Sudah banyak pemuda yang tertambat hatinya ingin mempersunting Putri Serindang Bulan. Tetapi Putri Serindang Bulan sendiri belum memikirkan untuk hidup berumah tangga. Walaupun pada saat itu, usia Putri Serindang Bulan sudah cukup dewasa untuk hidup berkeluarga.
Sebagai anak bungsu, Putri Serindang Bulan selalu menunjukkan rasa hormatnya kepada keenam kakak kandungnya. Karena keenam kakak kandungnya belum juga menikah, maka Putri Serindang Bulan tidak mau mendahului. Oleh sebab itulah Putri Serindang Bulan belum bersedia menerima pinangan.
Tentu saja sikap Putri Serindang Bulan itu mengecewakan banyak orang, termasuk pula keenam kakaknya. Keenam kakak kandungnya merasa kecewa dan menanggung malu, karena adiknya tidak mau segera menikah. Padahal keenam kakaknya berniat kawin beleket, setelah Putri Serindang Bulan menikah dahulu. Oleh sebab itulah, pada suatu hari dipanggilnya Putri Serindang Bulan oleh keenam kakaknya.
Di sebuah Balai Panjang Istana, duduklah berkumpul tujuh kakak beradik mengadakan rapat keluarga. Dalam rapat tersebut, keenam kakaknya mendesak agar Putri Rindang Bulan segera menikah. Sebagai adik bungsu yang selalu hormat kepada kakak-kakaknya, Putri Serindang Bulan pun tak kuasa menolaknya. Walaupun dalam hati sebenarnya, Putri Serindang Bulan belumlah menemukan jodohnya.
Rupanya sikap Putri Serindang Bulan yang sudah lunak itu segera tersiar keseluruh penjuru wilayah kerajaan. Tentu saja banyak yang menyambutnya dengan sukacita. Terlebih anak para raja yang sudah lama memendam rasa cintanya ingin mempersunting Putri Serindang Bulan.
Tak seberapa lama kemudian, datanglah utusan dari seorang Pangeran Muda yang tampan menghadap Sang Baginda Raja Wawang. Kedatangannya tak lain bermaksud mempersunting Putri Serindang Bulan yang terkenal eloknya. Raja Wawang dan keenam kakak-kakaknya itupun segera menerima dengan penuh suka cita. Maka, segeralah disusun rencana hari bimbangnya.
Ketika dipertemukan kedua calon mempelai, tiba-tiba paras Putri Serindang Bulan yang semula cantik berubah amat buruk. Wajah dan kulit Putri Serindang Bulan telah terkena penyakit kusta yang menjijikkan. Dilihatnya wajah Putri Serindang Bulan yang amat menjijikkan itu, maka bergegaslah Pangeran Muda itu meninggalkan Balai bimbang. Utusan Pangeran Muda itupun segera membatalkan acara pernikahan, dan pulang dengan hati kecewa.
Apa hendak dikata, jikalau batang sudah berarang, itulah kenyataannya. Keluarga Raja Wawang dan keenam kakaknya pun tak dapat menyalahkan pembatalan utusan Pangeran Muda itu. kecuali hanya menanggung malu dan rasa sedih akan kejadian yang sungguh diluar jangkauan akal manusia.
Akan tetapi, tak lama kemudian setelah para utusan itu pulang, tiba-tiba penyakit kusta Putri Serindang Bulan itu hilang seketika. Wajah dan kulit yang buruk dan menjijikkan itu kini telah menjadi bersih dan cantik kembali. Raja Wawang dan keenam kakaknya menyambutnya dengan gembira. Dan kabar telah sembuhnya Putri Serindang Bulan dari penyalit kusta itu pun segera menyebar ke segala penjuru kerajaan.
Pada hari berikutnya, datanglah seorang pemuda gagah dan tampan bersama rombongannya masuk ke istana. Pemuda dan rombongannya itu segera menyatakan maksudnya untuk mempersunting Putri Serindang Bulan. Perundingan segera dilakukan, acara bimbang pun telah diserapatkan.
Suatu hari ketika kedua mempelai dipertemukan, kejadian aneh terulang kembali. Tiba-tiba wajat dan kulit Putri Serindang Bulan berubah buruk dan menjijikkan. Semua yang melihat sangat terkejut, terlebih calon mempelai laki-laki. Setelah dilihatnya seluruh wajah dan kulit Putri Serindang Bulan berubah buruk dan menjijikkan, maka berlarilah calon mempelai laki-laki itu meninggalkan Balai Panjang Istana. Demikian juga dengan rombongannya. Maka batallah rencana perkawinan Putri Serindang Bulan untuk kedua kalinya. Keluarga Raja Wawang beserta keenam kakaknya pun menanggung rasa malu yang amat besar.
Peristiwa itu sungguh luar biasa anehnya. Sebab begitu dibatalkan, tiba-tiba penyakit kusta Putri Serindang Bulan hilang seketika. Wajah dan kulitnya yang amat buruk dan menjijikkan itu telah kembali seperti semula. Bahkan wajah dan kulitnya pun tak berbekas sedikitpun. Peristiwa itu sungguh mentakjubkan banyak orang.
Peristiwa itu terus terjadi tanpa disadarinya. Jikalau dihitung, sudah ada sembilan orang yang membatalkan pernikahannya dengan Putri Serindang Bulan. Raja Wawang dan keenam kakaknya pun kian lama kian murka dibuatnya. Keenam kakaknya pun mulai menaruh curiga buruk terhadap adik bungsunya, Putri Serindang Bulan.


Dibuang Setahun
Akibat pembatalan pernikahan yang terus menerus itu, hubungan antara Putri Serindang Bulan dengan keenam kakaknya itu semakin jauh. Putri Serindang Bulan mulai dimusuhi oleh kakak-kakaknya. Bahkan ada yang berniat untuk menyingkirkannya, karena dianggap menjadi sumber petaka bagi keluarga kerajaan.
Pada suatu hari berkumpullah keenam kakaknya di sebuah ruangan istana yang dirahasiakan. Pertemuan keenam kakak-kakaknya itu membahas rencana menyingkirkan adik bungsunya. Salah satu kakaknya mengusulkan agar adik bungsunya di bawa ke hutan lalu dibunuhnya. Kemudian diusulkan pula, bahwa yang membawa si bungsu itu sebaiknya Karang Nio. Sebab, Karang Nio adalah kakak si bungsu yang kelima, yang dinilai lebih dekat dengan adik bungsunya.
Semula Karang Nio keberatan dengan usulan kakak-kakaknya yang merencanakan akan membunuh si bungsu. Tetapi karena yang lainnya menyetujui, maka Karang Nio tak dapat berbuat banyak kecuali melaksanakannya. Kemudian dibuat kesepakatan sebagai tanda bukti, bahwa Karang Nio harus membawa setabung darah si bungsu, dan bukti penigasan (irisan) bagian telinganya.
Setelah segala sesuatunya telah dipersiapkan, maka pergilah Karang Nio menemui adiknya si bungsu Putri Serindang Bulan. Kemudian diajaknya Putri Serindang Bulan pergi jalan-jalan. Putri Serindang Bulan mulanya tak menaruh curiga kepada kakaknya, tetapi setelah perjalanannya semakin jauh masuk ke hutan, perasan Putri Serindang Bulan semakin takut tak karuan.
Setibanya di tengah hutan, Karang Nio segera mengajak Putri Serindang Bulan untuk beristirahat sejenak. Disaat beristirahat itulah, Putri Serindang Bulan bertanya kepada kakaknya. “Tiadalah pernah sekali-kali kakak membawaku sampai sejauh ini. Adakah gerangan hingga kakak membawaku ketengah hutan yang amat sunyi ini?” Mendengar pertanyaan yang amat menyentuh hati itu, tiadalah Karang Nio mampu menjawab barang sepatah katapun. Bibirnya seperti terkunci rapat, hingga tak keluar suara sedikitpun dari rongga mulutnya. Dalam lubuk hati yang terdalam, Karang Nio sungguh tiada sanggup untuk membunuh adik bungsunya.
Setelah dipikirkannya masak-masak, lalu berceritalah Karang Nio kepada adik bungsunya. Dikatakannya terus terang, bahwa ia disuruh oleh kakak-kakaknya untuk membunuh Putri Serindang Bulan. Kakak-kakaknya merasa menanggung malu akibat perbuatan si bungsu. Untuk menghapus rasa malu, maka diputuskan untuk membunuh Putri Serindang Bulan di tengah hutan. Dan kelak jikalau kakak kembali harus membawa tanda buktinya, irisan sebagian dari telinganya.
Mendengar pengakuan tulus dari kakaknya itu, Putri Serindang Bulan segera menyadari akan nasibnya. Maka berkatalah Putri Serindang Bulan dengan bijaknya: “Jikalau demikian adanya, lakukanlah segera kanda. Adik serahkan sepenuhnya nyawa ini kepada kakanda.” Maka Karang Nio pun segera membalasnya, “Sungguh hati kecil kakanda tiadalah tega untuk melakukannya. Sebab, kakanda amat kasih dan sayang semata kepada adinda.”
Setelah berpikir sejenak, Karang Nio lalu memotong seekor anjing. Darah anjing itu kemudian ditempatkan pada sebuah tabung yang dibawanya. Maka berkatalah kepada adiknya; “inilah bukti yang akan aku tunjukkan kepada mereka. Oleh karena harus ada tanda bukti lain, maka izinkanlah kakanda melukai barang sedikit daun telinga sebelah belakang adinda. Kelak jikalau kita dipertemukan kembali, kakanda dapat menemukan tanda itu pada diri adinda. Sebaliknya, kakanda juga akan melukai telunjuk jari kakanda sendiri, sebagai tanda pengingat pada adinda.”
Kemudian Karang Nio mengajak Putri Serindang Bulan pergi menuju ketepian sungai keramat Ulau Deus. Karang Nio segera membuat rakit untuk melepas Putri Serindang Bulan. Setelah rakit jadi, lalu dilepaslah Putri Serindang Bulan hingga terbawa arus sungai.
Konon ceritanya setiap daerah yang dilewati Putri Serindang Bulan itu menjadi sebuah dusun. Maka jadilah sebuah dusun yang bernama Dusun Raja. Tak terasa setahun sudah Putri Serindang Bulan menyisiri sungai dengan rakitnya. Setelah sampai di sebuah muara, maka diberilah nama daerah dengan itu nama Muara Setahun ( sekarang menjadi Ketaun).
Setibanya di muara Setahun, Putri Serindang Bulan segera menaikkan rakitnya ketepian sungai. Selanjutnya Putri Serindang Bulan menaiki tebing dan membuat tempat tinggal disana. Tempat tinggal Putri Serindang Bulan diatas tebing itu, kemudian diberi nama Tepat Masat. Di tempat inilah Putri Serindang Bulan tinggal dalam waktu yang cukup lama.


Bertemu Raja Indrapura
Pada suatu ketika, ada sebuah perahu yang melewati muara sungai Setahun. Pemilik perahu itu adalah seorang raja dari Indrapura yang bernama Tuanku Raja Alam. Ketika perahu melewati muara, Tuanku Alam Raja melihat cahaya kemilau yang memancar di atas tebing. Oleh karena rasa penasarannya, maka segeralah Tuanku Raja Alam mendekati dan menaiki tebing itu.
Sesampainya di atas tebing, cahaya yang kemilau itu tiba-tiba hilang, dan yang ada hanyalah sebuah bangunan rumah. Maka segeralah Tuanku Raja Alam mendekati bangunan rumah itu, lalu mengetuk pintunya. Tak lama kemudian, muncullah Putri Serindang Bulan dari dalam rumah itu. Tuanku Raja Alam sangat terkejut melihat Putri Serindang Bulan yang memiliki paras nan elok dan jelita.
Keduanya pun saling berkenalan. Kemudian Putri Serindang Bulan menceritakan asal mula kejadiannya hingga terdampar di muara Sungai Ketahun. Mendengar penuturan kisah Putri Serindang Bulan yang amat lembut itu, Tuanku Raja Alam menjadi terharu dan kian terpikat olehnya. Tuanku Raja Alam juga menceritakan tentang kegemarannya pergi berburu kehutan-hutan, hingga akhirnya bertemu dengan Putri Serindang Bulan.
Setelah keduanya saling bercerita, Tuanku Raja Alam kemudian mengutarakan niatnya untuk membawa Putri Serindang Bulan ke istana Indrapura. Putri Serindang Bulan pun menyambutnya dengan penuh sukacita. Maka segeralah mereka berangkat menuju istana kerajaan Indrapura.


Calon Permaisuri Raja
Tak seberapa lama kemudian, tibalah rombongan Tuanku Raja Alam bersama Putri Serindang Bulan di istana kerajaan Indrapura. Maka segeralah Tuanku Raja Alam mengumpulkan para hulubalang, serta memanggil empat penghulu kerajaan untuk mengadakan kerapatan.
Di hadapan para pembesar dan empat penghulu kerajaan Indrapura, Putri Serindang Bulan segera menceritakan kembali kisah sedih hidupnya hingga akhirnya bertemu dengan Tuanku Raja Alam. Mendengar kisah hidup Putri Serindang Bulan itu, para pembesar kerajaan beserta empat penghulu menjadi terharu karenanya.
Tuanku Raja Alam kemudian menyatakan niatnya untuk mempersunting Putri Serindang Bulan. Oleh karena takut akan terjadi peristiwa yang sama, maka empat penghulu itu minta waktu tiga hari. Setelahj genap waktu tiga hari, maka menghadaplah keempat penghulu itu. mereka menyetujui perkawinanTuanku Raja Alam dengan Putri Serindang Bulan. Dan menjamin tidak akan terjadi apa-apa, karena Tuanku Raja Alam sudah mempunyai enam orang istri. Tetapi untuk terlaksananya sarana adat perkawinan itu, wali dari calon mempelai harus didatangkan. Itulah sa;ah satu syarat yang harus dilaksanakan agar perkawinan itu sah adanya. Setelah mendapat keterangan dari keempat penghulu itu, Tuanku Raja Alam pun dapat memakluminya.


Bimbang Besar
Tak seberapa lama lagi, kerajaan Indrapura akan menyelenggarakan acara pesta pernikahan antara Tuanku Raja Alam dengan Putri Serindang Bulan secara besar-besaran. Menurut adat tradisi yang berlaku di kerajaan Indrapura, pesta pernikahan secara besar-besaran itu disebut bimbang besar atau bimbang gedang.
Sesuai dengan syarat adat yang berlaku di negeri itu, calon wali mempelai wanita harus dihadirkan sebagai wali saksi. Oleh sebab itulah, Putri Serindang Bulan segera mengirim kabar kepada ayahanda dan keenam kakaknya.
Raja Wawang dan keenam kakaknya sangat terkejut mendapat kabar bahwa si bungsu Serindang Bulan masih hidup. Bahkan keluarga kerajaan merasa senang mendapat kabar Putri Serindang Bulan akan dipersunting oleh Tuanku Raja Alam dari kerajaan Indrapura. Ingin rasanya Raja Wawang menghadiri acara bimbang besar di kerajaan Indrapura.
Akan tetapi, apa hendak dikata. Maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Oleh karena usianya yang sudah lanjut, maka Raja Wawang tak dapat menghadiri acara bimbang besar putrinya. Maka Raja Wawang segera mengutus keenam anaknya (kakak-kakak Putri Serindang Bulan) untuk mewakili pernikahan si bungsu.
Pada hari yang telah disepakatkan, berangkatlah keenam kakak Putri Serindang Bulan ke negeri Indrapura. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya tibalah mereka di negeri Indrapura. Sesampainya di istana kerajaan Indrapura, mereka segera menghadap Tuanku Raja Alam. Setelah memperkenalkan diri, mereka lalu menyampaikan maksud kedatangannya. Mereka bermaksud meminta uang beleket, yaitu uang tebusan sebagai pengganti si bungsu yang akan diambil oleh Tuanku Raja Alam.
Mendengar permintaan keenam kakak Putri Serindang Bulan itu, Tuanku Raja Alam akan mengabulkan permintaan kakak beradik itu, dengan syarat mereka harus dapat mengenali Putri Serindang Bulan.
Apabila mereka masih dapat mengenali Putri Serindang Bulan, Tuanku Raja Alam akan memenuhi permintaannya, dan akan diberi berbagai macam hadiah.
Sebaliknya, jikalau tak satu pun dari mereka yang bisa menebak, maka uang beleket itu tak akan diberikan. Bahkan Tuanku Raja Alam mengancam akan menghukum mereka. Karena sudah kepalang basah, maka mereka pun menyatakan kesediaannya.
Tak seberapa lama. Tuanku Raja Alam segera memanggil tujuh wanita yang wajahnya mirip dengan Putri Serindang Bulan untuk dihadapkan kepada mereka.
Keenam kakak-beradik itupun segera mengamati satu persatu ketujuh wanita yang amat jelita parasnya. Kakak yang pertama menyerah, karena tidak dapat mengenali lagi wajah si bungsu Putri Serindang Bulan. Selanjutnya, disusul oleh kakak keduanya. Kakak keduanya juga tidak mampu mengenali lagi wajah si bungsu adiknya.
Kini giliran kakak yang ketiga. Ternyata kakak yang ketiga pun tak mengenal lagi mana adiknya yang sebenarnya. Demikian juga kakak keempat dan kelima. Keduanya sama-sama tidak mampu menebaknya. Suasanapun menjadi amat menegangkan, perjanjian sudah disepakati bersama. Jikalau tak satupun ada yang bisa menebak siapa adiknya, maka tamatlah riwayat mereka, sebab mereka akan dibunuhnya.
Kini mereka bergantung kepada Karang Nio. Ketika giliran jatuh pada Karang Nio, yaitu kakaknya yang keenam, Karang Nio tiba-tiba teringat pada peristiwa masa silam. Bahwa ia pernah memberikan sebuah tanda pada diri adiknya, yaitu dengan melukai daun telinga adiknya dibagian belakang. Maka, segeralah Karang Nio memeriksa satu-persatu daun telinga ketujuh wanita itu. ketika Karang Nio memeriksa daun telinga salah satu dari ketujuh wanita itu, ternyata diketemukan sebuah tanda. Setelah Karang Nio dapat menemukan tanda itu, maka Karang Nio semakin yakin bahwa wanita itu tidak lain adalah si bungsu Putri Serindang Bulan. Karang Nio pun segera menghadap Tuanku Raja Alam. Lalu berkata : “Tuanku Raja Alam, inilah si bungsu hamba Putri Serindang Bulan. Sebab hambalah yang memberikan tanda itu, sebelum hamba menghanyutkannya ke sungai.” Kemudian Karang Nio kembali lagi mendekati Putri Serindang Bulan, seraya berkata: ”Oi Dindaku sayang engkau seorang, kini jodoh sudah ada di depan. Tentunya, Dinda pun telah mengenali kami.” Karang Nio pun segera memperlihatkan tanda pengenal, yaitu luka yang ada pada telunjuk jarinya.
Kedua kakak beradik itupun segera berangkul melepas rasa rindu. Melihat kedua kakak beradik yang telah bertemu, maka suasana dalam istana karajaan Indrapura seketika menjadi penuh haru. Tuanku Raja Alam pun dapat memakluminya. Maka, legalah hati kakak beradik itu, karena tidak jadi dihukum oleh sang raja. Tuanku Raja Alam pun tiada jadi menghukumnya. Sebaliknya, Tuanku Raja Alam segera membayar uang jujur sebesar enam ruas bambu emas kepada masing-masing kakak beradik Putri Serindang Bulan itu.
Pesta perkawinan antara Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang Bulan pun segera diadakan. Bimbang besar telah digelar selama tujuh hari tujuh malam lamanya. Seluruh rakyat negeri itu pun turut bersuka cita menyambut acara bimbang besar. Segala perabot bimbang. Musik gong, kulintang, redap, dan gendang pun dibunyikan bertalu-talu. Tua muda, bujang dan gadis pun turut mengisi berbagai macam tarian.


Muara Urai
Usai pelaksanaan bimbang besar, keenam kakak beradik itu segera berpamitan kepada Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang Bulan. Mereka pulang dengan masing-masing membawa setabung bambu berisi emas. Tetapi sayang tabung bambu berisi emas itu jatuh di dasar laut, ketika biduk yang ditumpanginya pecah di tengah laut. Kecuali tabung bambu emas milik Karang Nio. Kemudian mereka mendarat di Serangai, dan terus berjalan menyisiri sebuah muara. Disanalah mereka saling bertikai dan berebut tabung emas milik Karang Nio yang selamat. Ketika mereka saling berebut, tabung emas milik adiknya itupun jatuh terurai. Tempat jatuhnya emas yang terurai itu, kemudian dinamakan Muara Urai. Melihat emas telah jatuh terurai, maka segeralah mereka berebut mendapatkannya. Akhirnya mereka pun mendapat bagian emas dari adiknya.
Setelah mendapatkan emas secukupnya, kemudian mereka saling berpisah. Adiknya yang keenam, yaitu Karang Nio segera menuju ke sebuah tempat yang dianggapnya aman dari segala gangguan. Akhirnya sampailah Karang Nio tiba di sebuah muara dan menetap disana. Tempat menetap Karang Nio itu kemudian diberi nama Muara Aman.


Melahirkan Anak Calon Raja
Sementara itu kehidupan Putri Serindang Bulan, tampak selalu bahagia. Meskipun raja sudah memiliki enam orang isteri, tetapi perhatian dan kasih sayangnya lebih banyak dicurahkan kepada Putri Serindang Bulan. Karena Putri Serindang Bulan adalah permaisurinya. Sedangkan yang lainnya hanyalah isteri selirnya.
Waktu terus berlalu dengan cepatnya. Jalinan kasih sayang Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang Bulan kian menunjukkan buahnya. Tak seberapa lama, maka mengandunglah Putri Serindang Bulan. Tuanku Raja Alam pun menerimanya dengan amat suka citanya. Setelah menuju kesembilan bulan lewat sepuluh hari, Putri Serindang Bulan pun akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu kemudian diberi nama Raja Bendar Panglimo Koto.
Sebagai ibu yang amat kasih dan sayang kepada anaknya, maka Putri Serindang Bulan tak henti-hentinya membuai dan menimang-nimang si kecil Raja Bendar Panglimo Koto. Walaupun sudah ada segenap inang dan dayang-dayang kerajaan yang siap mengasuh dan melayani si kecil, tetapi Putri Serindang Bulan lebih senang merawat dan mendidiknya sendiri. Oleh sebab itulah Putri Serindang Bulan tidak mau menyerahkan anaknya kepada inang dan dayang-dayangnya.
Rupanya Putri Serindang Bulan ingin sekali agar si kecil Raja Bendar Panglimo Koto kelak hingga dewasa selalu menghormati dan menghargai kedua orang tuanya. Dibawah asuhan kasih sayang ibundanya, Raja Bendar Panglimo Koto semakin tumbuh dan berkembang menjadi seoarng anak remaja dengan kepribadian yang baik.


Menjadi Raja di Ketahun
Setelah beranjak dewasa, Tuanku Raja Alam berkehendak agar Raja Panglimo Koto dapat menggantikan kedudukannya menjadi raja di Indrapura. Akan tetapi, sang anak yang telah mendapatkan pendidikan dan ajaran ibunya, tidak ingin mengharap warisan sang ayah. Raja Bendar Panglimo Koto, lebih senang jikalau dapat dengan bebas menentukan nasib jalan hidupnya sendiri.
Atas kebijaksanaan Putri Serindang Bulan, Raja Bendar Panglimo Koto kemudian disuruhnya pergi ke daerah Ketahun untuk membuat dusun. “Duhai Anakanda pujaan Bunda, jikalau Anakanda hendak merantau di negeri lain dan ingin menjadi raja di sana, maka pergilah ke Ketahun. Kelak anakanda akan menjadi raja disana. Sebab ibunda pernah tinggal berlama di sana”. Mendengar penuturan ibunya yang penuh bijaksana itu, maka semakin terbukalah tekad Raja Bendar Panglimo Koto
Pada hari yang baik, maka berpamitlah Raja Bendar Panglimo Koto kepada kedua orang tuanya. Tuanku Raja Alam pun tak kuasa menahan keinginan anaknya. Sebagai orang tua yang amat sayang kepada anaknya, tentu saja Tuanku Raja Alam tidak ingin anaknya mendapat kesulitan dijalan. Oleh sebab itulah, Tuanku Raja Alam memerintahkan hulubalang dan anak buah secukupnya untuk turut menyertai keberangkatan anaknya. Segala macam bekal keberangkatan juga telah dipersiapkan oleh Putri Serindang Bulan.
Sebelum berangkat, Putri Serindang Bulan berpesan kepada anaknya, agar kelak setelah berhasil membuat dusun disana, segera memberikan kabar ke Indrapura. Putri Serindang Bulan juga berjanji, jikalau kelak Raja Bendar Panglimo Koto telah menjadi raja disana, maka ibunya akan segera datang berkunjung.
Setelah segala macam bekal telah dipersiapkan, maka Raja Bendar Panglimo Koto segera mohon do’a restu kedua orang tuanya untuk merantau ke negeri Ketahun. Dengan disertai do’a restu oleh kedua orang tuanya, berangkatlah Raja Bendar Panglimo Koto beserta anak buahnya menuju Muara Ketahun.
Perjalanan yang amat panjang dan penuh rintangan, memerlukan semangat dan perjuangan yang keras. Dengan semangat dan perjuangan yang keras itulah pada akhirnya rombongan Raja Bendar Panglimo Koto sampai di Muara Ketahun. Sesampainya disana, kemudian ia mendirikan sebuah dusun yang diberi nama Dusun Muara Dua ( sekarang Kualalangi ). Dan dusun itu kemudian berkembang menjadi sebuah negeri yang amat subur dan makmur. Disitulah Raja Bendar Panglimo Koto memerintah rakyatnya dengan amat bijaksananya.
Sementara itu, anak buahnya yang menyertai dari negeri Indrapura disuruh menempati dusun disebelahnya, yaitu Dusun Raja. Dusun itulah yang dulu pernah disinggahi Putri Serindang Bulan ketika hanyut terbawa oleh arus sungai yang amat deras.
Sesuai dengan pesan ibundanya, maka Raja Bendar Panglimo Koto segera mengirim utusan ke negeri Indrapura untuk mengabarkan tentang keberhasilannya membangun sebuah dusun. Di damping itu, Raja Bendar Panglimo Koto juga membawakan bermacam bingkisan untuk kedua orang tuanya.
Setelah menempuh perjalanan yang amat jauh, sampailah utusan dari negeri Muara Dua itu di negeri Indrapura. Maka segera menghadap Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang Bulan. Kemudian diceritakan kabar baik tentang Raja Bendar Panglimo Koto yang kini telah menjadi raja di negeri Muara Dua. Mendengar kabar baik dari anaknya, Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang Bulan menjadi amat suka cita hatinya.


Dari Indrapura Hingga Ketahun
Putri Serindang Bulan pun teringat akan janjinya. Sebagai seroang ibu yang amat bijak dan berpegang teguh pada janjinya, maka Putri Serindang Bulan ingin segera datang ke negeri anaknya. Sebetulnya Tuanku Raja Alam berat hati jikalau isterinya itu bepergian jauh. Akan tetapi, karena sudah berpegang janji, maka sang raja tak dapat menahannya.
Pada hari yang baik, maka berpamitlah Putri Serindang Bulan kepada sang raja. Atas kebijaksanaan sang raja, Putri Serindang Bulan dikawal oleh segenap hulubalang dan anak buah secukupnya. Segala bekal untuk perjalanan telah dipersiapkan. Demikian juga dengan beberapa tabung bambu berisi emas sebagai hadiah dari raja Indrapura. Maka segeralah rombongan Putri Serindang Bulan itu berangkat meninggalkan negeri Indrapura menuju Muara Ketahun.
Konon kisah selanjutnya, sampailah Putri Serindang Bulan di sebuah pantai. Terlihat oleh Putri Serindang Bulan, ada sebuah pohon besar yang tumbuh dekat pantai itu yang berbentuk seperti muka orang. Oleh karena pohon tersebut seperti muka orang, Putri Serindang Bulan segera menyebut tempat itu dengan nama Muko-Muko. Sebelum Putri Serindang Bulan melanjutkan perjalanannya, disuruhlah anak buahnya untuk mencari sebuah sungai untuk membersihkan muka dan badannya. Kemudian ditunjukkanlah sebuah sungai yang ternyata airnya amat sedikit. Melihat air sungai yang amat sedikit itu, maka sungai itu di beri nama Sungai Air Dikit.
Perjalanan segera dilanjutkan. Setelah menempuh perjalanan yang amat berliku dan banyak rintangan, sampailah rombongan Putri Serindang Bulan di wilayah Ketahun. Putri Serindang Bulan amat terkejut ketika memasuki sebuah dusun. Ternyata kedatangannya telah lama dinanti-nantikan oleh penduduk dusun itu. Oleh Putri Serindang Bulan, dusun itu kemudian diberi nama Dusun Suka Menanti.
Setibanya di Muara Dua, Putri Serindang Bulan segera disambut dengan suka cita oleh Raja Bendar Panglimo Koto. Setelah dapat bertemu kembali, ibu dan anak itupun segera melepas kerinduannya. Konon ceritanya, Putri Serindang Bulan cukup lama tinggal di Muara Dua, karena ingin mengenang kembali kisahnya. Putri Serindang Bulan juga mengunjungi tempat-tempat yang pernah dilaluinya. Putri Serindang Bulan cukup lama tinggal di negeri anaknya, dan masih belum ingin kembali ke Indrapura. Tiba-tiba timbul perasaan rindu kepada kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya. Oleh sebab itulah, maka segeralah Putri Serindang Bulan pergi mengunjungi kedua orang tuanya serta keenam kakaknya.
Terhadap kakaknya yang keenam, yaitu Karang Nio, Putri Serindang Bulan banyak menyimpan kenangan tersendiri. Oleh sebab itulah Putri Serindang Bulan tidak dapat melupakan kebaikan hati kakak keenamnya.
Suatu hari, Putri Serindang Bulan pernah mengirimkan berbagai macam hadiah kepada anak-anaknya Karang Nio. Anak-anak Karang Nio pun menerimanya dengan suka cita. Bahkan Putri Serindang Bulan sering datang berkunjung ke tempat tinggal Karang Nio di Muara Aman.

Diceritakan kembali oleh :
Agus Setiyanto Z

Admin :
Kisah ini adalah pengembangan dari sejarah asal usul suku bangsa rejang. Cerita Putri Serindang Bulan banyak di ceritakan dalam tambo rejang, yang dipercaya dahulu benar-benar terjadi.

copy ulang dari :
http://rejang-lebong.blogspot.com/2009/02/putri-serindang-bulan.html
READ MORE - Putri Serindang Bulan

Jumat

Sastra Lisan Suku Rejang yang Nyaris Punah


Suku Rejang, yang dikenal sebagai satu di antara suku asli penduduk Bengkulu, memiliki budaya yang beragam. Ragam budaya itu meliputi tulisan, adat istiadat, hukum adat, kesenian, dan sastra. Khusus untuk sastra lisan, suku ini juga memiliki berbagai macam jenis sastra, antara lain Nandei, Geritan, Berdai, Pantun, Syair, Sambei, dan Serambeak. Jenis sastra yang disebut terakhir inilah yang lebih populer digunakan sehari-hari — baik oleh orangtua, remaja, dan anak-anak — dalam berinteraksi.
Kekayaan budaya suku Rejang, dalam pandangan seorang pemerhati masalah budaya di Bengkulu, Drs Tommy Suhaimi MSi, direfleksikan dengan banyaknya orang asing serta pejabat pemerintahan di zaman Belanda dan Inggris yang menulis dokumen tentang suku-bangsa ini. Setiap kali akan mengakhiri jabatannya di wilayah yang didiami suku Rejang, pejabat penjajahan di masa lalu itu selalu menyempatkan untuk menulis dokumen tentang suku Rejang dalam bentuk pidato pertanggungjawabannya. Dokumen ini di kemudian hari menjadi bahan kajian bagi pejabat berikutnya. Serambeak sendiri bisa diartikan sebagai pengungkapan cetusan hati nurani dengan menggunakan bahasa yang halus, indah, berirama, dan banyak menggunakan kata-kata kiasan. Menurut Tommy, yang kini menjabat Kepala bagian Humas Pemda Kodia Bengkulu, serambeak dipakai dalam bidang yang cukup luas oleh suku Rejang. Dalam kehidupan sehari-hari — waktu bermusyawarah maupun mengobrol biasa — sering disisipkan serambeak di tengah pembicaraan. Begitu juga ketika menyambut tamu yang dihormati, serta dalam rangkaian kegiatan perkawinan, dalam pergaulan muda-mudi, dan lain-lain.


Salah satu contoh serambeak yang umum adalah:
Indo ro dep i’o ba taai, ne, Indoro gung i’o ba keliuk ne
(Bagaimana bunyi rebab begitulah tarinya,bagaimana bunyi gong begitulah lenggangnya).


Maksud serambeak ini adalah bahwa sesuatu tindakan atau kegiatan seseorang hendaklah sesuai dengan situasi dan kondisinya. Serambeak juga biasa digunakan saat seseorang menasehati orang lainnya agar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru serta bergaul dengan orang lain. Demikian pula nasehat agar dalam mendidik dan menjaga anak bujang maupun gadis, para orangtua hendaklah hati-hati penuh kearifan dan bijaksana. Nilai agama haruslah ditanamkan sejak kecil. Bagi suku Rejang, tamu memiliki arti penting yang harus dihormati dan dilayani dengan baik. Oleh sebab itu serambeak khusus untuk tamu juga banyak ragammnya. Di antaranya:
Dio ade iben sapai daet, moi mbuk iben. Iben ade delambea, gambea ade decaik, pinang ade desisit, rokok ade depun. Ibennyo iben pena’ak magea suko panggea. Salang tun dumai belek moi talang. Salang tun talang belek moi sadei. Dapet kene ta’ak dengen tawea. Salang magea mendeak simeak. Arak suko padaa ngalo. Arak magea mendeak simeak. Agang magea suko panggea.
Terjemahannya kira-kira:


Ada sirih terhampai di darat, makanlah sirih. Sirih ada selembar, gambir ada secarik, pinang ada seiris, rokok ada sebatang. Sirih ini sirih penyapa untuk para tamu yang berdatangan. Sirih penyapa bukan karena membuat kesalahan, tidak pula karena membuat yang tidak baik. Sirih penyapa karena kami penuh harap, harap kepada tamu yang datang. Gembira karena memenuhi undangan. Sedangkan orang di ladang pulang ke talang, orang di talang pulang ke dusun. Semuanya diundang, rasa suka dan gembira atas kedatangan tamu semuannya. Bagi muda-mudi, kesantunan seseorang terucap dari serambeak yang disampaikan. Berikut ini contohnya:
Tun meleu diem puluk kelem. Tun titik diem beak lekok. (Orang hitam diam ditempat gelap. Orang kecil berada di lembah yang dalam).

Serambeak ini bermaksud sebagai sikap merendahkan diri bahwa ia orang yang serba kekurangan dan penuh kelemahan. Pemakainya biasa digunakan oleh remaja waktu pacaran sebagai ungkapan bahwa ia penuh kekurangan. Contoh serambeak muda-mudi lainnya:
Asai tekecep tebau nak talang. Asai tekenem bioa nak imbo. Asai mendaki munggeak mendatea. (Rasa tercicip tebu di Talang. Rasa terceminum air digunung. Rasa lega ketika tiba di tempat datar setelah mendaki tebing yang tinggi).
Serambeak ini bermakna cetusan kegembiraan ketika seseorang mendengar atau mendapatkan sesuatu yang telah lama didambakan. Biasa digunakan oleh muda-mudi ketika mendegar sang pujaan memberikan harapan-harapan yang muluk atau sesuatu yang diinginkan. Keunikan suku Rejang yang jumlahnya diperkirakan sekitar 900 ribu jiwa — mereka menghuni Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Musi Rawas (Sumsel), dan Kabupaten Lahat (Sumsel) — mampu menarik perhatian peneliti asing. Burhan Firdaus dalam bukunya Bengkulu dalam Sejarah yang diterbitkan oleh Yayasan Seni Budaya Nasional Indonesia 1988, mengungkapkan adanya seorang peneliti dari Australia Prof MA Jaspan dari Australia National University (ANU) yang menetap bersama keluarga setempat tahun 1961-1963 untuk meneliti suku bangsa Rejang. Jaspan menghasilkan beberapa buku, antara lain From Patriliny to Matriliny, Structural Change Amongst the Redjang of Soutwest Sumatra, Folk Literature of South Sumatra: Redjang Ka-ga-nga Texts, dan The Redjang Village Tribunal. Buku-buku itu sampai kini jadi bahan kajian penting bagi mahasiswa asing yang mengambil studi sejarah budaya Indonesia. Residen kedua Bengkulu, Prof Dr Hazairin SH, yang oleh pemerintah dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional pada 10 Nopember 1999, mempertahankan disertasi doktornya berjudul De Redjang untuk mendapatkan gelar PhD, dalam bidang hukum adat. Menurut Ketua Masyarakat Adat Bengkulu Zamhari Amin, serambeak membuktikan bahwa nenek moyang kita dahulu mempunyai budi bahasa, sopan santun, perasaan hati nurani yang halus, dan tatacara pergaulan yang tinggi nilainya. Oleh karena itu, sudah sewajarnya generasi muda sebagai generasi penerus mengadakan penelitian, pengumpulan, guna menggali dan menghidupkan kembali budaya yang tinggi nilainya agar diketahui dan dipelajari oleh khalayak ramai. Kalangan orangtua yang masih memahami dan menguasai dinamika kebudayaan sukubangsa Rejang, menurut Zamhari, kini sudah semakin berkurang. Mereka pada umumnya tidak meninggalkan bukti tertulis tentang seluk-beluk kebudayaan Rejang. ”Jika kondisi ini terus berlangsung, dalam lima dasawarsa mendatang, tidak hanya serambeak, tapi kebudayaan suku Rejang tidak akan diketahui lagi oleh generasi mudanya. Selain itu, orang Rejang sendiri terdistorsi oleh kebudayaan lain bahkan budaya asing,” ujarnya.

oleh:Mufti Aziz Ahmad (http://musi-rawas.go.id)
READ MORE - Sastra Lisan Suku Rejang yang Nyaris Punah

Sabtu

Sejarah Panjang Yahudi Laknatullah


Semoga bermamfaat

Bismillahirrahmaani rrahiim.

Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi, dalam wawancara dengan
TVOne mengatakan, bahwa serangan Israel ke Jalur Gaza sejak 27 Desember
lalu, adalah serangan ilegal yang telah terjadi selama puluhan tahun. Dalam
ulasan berita di MetroTV disebutkan, serangan Israel kali ini merupakan
kejadian paling buruk sejak 60 tahun terakhir (sejak Israel berdiri tahun
1948). Para mahasiswa Arab mempertanyakan posisi Liga Arab yang tidak bisa
berbuat apa-apa. Dunia internasional, termasuk negara-negara Eropa mengutuk
keras serangan Israel ke Gaza , tetapi pihak yang dikutuk terus melancarkan
serangan. Bahkan Israel telah menyiapkan tank-tank dan pasukan cadangan
sekitar 6500 orang. Targetnya jelas, seperti kata Ehud Barak, yaitu
menggulingkan Hamas.

Masalah konflik Palestina-Israel bukanlah konflik satu bangsa dengan
bangsalain. Ia adalah konflik peradaban yang usianya sangat tua. Disana terbentang
benang merah panjang, sejak konflik antara Nabi Muhammad shallallah 'alaihi
wa sallam dengan kaum Yahudi di Madinah, konflik antara Yahudi dan Romawi,
konflik antara Yahudi dengan negara-negara Eropa, konflik antara Musa dengan
Fir'aun, bahkan konflik antara Yusuf 'alaihissalam dengansaudara-saudaranya. Ujung-ujungnya adalah konflik abadi antara Allah Ta'ala
dengan iblis laknatullah 'alaih.

Kalau memahami konflik ini hanya secara lokal dan temporer, yakinlah Anda
akan tersesat dalam frustasi. Kondisi Ummat Islam di jaman modern yang penuh
kesulitan dan derita, merupakan bagian dari konflik ini. Yahudi sendiri
adalah bangsa "terkuat di dunia", dalam arti: merekalah satu-satunya ras
manusia yang berani konfrontatif melawan kehendak Allah Ta'ala.

Sejarah Kebangkitan Yahudi

Ketika melihat konflik

Palestina-Israel, kita perlu merunut kembalicatatan-catatan perjalanan sejarah di

masa lalu. Disana kita akan menemukan bahan-bahan untuk memahami peta konflik ini secara utuh. Jika tidak
demikian, maka kita hanya akan "konsumen terbaik" berita-berita media massa
seputar konflik ini. Bayangkan semua ini sudah dimulai sejak era Perang
Arab, pembakaran Masjid Aqsha, tragedi Sabra Satila, Intifadhah akhir 80-an,
tragedi Al Khalil Hebron, penembakan Muhammad Ad Durrah, pembunuhan Syaikh
Ahmad Yasin dan Abdul Aziz Rantisi, dll.. sampai serangan Israel saat ini.
Dan rata-rata model peristiwanya serupa, hanya berbeda waktu dan para
pelakunya saja.

Mari kita runut latar-belakang historis fitnah Yahudi di dunia, dengan
memohon petunjuk dan pertolongan Allah Ta'ala:

[1] Bani Israil pada dasarnya masih keturunan Ibrahim 'alaihissalam. Ibrahim
memiliki dua anak, Ismail dan Ishaq 'alaihissalam. Ismail nanti
menurunkan
keturunan bangsa Arab Adnani, lalu Ishaq mempunyai anak Ya'qub
'alaihissalam. Nah, Ya'qub inilah
yang kemudian disebut Israil, sehingga
anak-anak Ya'qub di kemudian hari disebut Bani Israil.

[2] Saat berbicara tentang Bani Israil, perhatian kita segera tertuju kepada
anak-anak Ya'qub. Mereka adalah Yusuf 'alaihissalam, Benyamin, dan 11
saudara Yusuf. Semuanya berjumlah 13 orang; sama jumlahnya dengan matahari,
bulan, dan 11 bintang yang terlihat dalam mimpi Yusuf sedang bersujud
kepadanya. Karena itu angka 13 merupakan "angka keramat" bagi Yahudi sampai
saat ini. Banyak logo-logo perusahaan top dunia dibuat dari karakter 13 ini.


[3] Secara umum, Bani Israil itu mewarisi dua sifat besar, yaitu: sifat
keshalihan dan sifat durjana. Sifat keshalihan diturunkan dari garis Yusuf
'alaihissalam. Sedangkan sifat durhaka diturunkan dari sifat saudara-saudara
Yusuf (seayah berbeda ibu). Disana
sudah tampak bakat-bakat kelicikan,
dengki, kebohongan, dan sebagainya. Tetapi itu sebatas potensi, bukan
kemutlakan takdir. Apalagi,
di akhir hayat Ya'qub, seluruh anak-anaknya
tunduk dalam agama tauhid. (Al Baqarah: 133). Saat berbicara tentang Bani
Israil, sebagian orang sangat shalih dan sebagian sangat durhaka. Namun
setelah kedatangan Islam, Bani Israil tidak diperkenankan lagi mengikuti
agama selain Islam. Jika mereka tidak masuk Islam, dianggap durhaka
seluruhnya, tidak ada toleransi sedikit pun. (Ali Imran: 85).

[4] Perjalanan sejarah Bani Israil dimulai ketika Yusuf 'alaihissalam
bersentuhan dengan peradaban Mesir. Waktu itu atas jasa Yusuf membantu
bangsa Mesir, mereka diberi lahan luas oleh penguasa Mesir di wilayah
Kan'an. Disana Ya'qub dan anak-keturunannya mulai membangun kehidupan.
Mereka memilih tinggal di Kan'an sebab dekat dengan Mesir yang makmur,
sedang di tempat asalnya sering
dilanda paceklik. Waktu itu anak keturunan
Ya'qub sangat dihormati penguasa Mesir. Entah bagaimana mulanya, hubungan
bangsa Mesir dengan anak-keturunan Ya'qub
lama-lama menjadi buruk. Alih-alih
Mesir akan menghargai jasa-jasa Yusuf di masa lalu, mereka malah menjadikan
Bani Israil sebagai budak-budak. Setelah ditinggal oleh Ya'qub dan Yusuf,
nasib Bani Israil menjadi bulan-bulanan bangsa Mesir. Hal itu bisa terjadi
karena sifat buruk Bani Israil sendiri atau sifat menindas bangsa Mesir.
Tetapi kalau mencermati sikap penguasa Mesir yang bersikap sportif kepada
Yusuf, kemungkinan hal itu karena sifat Bani Israil sendiri.

[5] Era perbudakan Bani Israil di Mesir sangat mengkhawatirkan. Bukan saja
karena perbudakan itu kejam, tetapi ia bisa menghancurkan karakter sebuah
bangsa (Bani Israil). Bayangkan, selama ratusan tahun mereka tertindas oleh
sistem tirani di Mesir. Bani Israil diberi anugerah berupa
bakat-bakat
kecerdasan besar, dan manakala bakat itu dibesarkan di bawah sistem
perbudakan, ia bisa melahirkan penyimpangan mental dan pemikiran luar biasa.
Oleh karena itu Allah Ta'ala
mendatangkan Musa dan Harun 'alaihimassalam
untuk menyelamatkan Bani Israil. Misi dakwah Musa bukan untuk mengislamkan
Fir'aun dan rakyatnya, tetapi untuk menyelamatkan Bani Israil dari
penindasan Fir'aun. Dalam Al Qur'an: Dan Musa berkata: "Hai Fir'aun,
sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib
atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak.
Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari
Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku." (Al A'raaf:
104-105). Musa tidak pernah diperintahkan untuk memerangi Fir'aun, tetapi
membawa Bani Israil tinggal di Palestina (waktu itu namanya bukan
Palestina). [Perlu dicatat juga, Fir'aun (Pharaoh) adalah
gelar raja-raja
Mesir, bukan nama seseorang. Sedangkan Fir'aun yang tenggelam di Laut Merah
bukanlah Fir'aun yang memangku Musa di waktu kecil, lalu direnggut
janggutnya oleh Musa. Fir'aun dalam Al Qur'an lebih
mencerminkan tabiat
kekuasaan tiranik, bukan sekedar pribadi].

[6] Musa berhasil membawa Bani Israil keluar dari Mesir, Fir'aun dan bala
tentaranya tenggelam di Laut Merah. Lalu mereka menetap di Ardhul Muqaddas
(Palestina) setelah berhasil mengalahkan kaum Jabbarin di dalamnya. (Al
Maa'idah: 20-26). Ini adalah peradaban mandiri Bani Israil kedua setelah era
Ya'qub dan Yusuf di wilayah Kan'aan. Musa dan Harun mendampingi Bani Israil
sampai saat mereka wafat. Ketika Musa masih hidup, Bani Israil tidak
henti-hentinya menguji kesabaran Musa 'alaihissalam. Betapa banyak
kasus-kasus kedurjanaan Bani Israil, sekalipun di hadapan Nabinya sendiri,
Musa dan Harun. Di antaranya: Mereka menyuruh Musa dan
Allah berperang di
Palestina, sedang mereka mau duduk-duduk saja; mereka meminta Musa agar
membuatkan berhala untuk disembah seperti suatu kaum tertentu; mereka
mengikuti Samiri, menyembah patung anak lembu dari emas; mereka
hendak
membunuh Harun 'alaihissalam karena selalu menasehati mereka; mereka hampir
tidak melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih sapi betina, karena
terlalu banyak bertanya; mereka bosan makan Manna wa Salwa dan meminta
bawang, menitumun, kacang adas; dan lain-lain. Begitu sabarnya Musa,
sehingga Nabi shallallah 'alaihi wa sallam pernah bersabda, "Semoga Allah
merahmati Musa, karena dia telah diganggu lebih banyak dari ini (ujian yang
menimpa Nabi), tetapi dia tetap sabar." (HR. Bukhari-Muslim) . Sangat
mengagumkan kalau melihat ketabahan perjuangan Musa 'alaihissalam. Di
dalamnya terdapat sangat banyak inspirasi untuk menghadapi konspirasi global
seperti saat ini. Orang-orang
Yahudi di jaman sekarang mengklaim mencintai
Musa, padahal di era nenek-moyang mereka, Musa benar-benar mereka
sia-siakan. Musa itu lebih dekat kepada kita (kaum Muslimin), daripada
Yahudi laknatullah itu.

[7] Saya menyangka, sifat-sifat durjana
kaum Yahudi merupakan kristalisasi
dari sifat-sifat buruk mereka selama ribuan tahun, sejak perilaku
saudara-saudara Yusuf 'alaihissalam, masa perbudakan di Mesir, kedurhakaan
mereka kepada Musa, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa, dan Nabi-nabi
lainnya 'alaihimussalam. Bahkan kedurhakaan mereka di hadapan Nabi
shallallah 'alaihi wa sallam di Madinah. Dalam Al Qur'an disebutkan sebuah
ayat yang terasa bagai petir menimpa muka kaum Yahudi: "Lalu ditimpahkanlah
kepada mereka (kaum durjana Bani Israil) nista dan kehinaan, serta mereka
mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu
mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi secara
tidak hak.
Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui
batas." (Al Baqarah: 61).

[8] Peradaban terakhir Bani Israil yang wujud di muka bumi adalah Kerajaan
Nabi Sulaiman 'alaihissalam di Palestina. Beliau adalah putra Nabi
Dawud
'alaihissalam dari salah satu isterinya. Nabi Dawud adalah seorang pejuang
yang berhasil membunuh Jalut (Goliath) di Palestina. (Oleh karena itu bangsa
Barat mengenal kisah "David and Goliath"). Beliau ikut dalam pasukan Bani
Israil di bawah pimpinan Thalut (Saul). Hal ini terjadi di masa Nabi Samuel
'alaihissalam. Al Qur'an menjelaskannya dalam Surat Al Baqarah ayat 246-251.


[9] Kerajaan Sulaiman memiliki keistimewaan, yaitu kekayaan materinya yang
sangat besar. Ia terkenal menjadi buruan manusia di dunia, sebagai harta
terpendam "King Solomon". Sampai saat ini kekayaan itu masih menjadi
misteri, apakah sudah terkuak atau masih tersembunyi
di balik permukaan
bumi? Setelah masa Kenabian Sulaiman berlalu, kerajaan Bani Israil semakin
merosot. Sampai akhirnya mereka dihancurkan oleh Nebuchadnezzar dari
Kerajaan Byzantium (Romawi). Peristiwa itu disebutkan dalam Surat Al Israa'
ayat 4-5.

[10] Setelah Bani Israil
tercerai-berai di Palestina, mereka menyebar ke
berbagai belahan dunia. Mereka pergi ke Eropa, ke Jazirah Arab, ke anak
benua India , dan sebagainya. Itulah yang kemudian dikenal dengan istilah
DIASPORA. Bani Israil tercerai-berai. Agar mendapat keamanan di Eropa,
mereka menjilat kepada para penguasa Romawi. Termasuk menghasut Romawi agar
memusuhi Isa 'alaihissalam dan para pengikutnya. Kisah Ashabul Kahfi adalah
sebagian pecahan dari para pengikut Isa Al Masih 'alaihissalam.

[11] Perilaku Yahudi di Jazirah Arab sangat menarik. Mereka datang ke
Madinah bukan hanya karena ingin menyelamatkan diri dari kekejaman Romawi.
Tetapi
mereka juga berniat menjemput Kenabian terakhir yang akan datang
setelah Musa dan Isa 'alaihimassalam. Mereka ingin "memaksakan" agar
Kenabian itu jatuh ke pangkuan mereka. Kenabian ini mereka butuhkan agar
mampu membangun kejayaan Bani Israil kembali seperti di jaman Musa dan
Sulaiman. Namun setelah mereka
menyadari bahwa Kenabian tidak lagi di pihak
mereka, tetapi jatuh ke tangan bangsa Arab, mereka marah sekali. Dalam Al
Qur'an disebutkan: "Dan ketika datang kepada mereka (Yahudi) sebuah Kitab
dari sisi Allah (Al Qur'an) yang membenarkan keberadaan apa yang ada di sisi
mereka (Taurat), padahal sebelumnya mereka selalu memohon (kedatangan Nabi)
agar dimenangkan atas orang-orang kafir. Maka ketika telah datang (Kenabian
dan Wahyu) yang sangat mereka kenal, mereka mengkafirinya. . Maka laknat
Allah atas orang-orang kafir itu (Yahudi)." (Al Baqarah: 89).

[12] Yahudi Bani Israil sangat marah ketika tahu bahwa
Kenabian jatuh ke
tangan bangsa Arab, anak keturunan Ismail 'alaihissalam. Itu pun turun di
Makkah, bukan Madinah tempat mereka tinggal disana. Yahudi telah
habis-habisan dalam menanti kedatangan Nabi penerus Musa 'alaihissalam ini.
Ratusan tahun mereka tinggal di Madinah, melebur bersama budaya Arab,
berbahasa Arab, dan memberi
nama anak-anaknya dengan istilah Arab, bukan
istilah Hebrew (Ibrani). Bahkan mereka ikut terlibat dalam konflik antara
kabilah besar Aus dan Khazraj di Madinah. Sebagian Yahudi membela Aus,
sebagian mendukung Khazraj.

[13] Kemarahan Yahudi akhirnya tertuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Yahudi marah ketika Kenabian justru jatuh ke tangan bangsa Arab. (Al
Baqarah: 90). Apalagi dalam Al Qur'an dijelaskan sangat banyak
kebusukan-kebusukan Yahudi. Yahudi merasa dibenci oleh Allah. Bahkan
tanda-tanda kekecewaan itu sudah muncul ketika Isa 'alaihissalam diturunkan.
Anda tahu
bagaimana misi Kenabian Isa? Salah satunya adalah: "Tidaklah aku
diutus, melainkan kepada domba-domba sesat dari kalangan Bani Israil."
Meskipun Isa adalah bagian dari Bani Israil, tetapi kedatangannya membuat
muram wajah kaum Yahudi. Isa ternyata membawa Kitab Suci baru, yaitu Injil
(bukan mengikuti Taurat atau Tabut dari jaman Nabi-nabi sebelumnya).
Isa
juga tidak henti-hentinya mengecam kejahatan perilaku Bani Israil. Isa
dianggap lebih dekat kepada murid-muridnya daripada ke kaum Bani Israil
sebagai sebuah etnik. Kemarahan itu semakin menjadi-jadi setelah Kenabian
terakhir jatuh ke tangan bangsa Arab. (Al Baqarah: 90).

[14] Kemudian terbukti bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad
shallallah 'alaihi wa sallam tidak hanya menyalahkan perilaku jahat kaum
Yahudi. Tetapi ia juga menyebabkan kaum Yahudi tercabut akar-akarnya dari
Jazirah Arab. Sejak Islam datang, kabilah-kabilah Yahudi tersingkir,
seperti
kabilah Nadhir, Qainuqa, Quraidhah, hingga benteng terakhir mereka di
Khaibar.

[15] Setelah mengalami kekalahan berat di masa Nabi shallallah 'alaihi wa
sallam dan Khalifah-khalifah setelahnya, kaum Yahudi menyingkir dari Jazirah
Arab. Mereka bergabung dengan Yahudi-yahudi lain di Eropa. Dalam masa
ratusan tahun Yahudi menyebar di berbagai negara Eropa,
seperti Spanyol,
Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Belgia, dan sebagainya.

[16] Kaum Yahudi dalam mengembangkan komunitas, caranya sangat unik. Mereka
tidak berbaur dengan masyarakat setempat, bahkan mengharamkan asimilasi.
Mereka memelihara warisan-warisan agamanya, terutama membangun kesombongan
etnik sampai melampaui batas. Mereka menjalankan bisnis berbasis ribawi dan
mereka melakukan ritual-ritual pengorbanan. Dalam ritual pengorbanan, mereka
membunuh warga setempat untuk dikuras darahnya, lalu dipakai untuk
persembahan. Begitu
kejamnya, sampai mereka membuat alat semacam drum yang
di dalamnya penuh dengan paku-paku. Di bagian bawah ada saluran untuk
mengalirkan darah. Orang yang dikorbankan, dimasukkan drum itu, sampai
tubuhnya penuh luka tertusuk paku, lalu darah mengucur ke bawah. Ritual
semacam ini kemudian terbongkar, sehingga Yahudi diusir dari negara-negara
tertentu di Eropa, salah satunya dari Spanyol. Spanyol
melarang Yahudi
tinggal di negerinya sampai saat ini, karena kekejaman mereka dalam soal
ritual keji itu.

[17] Setelah terusir dari Eropa, Yahudi kesekian kalinya menyebar ke
negara-negara lain yang masih mau menampung mereka. Kebetulan waktu itu
rakyat Eropa sedang mulai eksodus menuju benua Amerika yang baru ditemukan
oleh Columbus . Yahudi ikut di dalamnya. Sampai Amerika merdeka dari tangan
Inggris, Yahudi telah eksis di dalamnya. Hingga ketika itu Benyamin Franklin
mengingatkan bangsa Amerika tentang bahaya
kaum Yahudi. Dia menyebut Yahudi
seperti bangsa "vampire" yang tidak bisa damai dengan bangsa lain. Tepat
sekali ucapan Benyamin Franklin, sebab dia telah membaca sepak terjang
Yahudi di Eropa. Namun sayang, bangsa Amerika tidak memahami arti peringatan
Benyamin Franklin tersebut, sehingga apa yang dia takutkan sekitar 400 tahun
silam, benar-benar terjadi. Krisis finansial di Amerika saat ini adalah
akibat nyata dari
sistem ekonomi ribawi Yahudi.

[18] Satu titik sejarah yang jarang diperhatikan oleh para ahli sejarah,
yaitu kedatangan Yahudi ke wilayah Turki Utsmani. Kejadian ini terpisah
jarak sekitar 700 atau 800 tahun sejak era Nabi shallallah 'alaihi wa
sallam. Tentu setelah masa selama itu, peristiwa kejahatan Yahudi di Madinah
telah dilupakan. Yahudi diterima dengan tangan hangat di tengah-tengah
masyarakat Turki Utsmani. Hal ini juga merupakan aplikasi dari ajaran Islam
yang memperbolehkan di
dalamnya orang Yahudi dan Nashrani tinggal, selama
mereka membayar jizyah. Yahudi tidak dianiaya di negeri ini, mereka diberi
pelayanan dan penghormatan, layaknya warga negara Islam. Tentu saja, Yahudi
berusaha "bersikap sopan". Di seluruh dunia tidak ada yang memperlakukan
mereka dengan manusiawi, selain Peradaban Islam. Disini Yahudi tidak mungkin
akan melakukan ritual pengorbanan yang mengerikan itu. Lagi pula, Yahudi
waktu itu tinggal di
bawah negeri Islam. Mereka tidak takut akan dikutuk
oleh Allah, sebab negeri Islam menjadi pelindung mereka. Di Turki Utsmani,
Yahudi tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan bejat mereka. Yahudi berlaku
baik. Tanpa diduga, ternyata disinilah Yahudi mempersiapkan segala
konsep-konsep kejahatan global mereka. Kemurahan Khilafah Islam justru
dimanfaatkan Yahudi untuk mempersiapkan imperium kejahatan di seluruh dunia,
seperti kita saksikan saat ini.

[19] Selain mengkhianati
Khilafah Islam, Yahudi juga mempersiapkan beberapa
jurus maut untuk meruntuhkan peradaban Islam, yaitu:

(a) Yahudi menyebarkan guru sebanyak-banyaknya di tengah masyarakat Turki
Utsmani. Guru-guru itu tidak menyebarkan prinsip-prinspi kekafiran secara
langsung, tetapi menyebarkan filsafat humanisme August Comte. Dengan
falsafah itu diharapkan anak-anak Turki akan kehilangan sifat furqan akidah
Islam, lalu diganti sifat-sifat kemanusiaan saja. Tujuan dari
gerakan ini
adalah memisahkan generasi muda Turki dari sifat-sifat Islami. Karena itu
pula, suatu saat generasi muda Turki hilang rasa hormatnya kepada Sultan
Khilafah Islam, dan mereka mau mendukung gerakan Kemal At Taturk sang
terkutuk.

(b) Yahudi mendorong bangkitnya ideologi Nasionalisme Arab dan Dunia Islam.
Dengan ideologi itu tidak ada lagi kesatuan Khilafah Islamiyyah. Kaum
Muslimin terpecah-belah dalam berbagai bangsa yang egois sesuai
etnik dan
wilayahnya. Jika Khilafah Islamiyyah tetap berdiri, mustahil "Kerajaan
Yahudi" dalam wujud Israel di Palestina akan bangkit. Kalau Anda saksikan
bangsa Arab terpecah-belah menjadi negara-negara kecil, masing-masing saling
konflik. Hal itu adalah kondisi yang diinginkan oleh Yahudi. Di jaman itu
Jalaluddin Al Afghani sangat aktif berdiplomasi untuk memerdekakan
negara-negara Arab dari tangan penjajah. Tetapi di kemudian hari terbuka
hasil-hasil penelitian bahwa Al Afghani
adalah anggota setia Freemasonry.
(Salah satunya buku terbitan WAMI tentang gerakan-gerakan pemikiran
keagamaan di dunia). Peranan Al Afghani seperti memperkuat sifat
Nasionalisme Arab, agar tidak bangkit lagi Khilafah Islamiyyah.

(c) Sebagai ganti konsep Khilafah Islamiyyah, Yahudi menyebarkan paham
demokrasi seluas-luasnya di seluruh dunia, termasuk di negeri-negeri Islam.
Paham ini semakin mempersulit posisi Ummat Islam.
Peluang-peluang
kebangkitan semakin tipis, sebab demokrasi mengikuti suara terbanyak,
sedangkan sebagian besar manusia cenderung mengikuti hawa nafsunya.

(d) Yahudi menggerakkan seluruh mesin-mesin politiknya, termasuk
agen-agennya di Amerika, Eropa, dan Timur Tengah untuk membidani lahirnya
negara Israel pada tahun 1948. Secara politik, Inggris berada di balik
pendirian Israel melalui Deklarasi Balfour. Tetapi secara potensial, Amerika
mendukung penuh Israel . Dalam diplomasi internasional, isu
Holocaust
dipakai agar Yahudi dikasihani dunia internasional. Melalui hak veto yang
dimiliki Amerika dan Inggris di PBB, Yahudi bisa lenggang kangkung mengejar
ambisi-ambisinya.

(e) Yahudi menyempurnakan usahanya, dengan menguasai media massa , membuat
satuan intelijen yang handal (Mossad), menguasai pasar keuangan dunia,
memiliki lembaga pusat ribawi IMF dan World Bank. Mereka juga menguasai
Hollywood ,
dunia akademis, dunia riset, fashion, dan sebagainya. Termasuk
dengan merilis agama baru di kalangan Ummat Islam, yang kita kenal sebagai
SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) . Inilah kenyataan yang
kemudian disebut sebagai: "Yahudi menggenggam dunia!" Bahkan negara sekuat
Amerika pun bertekuk lutut di bawah dominasi Yahudi. Termasuk Barack Obama
yang dilantik menjadi Presiden Amerika.

[20] Berdirinya Israel tahun 1948 adalah impian besar Yahudi sejak jaman
Musa, Dawud, Sulaiman, bahkan jaman Nabi
Muhammad shallallah 'alaihi wa
sallam. Yahudi sangat membutuhkan "Kerajaan Bani Israil" untuk mengalahkan
orang-orang kafir. Mereka sebenarnya beriman kepada Allah, dalam arti mereka
percaya bahwa datangnya seorang Nabi akan membuat mereka mulia, dan
musuh-musuhnya dari kalangan orang kafir terkalahkan. Tetapi setelah jelas
di mata mereka bahwa Kenabian terkahir itu bukan untuk Bani Israil,
maka
mereka tidak lagi menanti kedatangan seorang Nabi. Lalu apa yang mereka
lakukan? Mereka hendak mendirikan "Kerajaan Bani Israil" dengan kekuatan
tangan, otak, dan uang mereka sendiri. Dan hal itu berhasil, tahun 1948
lalu. Lebih buruk lagi, mereka menganggap kaum Muslimin sebagai orang kafir.
Padahal yang mengingkari Kenabian Rasulullah adalah mereka, sehingga disebut
kafir dalam Surat Al Baqarah ayat 89.

[21] Sebelum Yahudi memutuskan mendirikan negara di Palestina, waktu itu ada
tiga pilihan tempat: Palestina, Argentina, atau Ethiopia
. Mengapa dipilih
tiga negara ini? Jelas mereka telah melakukan perhitungan yang sangat
cermat. Namun pilihan akhirnya jatuh ke Palestina, yang dekat dengan
sumber-sumber peradaban Yahudi sendiri di Yerusalem dan sekitarnya. Namun
resikonya, disini akan menghadapi banyak tantangan dari negara-negara
tetangganya yang mayoritas Muslim. Untuk itu jelas Yahudi
harus
mempersiapkan segala macam kekuatan, termasuk mendidik agen-agen loyalisnya
di negara-negara Arab.

[22] Sebuah pertanyaan menarik, mengapa selama puluhan tahun terjadi konflik
berdarah di Palestina dan tidak selesai-selesai? Jawabnya, selain karena
memang "Kerajaan Bani Israil" merupakan cita-cita peradaban Yahudi sejak
ribuan tahun lalu; juga karena banyaknya tangan-tangan non Yahudi yang
membantu negara tersebut. PBB, Amerika, Inggris, Rusia, IMF, World Bank,
dll. jelas mengabdi kepentingan Yahudi. Tetapi harus juga disadari banyak
agen-agen Yahudi yang tersebar di
negara-negara Arab. Mereka setiap hari,
siang dan malam menyembah kepentingan Yahudi. Mereka adalah orang-orang
kafir, meskipun KTP-nya Islam. Di Mesir, Yordan , Syria , Turki, dll. banyak
orang yang identitasnya Muslim, tetapi hatinya telah menjadi Yahudi. Bahkan
di negara-negara kaya seperti UEA, Qatar , Bahrain , dll. banyak
dijumpai
kemegahan jahiliyyah, yang sebenarnya merupakan hasil konspirasi Yahudi
untuk menjauhkan Arab dari Islam. Kota seperti Dubai , Abu Dhabi , dan
lainnya tidak kalah liberalnya dari kota-kota di Barat.

[23] Dapat disimpulkan, kaum Yahudi itu bukan para pemeluk agama Samawi
(ajaran Ya'qub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa
'alaihimussalam) . Mereka adalah orang-orang yang sangat arogan dengan
etnisnya. Hakikat agama Yahudi adalah: pemujaan terhadap etnis mereka
sendiri! Tidak ada satu pun ras manusia yang sangat ekstrim dalam soal
etnis, selain Yahudi. Begitu ekstrimnya sampai
mereka berani menghina Allah,
marah ketika Isa membawa ajaran Injil, marah ketika Kenabian terakhir jatuh
ke tangan bangsa Arab. Mereka menulis "kitab suci" tandingan bagi Taurat
(Talmud), menyebut bangsa non Yahudi sebagai Ghaiyim, merusak kehidupan di
muka bumi. Mereka merasa mulia sebagai pewaris
"darah biru" Nabi-nabi,
merasa diunggulkan atas semua ras manusia, pernah disumpah langsung oleh
Allah dengan diangkat bukit Tursina di atasnya, dan lain-lain. Yahudi
benar-benar mewarisi ideologi arogansi dari makhluk yang pernah mendebat
Allah Ta'ala: "Ana khairun minhu, khalaqtani min naarin wa khalaqtahu min
thiin" (aku lebih baik dari dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia
Engkau ciptakan dari tanah). Pemerintah Yahudi, baik di Israel maupun di
dunia internasional, adalah perwujudan dari imperium arogansi. Wajar jika
simbol-simbol yang selalu mereka angkat selalu bernuansa satanic. Contoh,
logo yang dipakai Manchester United
(MU) saat ini the red devil. Dan ada
ribuan logo atau lambang yang intinya memuja arogansi iblis laknatullah.

Yahudi Merusak Peradaban

Andai ambisi Yahudi satu-satunya adalah ingin membentuk "Kerajaan Bani
Israil" seperti di masa Musa, Dawud, Sulaiman, apa susahnya
membangun negara
seperti itu? Toh, mereka memiliki uang banyak, strategi canggih, serta SDM
handal. Tidak sulit bagi Yahudi membangun negara di sebuah sudut dunia.
Selama ini banyak negara-negara berdiri dengan modal lebih buruk dari Israel
. Negara seperti Bosnia , Chechnya , Kamboja , Myanmar , Timor Leste, dan
lainnya tidak memiliki persiapan semegah milik Yahudi. Lagi pula, mengapa
Israel harus mendirikan negara di Tanah Al Quds yang merupakan wilayah milik
Ummat Islam? Bahkan ia didirikan di jantung peradaban Islam, di Timur
Tengah.

Andai Yahudi sudah tidak menemukan solusi lain, selain harus menegakkan
"Kerajaan Bani Israil" di Palestina, mengapa
mereka harus juga menghancurkan
peradaban manusia di dunia? Mengapa Yahudi tidak cukup menempuh cara-cara
politik atau militer, tanpa harus menghancurkan peradaban manusia? Kenyataan
yang sangat menyakitkan, berdirinya Israel ditempuh bukan hanya
dengan
menteror warga Muslim Palestina, tetapi juga dengan menyebarkan kehancuran
peradaban di seluruh muka bumi. Lihatlah di dunia selama ini, adakah yang
selamat dari film Hollywood, media massa Yahudi, bank ribawi, IMF dan World
Bank, pornografi, seks bebas, prostitusi, narkoba, perjudian, dan lainnya?
Hingga ke anak-anak balita pun, banyak "diracuni" oleh kartun-kartun Walt
Disney.

Ternyata, di luar persangkaan kita semua, Yahudi justru sangat mempercayai
khabar Al Qur'an. Sebenarnya, mereka mengimani ayat-ayat Al Qur'an, tetapi
anehnya mereka bersikap konfrontatif terhadap Al Qur'an. Yahudi sangat
mengerti ayat-ayat dalam Surat Al Israa' berikut ini:

Dan telah Kami
tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya
kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan
menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar."

Maka apabila datang saat hukuman bagi
(kejahatan) pertama dari kedua
(kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai
kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah
ketetapan yang pasti terlaksana.

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan
Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu
kelompok yang lebih besar.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan
jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. Dan
apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan
orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam
Masjid itu (Al
Aqsha), sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali
pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.
( Surat Al Israa': 4-7).

Kehancuran pertama Yahudi terjadi saat
sisa-sisa Kerajaan Sulaiman
dihancurkan oleh Nebuchadnezzar, sehingga bangsa Yahudi tercerai-berai.
Adapun setelah kehancuran pertama ini, mereka akan menjadi kuat dan bisa
mengalahkan musuh-musuhnya. Hal itu terjadi saat sekarang ini, ketika
"Yahudi menggenggam dunia". Dan nanti di puncak kezhalimannya, Israel akan
dihancurkan sebagaimana sisa Kerajaan Sulaiman dulu dihancurkan.
Pertanyaannya, mengapa kehancuran kedua itu tidak dihitung saat Yahudi
dihancurkan oleh Spanyol atau NAZI Jerman? Jawabnya sederhana, sebab waktu
itu Yahudi belum memiliki wilayah sendiri. Mereka masih numpang di negeri
orang. Adapun saat ini Yahudi sudah bermukim di suatu (Palestina) tempat
sebagaimana Kerajaan Sulaiman dulu.

Yahudi sebenarnya
mengimani "jadwal sejarah" sebagaimana disebutkan Al
Qur'an di atas. Mereka yakin, dirinya akan diberi kesempatan untuk
merajalela di muka bumi. Hal itu terbukti sebagaimana kenyataan
saat ini.
Hingga Mahathir Muhammad mengecam dominasi Yahudi, dengan mengatakan bahwa 6
juta Yahudi bisa mengendalikan 6 miliar manusia di dunia. Yahudi tidak
merasa cukup dengan hanya mendirikan Israel , bahkan tidak cukup dengan
menempuh jalur politik, mereka benar-benar ingin merajalela di bumi dengan
segala kedurhakaannya.

Lalu siapa yang ingin dilawan Yahudi? Mereka tidak sekedar ingin melawan
Muslim Palestina, Hamas atau Syaikh Ahmad Yasin, dunia Arab dan Ummat Islam
sedunia, atau segala peradaban manusia. Tetapi mereka ingin melawan Allah
Ta'ala dengan segala kekuatan yang mereka miliki. Yahudi adalah satu-satunya
ras manusia yang berani menghina Allah dengan ucapan mereka: "Tangan Allah
terbelenggu. " Kemudian mereka dikutuk oleh Allah
karena perkataannya itu.
(Al Maa'idah: 64). Mereka pula yang berani mengatakan, "Sesungguhnya Allah
itu fakir dan kami kaya raya." (Ali Imran: 131). Disini ada
dendam sejarah
yang amat sangat parah di hati kaum Yahudi terhadap eksistensi agama Allah.

Aneh memang, Yahudi mengimani khabar Al Qur'an, tetapi sekaligus menentang
eksistensi agama Allah (Islam). Sifat mereka persis iblis yang mengimani
Allah, tetapi mendurhakai- Nya. Untuk merealisasikan maksudnya, Yahudi
mengangkat simbol "Messiah", yang pada hakikatnya adalah dajjal laknatullah.
Dajjal disebutkan oleh Nabi sebagai fitnah terbesar bagi orang-orang
beriman.

Maka janganlah heran dengan kezhaliman Yahudi saat ini di Palestina. Ia
adalah sebagian penampakan atau konsekuensi dari dendam sejarah mereka.
Awalnya, Bani Israil hanyalah sebuah kaum dengan perilaku tertentu.
Perjalanan sejarah mereka yang sangat panjang melahirkan watak durjana luar
biasa. Dan ternyata,
watak Bani Israil itu "telah disiapkan" untuk menjadi
cobaan di akhir jaman. Dulu para ahli tafsir merasa heran, mengapa A
Qur'an
banyak sekali bicara tentang Yahudi? Padahal setelah tercerai-berai di
Madinah, mereka nyaris lenyap (mungkin karena eksodus keluar dari
negeri-negeri Islam). Karena itu sebaik-baik usaha untuk melawan Yahudi
adalah memahami sifat-sifat mereka dalam Al Qur'an (khususnya Surat Al
Baqarah). Dan satu lagi, yakinlah bahwa serangan Israel ke Gaza bukan
serangan terakhir mereka. Itu hanya delay sebelum go with new aggression!

Wallahu a'lam bisshawaab.

READ MORE - Sejarah Panjang Yahudi Laknatullah

Tempung Ngenyan Ngen Semanten (Prosesi Pernikahan dan Pemberian amanat ke Pengantin cara adat Rejang)


Posted by D.tutandi Indra ( Andy ) Radio Four 106’7 Curup

Ngenyan ngen penganten Mikeak ngen melei fetweak Sebelum agama islam masuk kedaerah tanah rejang,peresmian pernikahan sebagaiberikut: Untuk melaksanakan pernikahan (kemtuk) terlebih dahulu oleh alim pedito atau dukun (gustei/piawang) memperhitungkan menurut secara kuno hari baik, bulan baik, baru dapat di laksanakan peresmian.Pada hari peresmiannya piawang berdiri diatas tangga menghadap ke halaman, kedua penganten tegak tehadapan gustei,juga menghadap ke halaman,kedua orang tua penganten berdiri kiri kanan.persiapan alat-alatnya berada di sebelah gustei.(beras kunyit,air dalam bambu,jeruk nipis,setawar sedingin,rotan panjang 2 meter,induk ayam lagi sedang mengeram,telur ayam sebiji,petik,bakul siri adat,perasapan mengembul asapnya,kain tenun selembar.Dihalaman tegak berdiri tua-tua,sanak famili,bujang gadis,cerdik pandai alim pedito, laki-laki perempuan menghadap ketempat kedua penganten.Piawang mulai membakar kemenyan serta mantra-manteranya,dengan didahului menceritakan asal usul manusia sejak dari nabi adam dan hawa sampai turun ke bumi,menguraikan pula soal-soal adat lembaga.

Dukun/ piawang muloi mbigo menepung, si kemeliak ketekeracok dik ade, jibeak sapei kuang. Amen si sisip lak nadeak, amen si kuang lak si tanembeak. Amen bik genep, mako piawang/ dukun tempung semanten ngen ngenyan, cakto ne:
1. Muloi mengecek minai redho Allah Subhanawata’ala, kerno lak tempung semanten ngen ngenyan.
2. Mbem kemnyen madeak keturuak magea pengetuwai, magea arwah guau. Magea walei semilan Diwo 7 (tojoak), madeak keturuak magea mulo jijai, lajeu kulo madeak/ jemuriak baso neak lem menok medeu yo nano. Adat ca’o ne ade; iben, bungai, punjung monok bi’ing. Wakteu mbem kemnyen o lajeu ba si masep langea, masep setabea. Asep kemnyen nelayang, belas kenunik nambua, ngut sudo kecek ne.
3. Amen mbem kemnyen bik sudo, lajeu ba dukun/ piawang madeak kecek menepung sa’ei ne:
BISMILLAHIRROHMANIRRAHIM ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLAHI WABARAKATUH TEPUNG SETABIK NGEN BUMAI LENGET, SETABIK NGEN LUWENG KELMEN, SETABIK NGEN MULO JIJAI, SETABIK NGEN TANEAK TANAI, SETABIK NGEN DIWO TOJOAK WALEI SEMILAN, SETABIK NGEN PESIREAK ULAU LUREAK, SETABIK NGEN KUTAI SADEI YO, BILAI YO BILAI BETUWEAK BAIK BULEN, KUMU DEW YO KEMLEAK TITIK DUWAI YO JE BESANDING MADEP ITE. Eeeeee……… KE SO KEMIPI SETAWAR, SETEPUNG DIWO KUNDEI LENGET SELIBAR PAYUNG, TEPUNG DUATE SERAPANG REMAS, TEPUNG DIWO SERAMBUT PANJANG, TEPUNG DIWO SETANGGAI PANJANG, TEPUNG DUATE SERAMBUT REMAS, KUSA KUNDEI BINGIN KUNING SUSANG, TEPUNG DIWO NUMBELAS TALEN, TEPUNG DIWO MATAI BILAI, TEKO TEMPUNG. KEDUWAI SEMATEN NGEN NGENYAN, UDI SEMATEN NGEN NGENYAN BARAT SPINDE KACI, PUTIAK TE’US BEPATIK ATI, IJO KUNING AGAI NE NATI, MILEAK MELEU ATI NEAK DI. ANJUK ALANG SERTO MANAT, LEPOK KU AGAI PEGONG KEDONG BILAI, LEPOK KU PATIK DALEN MOI BAIK, UNJUK JANJAI TENEGOK SUPEAK SEMAYO MEKET LAHIR BATIN JANJAI IDUP SEMATEI, SETIO MBEAK BUBEAK, BELEKET MBEAK MAEP BELEK, NIKEAK MBEAK MAIN-MAIN, GONG MANAT JIBEAK MUKER JANJAI SEMAYO BESAMO, BAIK ADEP, SA’O BASO, TITIK NUSIK, LAI NBASO DE TUAI NEGO. KE DUWAI, LOK BA DE KLOK DE KELALOK, DEPEMICANG DE PEMANEW, DEKEMBUK DEPEMANGEN, TEGO SAMO MEDAKI, MENUNGAS SAMO-SAMO TIMBOA, TENDEM SAMO-SAMO TEBENEI APAI, MONOT SAMO-SAMO MUSUNG, PICANG SAMO JA’ANG, MELUPAT SAMO KE’UAK, MENGINDOI SAMO-SAMO SESET, TAWAI SAMO-SAMO TEKARAK KE TELAU, LOK BA UDI NAMEN TAI UJEN PENES PEMAIN BILAI, SENANG PESET PEMBIN IDUP, ANGIN NGEN UMBOK PEMBIN LAUT, LOK BA NAMEN TAI TANGIS IDUP NGEN TANGIS MATEI, LOK BA NAMEN TAI BIDUK KEMUDAI DUWAI, LOK BA NAMEN TAI LAI PASOK KUNDEI TIANG, LOK BA NAMEN TAI TAJAI BEKENEK, BIYOA MATAI TUUN, LOK BA NAMEN TAI TEMPOK BIYOA NAK DULANG, LOK BA NAMEN TAI LENGAN TANGEN, JELAS PEMICANG, LOK BA NAMEN TAI TIDUA NEAK KASUA LISEAK, TIDUA NEAK KLAK POONG, LOK BA NAMEN SEBNEK BNEK MATAI MANDANG BNEK KUNDEI BAU MUSUNG. KE PAT, MBEAK MECUT KUDO MENGACAP, MBEAK SMILAI LAUT, MBEAK CEMICIK GEROMBONG TEDUNG, MBEAK KEMAIT PAING DIK AKO, MBEAK BEPANEU LUWEA DALEN, MBEAK BESULUAK TEKELAT TEI, MBEAK BETANEM SOA TEMBANG BANIA, MBEAK MUKUS TELAN NGEN DAWEN, MBEAK MENGIKAK NGEN TIKUS MBEM TUOA, MBEAK UMEAK TIGING TEMTOK TIANG. KE LEMO, MBEAK UDI TEMTOK TILAI PENAN BEGATUNG, MBEAK KEMAPOK DAN TENINGIA, REMBOK GABOK MBEAK UDI MATIAK, RAMBOK GETTING UDI MUTUS SEMBEAK, BUK NICIK TUJUAK TENINGGEA KUNE GEN DALEN UDI MENGULANG APEI. KE ENUM, DIO UNJUK KU, PETUWEAK SERTO MANAT, UNJUK KU SULUAK PEMANEU KELMEN, UNJUK KU SENYATAI PEGONG KEDONG BILAI, UNJUK KU PETUWEAK MBEAK SALEAK LAKEAK, UNJUK MANAT BAGAI SERIAT. KE TUJUAK, KUTE ITE SEDAYO DIK RAPEK, JANO IGAI DIK TUWAI BIK DAU NIDEP NGEN PENGELIAK, KALAU MBEAK ADE KEDONG BILAI ITE TEDENONG TEKELIAK ADE DIK RUCUAK, MBEAK MUJO EKET NE PUTUS PENGA ‘ANG, RENYENG NE COA SUDO SU’ ANG, AMEN ADE BIDUK NE KELBAU, MBEAK MUNYAU, RENYENG NE COA SUDO SU ‘ANG, BIDUK COA NAM KELBAU DETOK-DETOK. KE DELAPEN, AMEN ADE KEDONG BILAI MUPOK UDI KEDUWAI SEMATEN, TELANGGEA PETIK SALEAK SU’ANG, KAGEA GACANG SADO DIK TUWAI, KINO LANGIA NGEN IDAU JAPAI. MAAF KUTE SEDAYO DIK RAPEK, UKU PELON PENYAYO SADO DIK TUWAI, SERTO SEMAPEI PENGINGET KUNDEI PENGETUWAI, MULO JIJAI, NGEN KEPIUAK KEPITING NE, KESUMBING MBAR UJUNG ASEP, ROYOT UJUNG TILAI, SINDANG UJUNG PAKOA, MLANG JIJAI ANOK UBET ATEI…… ALHAMDULILLAHIRABBIL ‘ALAMIN………. WASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLAHI WABARAKATUH

Setelah prosesi wejangan menepung,piawang meminta kepada orang tua dan sanak famili dari pengantin pria serta wanita untuk melangir dan setelah itu setawar sedingin sebagai penutup dari prosesi tersebut. Sumber : • Buku Ireak Ca’o Kutei Jang 2004,Kadirman .SH • Buku Asal mula Adat Bimbang di Tanah Rejang1954.A.Sani

copy ulang dr curupkami

READ MORE - Tempung Ngenyan Ngen Semanten (Prosesi Pernikahan dan Pemberian amanat ke Pengantin cara adat Rejang)

Jumat

Legau Serdam - Lagu Seruling - Legenda terjadinya Kawah Gunung Kaba


Oleh Tun Jang

Cerita Rakyat Rejang

Dalam sebuah dusun di Renah Sekelawi ada seorang pemuda bernama Sutan Indah. Ayahnya bernama Ratu Panjang, seorang kepala dusun yang di segani dan dihormati oleh rakyatnya.

Sutan Indah sangat pemalas. Ia tidak pernah membantu ayahnya berkerja di sawah dan di ladang. Oleh sebab itu ia tidak diacuhkan oleh ayahnya, meskipun ia adalah anak tunggal. Hanya kepada ibunya sajalah Sutan Indah berani mengadu. Ayahnya sibuk dengan sawah dan ladang serta sibuk memikirkan kesejahteraan kampungnya.

Setiap hari Sutan indah menelusuri tebing sungai memperhatikan ikan-ikan yang berenang dalam air. Ia duduk di atas batu, memperhatikan burung-burung meloncat dari dahan ke dahan di atas ranting dan di dalam semak belukar di sekelilingnya. Ia mengamati tupai jantan dan betina bergelut di batang bambu, yang ujung daunnya menjuntai menyapu air yang deras dan mengalir di sela batu-batu. Kalau hari terasa panas Sutan Indah terjun ke dalam air berenang ke sana ke mari, sambil bersiul kecil dengan lagunya sendiri.

Pada suatu hari, ketika Sutan Indah sedang berjalan-jalan di pinggir sungai, ia melihat sepotong bambu hanyut dibawa arus. Anehnya di atas bambu sebesar telunjuk itu, bertengger seekor burung camar. Dengan tidak di sangka, bambu itu menepi sendiri dan mendekat ke Sutan Indah. Lebih aneh lagi, burung camar tidak mau terbang. Sutan Indah berusaha memungut bambu itu dan juga burung camar yang jinak tersebut lalu dibawanya pulang.

Pada mulanya Sutan Indah bermimpi. Dalam mimpinya ia didatangi oleh seorang bidadari yang sangat cantik dan berkata, "Sutan Indah, buatlah olehmu sebuah serdam (bahasa rejang = seruling) dari bambu yang kau dapati dari sungai kemarin, sedangkan burung itu disembelih dan tanakkan minyaknya. Minyaknya kau lumurkan pada serdammu itu, keringkan selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Aku ingin sekali mendengar bunyi serdammu itu Sutan Indah".

Sutan Indah terjaga dari tidurnya, dan berusaha mengingat mimpinya itu.

Keesokan harinya dibuatnyalah sebuah serdam dari bambu yang didapatinya di sungai kemarin itu.

Tiga hari lamanya ia membuat serdam itu, dengan berhati-hati sekali jangan sampai pecah atau retak sedikitpun. Burung camar penyerta bambu tersebut dipotongnya, lalu dimasak dan diambil minyaknya. Minyak burung tersebut digosok-gosokkannya pada serdam yang baru selesai dibuatnya itu. Empat puluh hari dan empat puluh malam serdamnya dianginkan, sesuai petunjuk bidadari dalam mimpinya itu.

Kiranya bambu itulah yang disebut orang buluh perindu, dan rupanya kehendak Tuhan, buluh perinda itu dapat saja melawan arus sungai atau disebut orang hanyut ke hulu. Demikian kesaktian buluh perindu itu, menurut cerita orang-orang tua, apabila buluh perindu itu ditiup, maka suaranya sampai ke kayangan.

Setelah empat puluh hari kemudian, Sutan Indah mencoba serdamnya. Maka timbullah bermacam-macam lagu yang menyayat hati. Ketika orang sedang bekerja, terdengar alunan serdam Sutan Indah, maka berhentilah mereka bekerja, terpukau ketika mendengarnya. Pendeknya, siapa yang mendengar himbauan serdam Sutan Indah terlenalah ia dari pekerjaannya, sampai kepada ibu-ibu yang sedang memasak di dapur berhenti bekerja, sehingga hanguslah nasi tanakannya. Para gadis remaja yang sedang menjaga jemuran padi, lalu termenung, dan tidak diketahui mereka bahwa padinya hampir habis dimakan ayam dan itik.

Orang banyak bertanya-tanya, dari manakah asal bunyi serdam seperti itu. Belum pernah mereka mendengar bunyi serdam seindah itu. Akhirnya orang mengetahui serdam itu adalah milik Sutan Indah anak Ratu Panjang yang tunggal itu.

Lama kelamaan setiap orang yang mendengar bunyi serdam Sutan Indah, terbengkalailah pekerjaannya. Kalau mendengar bunyi serdam itu di malam hari terjagalah mereka dari tidurnya, terutama para bujang dan dara, timbul rasa birahi satu dengan lainnya, berkhayal sepanjang malam, gelisah tak tentu perasaan, mabuk dalam asmara. Hal ini menjengkelkan orang tua Sutan Indah. Berapa kali ayahnya melarang Sutan Indah meniup serdam itu, tetapi tidak dipedulikannya. Ketika sampai pada puncak kemarahannya, lalu diusirnyalah Sutan Indah. Dengan berat hati Sutan Indah mengkahkan kakinya pada malam itu juga, tanpa setahu ibunya.

Pergilah Sutan Indah meninggalkan kampung halamannya, kedua orang tuanya, sanak saudaranya. Pergilah ia dengan serdam buluh perindunya, mengembara menurut langkah kakinya. Kadang-kadang naik bukit turun bukit, kadang-kadang menuruti aliran sungai yang ditemuinya. Kalau terasa penat kakinya, berhentilah ia di bawah naungan pohon-pohonan. Sebelum memejamkan matanya, ditiupmya dahulu serdamnya. Mengalunlah lagu-lagu sedih yang memilukan hati, siapa yang mendengarnya. Alunan serdam Sutan Indah, kiranya terdengar juga sampai kayangan, dibawa angin lalu, sehingga termenunglah para bidadari, dan ada yang ingin turun ke bumi.

Dalam pengembaraan Sutan Indah, tibalah ia di suatu tempat di sebuah bukit. Berhentilah ia di bawah sebuah pohon yang rindang daunnya. Kiranya Sutan Indah berada di kaki sebuah bukit yang merupakan kaki langit alam kayangan. Disitu sering turun para bidadari kalau akan ke bumi, dan juga tempat bermain-main setiap bulan terang. Bukit ini dijaga oleh seorang peri yang sedang beranak bayi. Setiap hari sang peri ini pergi ke kebun di lereng bukit itu. Malam hari barulah berada di pondoknya kembali. Selama ia pergi ke kebunnya,bayinya selalu di jaga oleh seorang bidadari yang diutus dari kayangan secara bergiliran. Hari itu yang menjaga bayi sang peri adalah giliran Krikam Manis yang sangat cantik rupanya, jika dibandingkan dengan yang lain. Ketika ia menjaga bayi sang peri, terdengarlah olehnya bunyi serdam Sutan Indah. Termenunglah ia ketika itu dan ingin sekali melihat siapa peniupnya. Katanya dalam hati, "Apakah ini yang disebut orang tuanya bulu perindu". Dengan tidak disangka saat itu, terlepaslah sang bayi dari pangkuannya, jatuh ke dalam jurang bukit itu. Dari dalam jurang itu keluarlah api yang besar menandakan kemarahan dewata, ditambah bau angit karena daging bayi yang terbakar.

Setelah menyadari hal ini, bingunglah Krikam Manis dan timbullah takutnya. Sudah pasti kalau sang peri kembali nanti malam, ia akan dibunuh. Kalau kembali ke kayangan, sudah tentu akan menerima hukuman yang berat. Larilah ia dari tempat itu jauh-jauh, menuju kebawah, kearah mana suara serdam yang menyebabkan malapetaka itu.

Bunyi serdam makin lama makin jelas kedengaran olehnya. Sampailah ia di suatu tempat dekat sebatang kayu besar lagi rimbun daunnya. Tampaklah olehnya seorang pemuda sedang duduk dibawahnya sedang meniup serdam.

Ketika Krikam Manis berada di depan pemuda itu, yang tak lain dari Sutan Indah yang terusir itu, Sutan Indah sangat tercengang melihat Krikam Manis yang sangat cantik itu. Ia merasa tidak percaya kepada apa yang dilihatnya, bahwa seorang gadik berada di tengah hutan, yang belum pernah didatangi manusia. Ia teringat pula akan mimpinya pada waktu ia mendapatkan bambu hanyut dahulu. Ia membandingkan wajah putri dalam mimpinya, sama dengan wajah gadik yang berada di hadapannya itu. Setelah lama saling berpandangan itu, berkatalah Sutan Indah, "Siapa kamu ini wahai putri? Mengapa berada di sini? Siapa temanmu, apakah kamu seorang diri?". Krikam Manis menjawab, "Aku adalah seorang bidadari penjaga anak peri penunggu bukit ini. Aku lari kesini karena aku telah menjatuhkan anaknya, karena aku lengah ketika mendengar bunyi suara bulu perindu. Mungkinkah bulu perindu itu adalah buluh perindu yang engkau pegang itu?"

"Benar tuan putri. Kalau begitu akan kubuang serdam ini".
"Jangan tuanku. Aku senang mendengarnya. Coba tuanku lagukan sebuah lagu untuk menghibur ketakutanku ini".
"Jangankan sebuah lagu, lebih dari itu aku akan melagukannya".

Akhirnya kedua makhluk itu bersahabat, pergi bersama-sama menurut kehendak langkah kaki mereka. Krikam Manis merasa seperti mendapat perlindungan dari seorang jejaka. Demikian Sutan Indah dapat melupakan kesedihannya berpisah dari kedua orang tua dan kampung halamannya. Sutan Indah berjanji akan melindungi Krikan Manis, dari segala bahaya.

Selama pergaulan mereka, dan selama pengembaraan mereka, tak tentu arah tujuan, belum terlukis dan terlintas perasaan aneh dalam diri Sutan Indah. Tetapi sebaliknya, Krikam Manis telah mempunyai rasa simpati yang mendalam, bahkan lebih dari itu, sebagai naluri seorang gadis yang telah memiliki jiwa kemanusiaan, dan sudah melepaskan diri dari alam kedewaan. Dunia ini dirasakannya indah sekali selama berdampingan dengan Sutan Indah yang gagah lagi tampan itu. Terlebih lagi kalau Sutan Indah telah bersenandung dengan buluh perindunya itu. Tenang dan damai rasa di hati Krikam Manis. Hilang segala ketakutan dan kecemasan, kesedihan dan kerinduan akan alam kayangan yang telah ditinggalkannya.

Akhirnya mereka sampai pada suatu tempat, disebuah batu yang agak lebar. Di situlah mereka berhenti dan duduk beristirahat. Tak jauh dari tempat itu terdapat mata air yang panas dan dihilirnya terdapat pula dua muara sungai yang lubuknya agak dalam. Disitulah Krikam Manis menyejukkan badannya.

Sutan Indah mulai meniup serdamnya. Dari lagu ke lagu, yang sulit diartikan oleh orang biasa, merupakan untaian isi hatinya. Krikam Manis merasakan arti tiupan bulu perindu Sutan Indah itu. Tak dapat ia ungkapkan dengan kata-katanya, hanya lewat pandangan matanya tertuju kepada Sutan Indah, seolah olah mengharapkan perngertian Sutan Indah. "Marilah kita ciptakan dunia ini seindah mungkin". Bisik hati Krikam Manis.Kiranya Sutan Indah demikian pula halnya. Tetapi ia belum sanggup dan belum berani melahirkan isi hatinya yang sudah lama terpendam, sejak pertemuannya yang pertama sesuai pula dengan impianya dahulu. Kadang-kadang ia terkenang kepada ibunya yang ia tinggalkan pada malam hari keberangkatannya dari rumah. Ia tidak sempat berpamit kepada ibunya. Kadang-kadang terasa ingin pulang menjenguk ibunya sebentar. Bagaiaman Krikam Manis? Tak mungkin dibawanya serta. Ia takut kepada ayahnya yang mungkin masih dendam kepadanya. Berkatalah ia kepada Krikam Manis pada suatu malam yang indah,"Adinda Krikam, aku senang sekali menyaksikan kedua benda di atas langit pada malam ini. Yang satu bulan yang satu lagi bintang yang sangat terang itu.Bila kulihat kedua benda itu, aku rindu sekali kepada sang bulan dan aku cinta sekali kepada sang bintang itu".

"Apa maksud kakanda Sutan terhadap kedua benda itu. Siapa yang bulan siapa yang bintang yang paling terang itu?".
"Ada kau dengar lagu dalam serdamku itu Krikam?".
"Betul kakanda".
"Nah adinda. Aku merindukan ibuku, yang kutinggalkan beberapa bulan lalu. Dan aku cinta kepadamu adinda Krikam". Kemudian berkata kembali Sutan Indah dengan lemah lembut,"Adinda Krikam, jika adinda izinkan aku akan menemui ibuku sebentar, untuk menyampaikan berita gembira ini kepada ibu, bahwa aku akan segera menyuntingmu adinda. Aku bukan tak ingin membawamu serta, tetapi aku takut kalau ayahku yang bengis itu lebih marah lagi kepadaku dan kepada kita berdua. Aku sayang sekali kepadamu, jadi lebih baik adinda tinggal di sini sebentar. Pondok ini sudah cukup kuat bagimu untuk berlindung dari gangguan binatang buas". Krikam tidak berkata sepatah pun.

Keesokan harinya, Sutan Indah berangkat menuju kampungnya. Tinggallah Krikam Manis seorang diri.

Setelah sampai di kampungnya, bertemulah Sutan Indah dengan ibunya. Ibunya sangat gembira sekali, apalagi setelah mendengar cerita Sutan Indah, bahwa ia akan menyunting seorang bidadari dari Kayangan. Demikian pula ayahnya, sudah tidak marah lagi kepada Sutan Indah yang telah kembali itu. Terlebih lagi setelah mengetahui bahwa Sutan Indah telah beristri. Malah disesalkannya sekali mengapa Krikam Manis tidak di bawah sekali.

Malam itu juga ayah Sutan Indah mengerahkan orang kampung untuk menjemput Krikam Manis. Gajah mena tela disiapkannya. Obor dinyalakan. Sebanyak empat puluh orang penjemput Krikam Manis.

Ibu Sutan Indah ikut juga, didampingi Sutan Indah. Ayahnya berada di depan sekali mengepalai rombongan.

Ketika ayam berkokok, tibalah rombongan di hutan dekat pondok Krikam Manis. Krikam terkejut sekali melihat nyala obor yang banyak sekali. Dari jauh terlihat olehnya rombongan orang yang banyak itu. Timbul takutnya, apalagi melihat orang yang di depan sekali sudah tua dan besar badannya serta membawa golok.

Krikam tidak melihat Sutan Indah, karena Sutan Indah masih berada di belakang rombongan, karena sedang tertatih-tatih memapah ibunya.

Krikam Manis menyangka oranga banyai itu akan berbuat jahat kepadanya dan mungkin pula ayah Sutan Indah yang akan menghukumnya. Demikian pula dikiranya bahwa Sutan Indah telah dihukum lebih dahulu oleh ayahnya. Dengan tidak berpikir panjang lagi melompatlah Krikam Manis dari pondoknya melarikan diri ke dalam hutan menerobos kegelapan malam.

Rombongan sampai di pondok Krikam Manis, tetapi ia tidak ditemui lagi. Yang tinggal hanyalah secarik perca bekas sobekan selendang Krikam Manis yang tersangkut di pintu pondok, sebagai tanda bukti kebenaran Sutan Indah akan kata-katanya. Semua penjemput merasa kecewa, apalagi Sutan Indah yang merasakannya. Rombongan kembali ke kampung pagi itu. Sutan Indah pergi pula tak menentu arahnya, untuk mencari Krikam Manis.

Disuatu tempat di dataran tinggi yang luas, Sutan Indah berhenti di bawah sebatang pohon yang rindang. Tak disadarinya serdam diangkatnya ke atas bibirnya, sambil airmatanya berlinang-linang, mengalunkan rangkaian lagu kesedihan bercampur kekecewaan dan kepatahan hati
Berhari hari lamanya.

"do legau alau moi das lenget,
duai legau ngan Ratu Panjang
tlau legau ngan Krikam Manis . . . ."

Lagu pertama ini ku persembahkan ke atas langit, untuk para dewa, keluarga Krikam Manis dengarlah. . . .

Lagu kedua kusampaikan kepada ibuku dan bapakku Ratu Panjang, dan

Lagu ketiga untukmu sayang, dimana saja kau berada, dengarlah. . . . dengarlah. . . .

Demikianlah hingga saat ini bila kita mendengar serdam di malam hari, teringat akan kisah Sutan Indah anak tunggal Ratu Panjang, bernasib malang. Hingga saat ini nasib Sutan Indah tiada diketahui lagi.

Hanya tinggal legendanya saja berupa bukit Kaba yang berkawah (Gunung Kaba dengan kawah aktip di puncaknya). Kawahnya terjadi karena telah menelan anak Peri yang terjatuh dari pangkuan Krikam Manis.

Suban air panas beserta kedua muara sungai di hilirnya adalah tempat peristirahatan Sutan Indah dan Krikam Manis yang sedang dalam kegembiraanya dahulu.

Dan menurut cerita pula, dataran bukit Seblat sebelah utara merupakan perhentian terakhir pengembaraan Sutan Indah


Reference:
Proyek Penerbitan dan Pencatatan Kebudayaan Daerah.
Informan Ibnu Hajar (48th -1981), desa Muara Aman.

Di tulis oleh Tun Jang

oleh : taneak jang

READ MORE - Legau Serdam - Lagu Seruling - Legenda terjadinya Kawah Gunung Kaba

Suku Rejang adalah salah satu suku tertua di pulau sumatera.Suku ini menempati daerah Lebong,Rejang Lebong,Bengkulu Utara,Kepahiang dan sebagian menyebar ke wilayah Propinsi Sumatera Selatan.Suku Rejang ini merupakan suku terbesar di propinsi Bengkulu,INDONESIA.-

Komentar Anda







Mengenai Saya

Anton
Mahasiswa Universitas Al-azhar Republik Arab Mesir
Lihat profil lengkapku

ANTARA - Peristiwa

ANTARA - Mancanegara

 

ANTARA - Berita Terkini

Pengikut

Copyright © 2009 by KUTAI TOPOS JURUKALANG
Themes : Magazine Style by Anton